Indonesia CG Heroes, Berkumpulnya Animator Indonesia Kelas Dunia

Indonesia CG Heroes, Berkumpulnya Animator Indonesia Kelas Dunia

Poster acara Indonesia CG Heroes © Dok. GNFI

Kamu mengikuti film-film di dunia The Avengers? Kamu sudah nonton Ready Player One? Atau kamu sangat menggemari video gim bertema sinematik?

Di acara Indonesia CG Heroes, para animator di balik mulusnya grafis film-film dan gim tersebut berkumpul. Bertempat di Sinarmas Land BSD City, empat orang animator kenamaan Indonesia menceritakan pengalamannya berkecimpung di industri animasi kelas dunia.

Talkshow ini diselenggarakan oleh Bengkel Animasi, sebuah tempat menimba ilmu bagi mereka yang ingin mempelajari bagaimana caranya menjadi animator andal. Pada Sabtu (10/11) lalu, acara yang diadakan bertepatan dengan Hari Pahlawan ini sukses menyedot banyak penonton.

Ada empat pembicara di Indonesia CG Heroes. Mereka adalah Ronny Gani pendiri Bengkel Animasi dan senior animator di The Avengers: Infinity War, Denny Ertanto CG Compositor di film War of The Planet of The Apes, Kevin Herjuno 3D generalist di video gim sinematik, dan Rini Sugianto senior animator di film Ready Player One.

Ronny Gani | Dok. GNFI
Ronny Gani | Dok. GNFI

Ronny Gani: Dari salah jurusan sampai jadi animator kenamaan

Pembicara pertama yang tampil di panggung adalah Ronny Gani. Dengan setelan kaos, rompi, dan celana jins, pria berambut ikal itu menceritakan perjalanannya menjadi animator di film-film Hollywood.

Perjuangan Ronny tidak mudah. Ia yang menempuh pendidikan di jurusan arsitektur Universitas Indonesia, awalnya kesulitan mendapat akses menggapai cita-citanya sebagai animator. Teknologi menjadi kendala terbesar saat itu, karena di tahun 2005 belum ada komputer berspesifikasi tinggi untuk membuat animasi.

Namun kegigihan Ronny akhirnya membuahkan hasil. Dengan segala upaya seperti memakai perangkat dengan RAM 512 MB, Ronny sukses meniti karier hingga akhirnya masuk LucasFilm. Di sana, ia dipercaya menggarap Star Wars: The Clone Wars selama tiga season pada 2008-2011.

Ronny juga mengungkapkan bekerja di industri animasi itu minim apresiasi penonton. “Kalau animasinya semakin bagus, penonton bisa tidak sadar kalau itu buatan komputer. Tapi kalau animasinya jelek, langsung animatornya yang disalahkan,” ucapnya sambil tertawa.

Denny Ertanto | Dok. GNFI
Denny Ertanto | Dok. GNFI

Denny Ertanto: Keindahan dalam kerumitan digital compositor

Kalian tentu pernah menonton film dengan teknik pengambilan gambar di depan kaca, bukan? Anehnya, di adegan itu tak ada refleksi kamera atau kru film, padahal tidak mungkin kaca tidak menampilkan refleksi obyek-obyek di depannya. Untuk mengakalinya, itulah salah satu tugas digital compositor.

Garis besarnya, tanggung jawab Denny Ertanto adalah memberikan efek visual agar film tampak nyata. Beragam layering diterapkan, untuk memunculkan kesan bahwa adegan di film-film itu bukan buatan, walau sebenarnya diperagakan di studio dengan bantuan green screen.

Contoh pekerjaan Denny diantaranya adalah membuat latar pemandangan planet Mars di film The Martian, membuat tangan palsu Dr. Strange saat menyerahkan Time Stone ke Thanos (maaf yaa kalau spoiler, hehe), dan mendesain pesawat yang ditumpangi Tom Cruise di film Oblivion.

“Tugas digital compositor itu untuk mengakali tempat. Misalnya shooting film The Martian, kita tidak mungkin ke Mars beneran, jadi kita bikin latar pemandangan di sana dengan animasi,” terangnya.

Kevin Herjono: Ahlinya animasi di video gim sinematik

Beberapa video gim ada yang menonjolkan sisi sinematiknya. Pemain tidak hanya sekadar memainkan gim dan menamatkan, tapi juga bisa mengikuti alur ceritanya. Itulah video gim sinematik, dan Kevin Herjono sangat ahli di bidang tersebut.

Sebagai 3D generalist, beragam judul gim telah ia buatkan gambar sinematiknya. Contohnya Lawbreakers, The Elder Scrolls III: Morrowind, HALO Wars 2, dan Shadow of War yang merupakan video gim sinematik dari film The Lord of The Rings.

Bagaimana, Kawan GNFI? Apakah diantara kalian ada yang pernah memainkan gim-gim itu? Kalau iya, jangan lupa beri apresiasi pada Kevin Herjono, ya!

Rini Sugianto | Dok. GNFI
Rini Sugianto | Dok. GNFI

Rini Sugianto: Pantang menyerah demi animasi yang indah

Pembicara terakhir di Indonesia CG Heroes adalah Rini Sugianto. Perempuan yang sudah kenyang asam garam di dunia animasi internasional ini menceritakan pahit manisnya bekerja sebagai character animator film-film ternama Hollywood.

Rini menceritakan pengalamannya bekerja di trilogi The Hobbit. Sebagai prekuel dari trilogi The Lord of The Rings, The Hobbit adalah proyek sangat besar dengan proses pengerjaan yang sangat memakan waktu. Saat itu, jam kerja para kru film bisa mencapai 100 jam per minggu.

“Kami (kru film) bahkan sempat mengambil rehat serentak selama 15-20 menit. Itu sengaja dilakukan untuk menyegarkan pikiran, agar tidak jenuh dengan pekerjaan,” ucap senior Denny Ertanto itu.

Tapi tidak semua proyek Rini seberat itu. Ada pula yang menyenangkan seperti Ted 2, Ready Player One, Teenage Mutant Ninja Turtles (TMNT) atau Kura-kura ninja bahasa Indonesianya, dan The Hunger Games: Catching Fire.

***

Dok. GNFI
Dok. GNFI

Para CG animator menjadi orang-orang tanpa tanda jasa dalam dunia animasi, baik perfilman maupun gim video. Mereka kalah sorotan dari para pemeran utama yang berkilauan cahaya lampu sorot, tapi dengan lapang dada tetap totalitas menyelesaikan pekerjaannya.

Satu adegan animasi di film yang biasanya berdurasi 30 detik sampai 1 menit, bisa memakan waktu pengerjaan 3-4 bulan. Selama itu pula mereka terus berkutat di scene yang sama, seperti yang dikatakan Denny Ertanto.

“Selama enam bulan saya mengerjakan sala satu komposisi di adegan film Oblivion, dan selama enam bulan itu pula saya terus memandang wajah Tom Cruise.”

Sungguh pekerjaan luar biasa yang telah mereka lakukan. Mari Kawan GNFI, kita berikan apresiasi dan tepuk tangan meriah untuk keempat animator ini dan animator-animator lainnya, yang telah memperindah nama Indonesia di mata dunia!


Sumber: Dokumentasi GNFI

Pilih BanggaBangga33%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau67%

Artikel ini dibuat oleh Tim Redaksi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Sociopreneur Indonesia Asah Empati melalui Empathy Project 2018 di desa Sembulang, Batam Sebelummnya

Sociopreneur Indonesia Asah Empati melalui Empathy Project 2018 di desa Sembulang, Batam

Mitos Larangan Mengonsumsi Ikan Lele di Lamongan Selanjutnya

Mitos Larangan Mengonsumsi Ikan Lele di Lamongan

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.