Orang-orang berdiri sembari melingkari sebilah bambu yang tertancap di hamparan pasir putih Pantai Pulau Ay, Maluku Tengah.

Sambil menunduk, mereka mengamini doa penutupan ritual Sasi Laut yang dibarengi dengan suara deburan ombak, yang dipimpin langsung oleh tokoh Kristen setempat, Malok Gimsel.

Beberapa jam sebelumnya, rupanya warga Pulau Ay juga memanjatkan doa untuk memohon keselamatan sebagai pembukaan ritual yang dipimpin Ustadz Abu Bakar. Bahkan terlihat Gubernur Maluku beserta jajarannya berada di barisan depan lingkaran.

Di belakang pejabat dan para tokoh masyarakat, tampak perempuan berkerudung, lelaki berpeci hitam, dan orang-orang mengenakan kain putih di kepala. Siang itu, baik warga Islam ataupun Kristen berbaur tanpa sekat satu sama lain. Mereka mengamini doa yang dipimpin oleh dua tokoh agama yang berbeda.

Sasi Laut di Pulau Ay | Sumber dok: TERASMALUKU.COM
Sasi Laut di Pulau Ay | Sumber dok: TERASMALUKU.COM

Menurut salah seorang warga Pulau Ay, seperti yang tertulis dalam Kumparan, mengaku bahwa mereka telah terbiasa hidup berdampingan secara damai.

Sasi Laut diketahui merupakan upacara adat masyarakat Ay untuk meneguhkan larangan mengambil ikan dan tumbuhan laut tertentu. Hal ini dilakukan guna melestarikan dan menjaga populasinya. Kearifan lokal tersebut telah dijaga secara turun temurun. Mereka pun selalu menyambut tradisi itu dengan sukacita.

Semua persiapan upacara digarap secara gotong royong. Laki-laki Kristen umumnya bertugas mengambil kayu di hutan. Sementara ibu-ibu Muslim menyiapkan makanan di kampung-kampung.

Bagi warga Ay, merawat dan memupuk persaudaraan antar umat beragama di daerahnya, sama pentingnya dengan menjaga negeri atau desa. Bahkan tak hanya persoalan urusan upacara adat saja kekompakan itu terjalin, dalam membangun tempat ibadah baik masjid atau gereja, warga Ay selalu saling bantu secara sukarela.

Kerukunan Antar Umat di Pulau Ay | Sumber dok: Kumparan.com
Kerukunan Antar Umat di Pulau Ay | Sumber dok: Kumparan.com

Diketahui bahwa persaudaraan antar umat beda agama di Pulau Ay tak lekang oleh waktu. Konflik komunal berkepanjangan di 1999 bahkan tak menggerus persaudaraan yang telah meresap di masing-masing masyarakat.

Menariknya, ketika konflik dan provokasi merembet hingga ke Pulau Ay, warga Muslim di sana justru kompak melindungi warga Kristen.

Tak hanya itu, tradisi berbagi kue di hari-hari perayaan layaknya Lebaran dan Natal rupanya telah menjadi agenda yang dipelihara. Kondisi tersebut terus berlanjut guna memupuk toleransi dan menjaga persaudaraan. Sebab bagi mereka tak perbedaan, yang ada ialah persaudaraan.

Wah, semoga kawan GNFI suatu saat bisa berkunjung langsung ke Pulau Ay, ya.

Jaga dan rawat terus semangat persatuan dengan budaya toleransi.

Indonesia bisa!


Sumber: Kumparan

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu