Bandung yang Kreatif dan Tantangan di Masa Depan

Bandung yang Kreatif dan Tantangan di Masa Depan

Alun-alun Bandung © Nuroni/wikimedia.org

Bandung yang sejak zaman Belanda disebut sebagai Paris van Java karena penuh keasrian lingkungannya dan dinamika kotanya, sampai sekarang masih menjadi major tourist destination. Para wisatawan domestik membanjiri kota ini terutama pada hari libur nasional maupun akhir pekan.

Turis rutin warga Jakarta yang jenuh dengan kemacetan dan hiruk pikuk kota juga membanjiri kota Bandung, untuk melarikan diri dari stress pada hari-hari weekend. Tidak hanya itu, wisatawan dari luar negeri terutama negeri jiran Malaysia juga menjadikan Bandung sebagai untuk kota menghabiskan ringgit untuk belanja produk-produk fesyen yang tentu murah bila dipandang dari mata uang ringgit. Mereka hampir setiap saat ke Bandung karena adanya direct flight maskapai penerbangan AirAsia dari Kuala Lumpur.

Bandung memang dikenal sebagai kota fesyen di Indonesia di mana banyak bermunculan industri fesyen yang menjual produk-produk lifestyle yang sangat menarik selera, di mana edisi barunya jarang ada di kota-kota lain. Bandung juga terkenal akan industri kuliner dari kuliner level kaki lima maupun kafe-kafe modern atau hotel-hotel berbagai bintang. Tak heran ribuan wisatawan datang ke kota ini untuk berbelanja dan makan.

Kota berhawa dingin terletak di area pegunungan di mana pohon-pohon besar masih terawat dan gedung-gedung zaman dulu dengan arsitek Belanda misalkan Gedung Sate, gedung-gedung perguruan tinggi seperti ITB, Unpad, UPI, dsb. menambah daya tarik kota Bandung ini bagi wisatawan.

Bagi yang senang sejarah juga menarik untuk datang karena kota ini menjadi pertemuan sejarah negara-negara berkembang dan miskin, non-blok yang menggelorakan suara kemerdekaan dari penjajah di muka bumi ini.

Saking cepatnya perkembangan pariwisata di Bandung ini, sampai Wakil Wali Kota Bandung Oded M. Danial mengatakan, terjadi penambahan 300 wajib pajak sektor pariwisata di Kota Bandung selama tahun 2016. Ke-300 wajib pajak baru tersebut berasal dari pertumbuhan hotel dan indekos, restoran, serta tempat hiburan.

Kreativitas zaman now, tapi harus berdasar budaya sendiri

Saya dan keluarga baru-baru ini ke Bandung, dengan tujuan sama seperti para wisatawan-wisatawan tersebut. Namun selain industri fesyen dan kuliner itu ada daya tarik sendiri dari kota Bandung ini, yaitu kreativitas warganya yang terus menerus berjalan seiring dengan zaman, terutama zaman now ini.

Kreativitas terjadi di berbagai sektor, salah satunya penulisan papan nama atau sign board di toko, mal, kafe, hotel dsb. ditulis dengan font yang menarik seperti yang ada di Amerika Serikat misalnya di Los Angeles, Las Vegas, New York yang ditulis dalam Bahasa Inggris, Prancis dan bahasa Indonesia. Dalam hubungan ini tentu industri desain grafis penuh dengan job order karena begitu cepatnya perkembangan industri pariwisata di Bandung ini.

(Foto: dok.pribadi)
(Foto: dok.pribadi)

Yang menarik, penulisan papan nama di atas tidak hanya ada di mal-mal, atau kafe atau restoran besar namun juga terjadi di warung-warung kaki lima dengan bahasa-bahasa yang lucu dan gaul seperti “Warung Internasional” sebuah warung kecil di jalan utama dekat kampus Unisba, “Bakso Tarik Ulur” kalau tidak salah di jalan Dipati Ukur dekat Kampus Unpad, “B’BEH KIOS”, sebuah kios kecil di sebelah FO besar.

Ada juga tulisan di dinding restoran sebuah hotel yang mengutip kalimat terkenal yang di ucapkan almarhum Presiden Amerika Serikat, John F. Kennedy, tapi di plesetkan: “Ask not what they can do for their country, ssk what’s for lunch”.

Ada juga tulisan menarik di atas sofa di sebelah tempat ganti pakaian atau fitting room di sebuah FO: “Reserved for bored boy friends” yang ditujukan kepada pacar laki-laki yang bosan menguntit pacarnya memilih-milih pakaian. Harusnya ada tulisan juga seperti for bored husbands atau para suami yang bosan mengikuti istrinya mencari baju kesayangan termasuk khawatir uangnya habis, maka lebih baik duduk di sofa itu.

(Foto: dok.pribadi)
(Foto: dok.pribadi)

Dari segi pemasaran, cara-cara penulisan itu tentu menarik wisatawan untuk selalu berkunjung ke Bandung. Namun bagi sahabat saya Prof. Deddy Mulyana Ph.D. mantan Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran dan ahli ilmu komunikasi yang buku-buku karyanya menjadi textbook di mana-mana. dalam bahasa asing itu mengusik hatinya sebagai orang Sunda asli dan selalu berjuang mengedepankan hal-hal yang bersifat nasional.

Dalam salah satu artikel yang ditulis di B\bukunya “Membangun Budaya Komunikasi” – berjudul “Biar Salah Asal Gaya”, sang Profesor mengkritik penulisan dalam bahasa asing di berbagai sudut kota Bandung itu yang tidak disertai dengan padanan kata dalam bahasa Indonesia, dan berpendapat seharusnya penulisan itu tetap dalam bahasa nasional dalam huruf besar sedangkan penulisan padanan kata dalam bahasa asing dalam huruf kecil.

Sahabat saya sang Profesor ini menyarankan kita belajar dari negara Cina, Turki, Korea, Jepang dan Rusia yang menuliskan informasi di ruang publik dengan bahasa nasionalnya yang sering tanpa ada penulisan padanan kata dalam bahasa Inggris, toh turis dari negara-negara yang berbahasa Inggris lebih banyak datang ke negara-negara tersebut dibanding ke Indonesia.

Saya memahami betul kritikan dan nasehat sahabat saya ini karena dia sejak kecil seperti saya (umurnya 4 tahun di bawah saya) yang mengalami sendiri dengan lingkungan budaya lokal, main mobil-mobilan yang terbuat dari kulit jeruk, main yoyo, main kelereng, ikut penampilan pencak silat dsb, sehingga keinginan untuk mengangkat budaya nasional itu lebih kuat.

Dari berbagai daya tarrik itu, ada ganjalan utama di Bandung ini yaitu kemacetan yang ampun parahnya, apalagi kalau wisatawan baik lokal seperti Jakarta atau kota-kota lain yang memenuhi kota ini di hari libur nasional atau weekend.

Macetnya cenderung gridlock atau terkunci mati, tidak bisa bergerak. Di setiap perempatan atau U Turn terlihat antrian mobil panjang, dan seringkali ada mobil, motor menyalip atau belok tanpa aturan, dan anehnya tidak terlihat teman-teman dari Kepolisian Bandung yang mengatur lalu lintas itu. Kebanyakan Pak Ogah yang mengatur lalu lintas; akibatnya ya tambah macet.

Prof. Dedy Mulyana ketika menjemput saya dari hotel menjelaskan bahwa orang akhirnya pada menyesuaikan diri kapan keluar kapan pulang rumah dengan menghapalkan jam-jam macet. Jalan-jalan di Bandung hampir sama dengan Yogyakarta, banyak jalan kecil dan berbelok-belok, sedangkan Jakarta hampir sama dengan Surabaya banyak jalan raya lebar dan lurus. Jalan-jalan di Bandung seperti itu yang menyebabkan kota tambah macet.

Meskipun demikian banyak juga para wisatawan domestik yang bisa menikmati kemacetan itu, sepertinya macet itu juga menjadi objek turisme. Apalagi bagi warga Jakarta yang terbiasa dengan kemacetan, maka bermacet-macet riya di Bandung adalah hal yang biasa.

Bahkan di tengah-tengah kemacetan para wisatawan ini bisa bersuka ria, misalnya ketika melihat ada orang menunggang kuda lewat melawan arus jalan mereka pada berteriak ke anak – anak atau cucu-cucunya “Dik ada Kudaaaa…lihat deh dik…!!!” Melihat kuda seperti melihat mahluk asing atau alien dari ruang angkasa.

“Sebelah kiri…ada tahu Semedang….; “tuh di depan ada sosis goreng…” celotehan-celotehan itu yang membuat para wisatawan itu tetap berbahagia walaupun macet. Tapi bagi orang seperti saya yang tidak “Srantanan” (Bahasa Jawa= Tidak Sabaran) yang terbiasa ingin cepat sampai tujuan karena harus memberi kuliah, atau janji sama orang dsb, maka kemacetan itu menjadi “Disaster” atau malapetaka.

Meskipun demikian istri sahabat saya tadi (keduanya sahabat saya pada waktu Pertukaran Pemuda ASEAN-Jepang 1982) menjelaskan bahwa sejak beberapa tahun ini kota Bandung bersih dan tamannya teratur karena pernah dipimpin seorang walikota yang jebolan arsitektur ITB (seperti Surabaya yang kotanya berubah karena walikotanya juga seorang ahli City Planing jebolan ITS).

Sebelumnya Bandung kelihatan kumuh, malah pernah terjadi sampah tertumpuk di jalan-jalan tidak dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir. Tapi semua itu membuat saya -seperti juga lainnya-ingin berkunjung kembali ke Bandung.

Pilih BanggaBangga29%
Pilih SedihSedih7%
Pilih SenangSenang21%
Pilih Tak PeduliTak Peduli7%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi29%
Pilih TerpukauTerpukau7%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Perempuan Indonesia Jadi Peraih Messenger of Peace Heroes Award 2017 Sebelummnya

Perempuan Indonesia Jadi Peraih Messenger of Peace Heroes Award 2017

Google Rayakan 70 Tahun Sosok Chrisye Selanjutnya

Google Rayakan 70 Tahun Sosok Chrisye

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.