Kota Surakarta, Jawa Tengah akan segera memiliki tempat wisata baru, sebagimana bekas kantor perwakilan Bank Indonesia (BI) di kota ini sedang dalam tahap pengubahan menjadi museum.

"Transformasi dan renovasi akan selesai pada akhir tahun, dan akan mulai terbuka untuk umum pada Januari 2019," kata Walikota Surakarta FX Hadi Rudyatmo pada hari Selasa.

Sebuah bangunan warisan bergaya bangunan Eropa, dibangun pada tahun 1867 yang dulunya berfungsi sebagai kantor untuk De Javasche Bank Agentschap Soerakarta.

Terletak di Jl. Jenderal Soedirman, gedung ini berdiri di dekat kantor pos utama, balai kota Surakarta, Benteng Vastenburg, dan gedung BI yang baru.

Bangunan baru gedung BI Surakarta | Sumber: Flickr
Bangunan baru gedung BI Surakarta | Sumber: Flickr

Menurut Rudy, rencana untuk mengubah bangunan menjadi museum muncul pada tahun 2015, diikuti oleh fase konservasi dan lelang untuk jasa desain interior.

“Seperti museum pada umumnya, gedung tersebut juga akan menjadi sarana untuk pendidikan. Gedung ini akan melengkapi situs wisata sejarah lainnya di Surakarta, ”kata Rudy. Museum ini berencana untuk memamerkan koleksi mata uang yang dikeluarkan oleh De Javasche Bank, seperti seri wayang dari mata uang Gulden Hindia Belanda.

Bandoe Widiarto, perwakilan BI Surakarta, mengatakan pariwisata memiliki efek berganda yang besar dalam meningkatkan ekonomi daerah. "Ada potensi wisata yang menjanjikan di Surakarta, terutama di sisi sejarah dan budaya," tambahnya.

Proses pemugaran gedung lama BI Surakarta | Sumber: Kembdikbud.go.id
Proses pemugaran gedung lama BI Surakarta | Sumber: Kembdikbud.go.id

Bandoe menambahkan bahwa eksterior bangunan dipugar pada tahun 2012. Tiga tahun kemudian, ketika gagasan mengubahnya menjadi museum sudah berubah status menjadi rencana resmi, restorasi interior mengikuti. Total biaya yang diperlukan mencapai Rp 9 miliar dan dibiayai oleh BI pusat.

“Ketiga lantai di gedung ini akan berfungsi sebagai museum, yang terdiri dari galeri, perpustakaan, dan ruang pertemuan. Pengunjung juga akan mendapatkan kesempatan untuk melihat mesin cetak uang antik dan arsitektur bangunan, yang berusia lebih dari 100 tahun, ”kata Bandoe.


Sumber: Jakarta Post

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu