Sebuah festival yang bertujuan untuk membuka ruang kontribusi bagi publik dan mengajak masyarakat biasa untuk bisa ikut berkontribusi bagi anak-anak di Indonesia Timur, khususnya Papua. Festival Puncak Papua diselenggarakan agar anak-anak di Indonesia Timur dapat terus merasakan pendidikan. Festival Puncak Papua ini diadakan di Gelora Bung Karno Gate 4-5 dari Sabtu, 1 Desember 2018 hingga Minggu,2 Desember 2018.

Dalam Festival Puncak Papua ada beberapa wahana yang disediakan yaitu Dapur Mama, Bakar Batu dan Pendakian Yamin. Dari tiga wahana yang disajikan itu ada masing-masing tujuan khusus dalam setiap permainan. Wahana Dapur Mama, pengunjung  diajak untuk membuat media belajar baca, tulis, hitung (calistung) untuk anak-anak usia sekolah dasar.

Selain Dapur Mama, ada wahana lain yang terdapat dalam Festival Puncak Papua yaitu Pendakian Puncak Yamin. Dalam wahana Pendakian Puncak Yamin pengunjung diajak untuk membuat puzzle yang bertemakan kebudayaan nusantara. Tak ketinggalan pula, wahana Bakar Batu yang mengajak pengunjung mengemas buku-buku yang akan dikirimkan bagi anak-anak.

“Hasilnya, nanti akan kami kirimkan ke daerah Pegunungan Bintang, Kepulauan Yapen, dan Fak-Fak,” jelas Divika Nur Fadhilah selaku Koordinator Festival Puncak Papua yang diwawancarai GNFI.

Selain wahana yang disediakan, terdapat pula penampilan dari para pelawak tunggal, diantaranya Mumu dan Fariz Kamal. Ada juga pengisi acara lainnya seperti Teater Mardika, Kelana Kata, Savasvara Band, dan masih banyak lainnya. Festival Puncak Papua juga menghadirkan Pendaki Puncak Yamin dari Wanadri sebagai narasumber dalam talk show yang diadakan dalam Festival Puncak Papua.

Dalam talk show tersebut beberapa pendaki ekspedisi Puncak Yamin bercerita mengenai pengalaman mereka saat mendaki. “Pendakian ke Gunung Yamin ini merupakan lifetime achievement untuk saya,” tutur Muhammad Raihan, komandan logistik dalam tim pendakian dari Wanadri.

Lifetime achievement karena untuk bisa mendaki Gunung Yamin kesempatannya sangat kecil,” lanjutnya,”untuk bisa melakukan pendakian ini juga merupakan suatu kehormatan bagi saya.”  

Aulia Prasetio -anggota tim lainnya- menambahkan, dalam pendakian banyak tantangan yang dihadapi, seperti perbedaan vegetasi dan bebatuan yang ditemukan saat berada di ketinggian.

Selain keadaan vegetasi yang berbeda, kendala bahasa juga dihadapi tim saat harus berinteraksi dengan warga setempat. “Dalam komunikasi kita susah, tapi manusia punya bahasa universal jadi kita bisa komunikasi dari hati ke hati” tutur Raihan.

Secara keseluruhan, Festival Puncak Papua hasil kolaborasi Indonesia Mengajar dan Wanadri ini diharapkan bisa memantik semangat masyarakat luas untuk terus berkontribusi dalam dunia pendidikan Indonesia. Disamping itu, masyarakat bisa ikut menjelajahi dan mengenal Indonesia lebih jauh lagi.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu