Sang Maestro Tari Indonesia Raih Penghargaan Dari Pemerintah Perancis

Sang Maestro Tari Indonesia Raih Penghargaan Dari Pemerintah Perancis
info gambar utama

Indonesian dancer Maria Darmaningsih was awarded the badge of Chevalier dans l’Ordre des Arts et Lettres (Knight of the Order of Arts and Letters) on Saturday at the Salihara Gallery in Jakarta.

Penari asal Indonesia Maria Darmaningsih dianugerahi lencana Chevalier dans l’Ordre des Arts et Lettres (Kesatria Order of Arts and Letters) pada hari Sabtu di Galeri Salihara di Jakarta.

Penghargaan kehormatan seni dan sastra ini diberikan oleh pemerintah Perancis kepada orang-orang Indonesia yang telah berkontribusi pada dunia seni dan memainkan peran dalam memperkuat hubungan antara Perancis dan Indonesia.

 Maria Darmaningsih (kiri kedua), dengan Nungki Kusumastuti (kanan kedua) dan Melina Surjadewi (kiri), berbicara setelah diberikan lencana Chevalier dan l’Ordre des Arts et Lettres oleh Duta Besar Prancis untuk Indonesia Jean-Charles Berthonnet. (IFI Indonesia / File)
info gambar

Penerima penghargaan ini sebelumnya termasuk penyanyi Anggun (2005), aktris Christine Hakim (1991), cendekiawan Adjie Damais (2015), sutradara film Garin Nugroho (2016), dan artis Sunaryo (2017).

Duta Besar Prancis untuk Indonesia dan Timor Leste Jean-Charles Berthonnet menyerahkan lencana tersebut kepada Maria pada hari Sabtu. Penyematan lencana tersebut bertepatan dengan penutupan Festival Tari Indonesia (Indonesia Dance Festival - IDF) ke-14, yang dimulai pada tahun 1992 oleh Maria dan beberapa orang lainnya.

IDF adalah festival tari tahunan yang mendorong munculnya koreografer muda berbakat sementara juga menampilkan karya-karya koreografer terkemuka. Tahun ini, penari dan koreografer dari delapan negara, yaitu Indonesia, Meksiko, Perancis, India, Jerman, Australia, Korea Selatan, dan Singapura, turut berpartisipasi.

Penari Maria Darmaningsih Raih Penghargaan dari Pemerintah Prancis | Foto: IFI Jakarta
Penari Maria Darmaningsih Raih Penghargaan dari Pemerintah Prancis | Foto: IFI Jakarta

Maria Darmaningsih memulai karirnya di dunia tari tradisional Indonesia pada tahun 1980 dan terus menunjukkan konsistensi sebagai pemain, koreografer, guru, dan penyelenggara festival tari. Dia telah tampil dan mengajar di berbagai acara tari asing, termasuk Biennale de Danse yang bergengsi di Lyon, Perancis, pada tahun 2010.

Beberapa karya koreografi Maria selama karirnya adalah Langen Kusuma Warasthra (Yogyakarta, 1979), Bedaya Dewabrata (Jakarta, 1987), Ruwatan (Belanda, 1996), dan The Lotus Blossom (Kanada, 2000)


Sumber: Jakarta Post

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini