Pujo Bae, Mesin Pemilah Canggih untuk Solusi Sampah

Pujo Bae, Mesin Pemilah Canggih untuk Solusi Sampah

Pekerja tengah memperbaiki mesin pemilah sampah Pujo Bae © Foto: L Darmawan/Mongabay Indonesia

  • Pujo Hartono menciptakan sebuah alat pemilah sampah yang telah terbukti kehandalannya, bahkan masuk 10 besar lomba teknologi tepat guna pada 2018 lalu
  • Peralatan pemilah sampah yang dinamai Pujo Bae tersebut sudah dipesan oleh sejumlah kalangan dari berbagai daerah. Karena terbukti mampu memisahkan sampah organik maupun anorganik. Bahkan, untuk sampah organik ada dua jenis, sampah organik yang telah jadi bubur dan sampah organik kering yang telah tercacah
  • Kini, mesin pemilah sampah Pujo Bae dimanfaatkan salah satunya di TPST Karangcegak, Kecamatan Sumbang, Banyumas. Satu mesin pemilah mampu memilah dan mencacah sampah hingga 14 ton per hari
  • Bagaimana bentuknya pemilah sampah Pujo Bae?

Suara mesin menderu di hanggar tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) yang dikelola Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Barokah di Desa Karangcegak, Kecamatan Sumbang, Banyumas, Jawa Tengah (Jateng) pada Minggu (5/5) lalu.

Ada pekerja yang memasukkan sampah ke dalam mesin. Ada plastik, daun, sisa makanan dan lainnnya. Begitu masuk ke dalam mesin, hasil keluaran sampah beragam. Di bagian depan mesin, mengeluarkan semacam bubur hasil dari sampah organik. Tak hanya itu, ada juga sampah organik padat bersama dengan plastik yang dikeluarkan di bagian belakang mesin. Ada alat yang menampung sampah keluar dan bergerak secara otomatis. Di situlah, para pekerja berjajar untuk memunguti sampah plastiknya.

Kreasi alat Pujo Hartono itu masuk 10 besar dalam Lomba Teknologi Tepat Guna (TTG) pada September 2018 lalu. Secara otomatis, peralatan itu dicatatkan untuk mendapatkan hak kekayaan intelektual (HAKI) secara otomatis. Mesinnya dinamakan Pujo Bae. “Kalau sekarang prosesnya masih dalam merek dagang, belum sampai ke hak paten. Tetapi bersyukurlah, alat ini telah diakui,” kata Pujo Hartono saat ditemui di Hanggar TPST Karangcegak.

Sejumlah pekerja beraktivitas di hanggar tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) Karangcegak, Kecamatan Sumbang, Banyumas | Foto: L Darmawan/Mongabay Indonesia

Ide mengenai penciptaan peralatan pemilah sampah muncul sejak 6 tahun silam, ketika dirinya masih menjabat sebagai Kades Karangreja, Kecamatan Karangreja, Purbalingga. Ketika itu, ada ide dari pemuda untuk membuat bank sampah. Tentu saja, gagasan itu menarik karena akan mengelola sampah dari seluruh desa. “Setelah berjalan menjadi bank sampah, ternyata justru memunculkan persoalan yang tidak tuntas. Bank sampah itu umumnya hanya mengambil sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomis, seperti plastik, kardus dan logam. Kisarannya hanya 30% dari total sampah, sehingga tersisa 70% sampah organik. Ini yang kemudian menimbulkan masalah, karena setiap hari sampah kian menumpuk,” ungkap Pujo.

Atas persoalan itulah, Pujo yang ayahnya seorang mekanik dan dirinya juga suka dengan bidang permesinan, akhirnya berupaya untuk membuat alat pemilah sampah. Tujuannya sebetulnya, bagaimana agar sampah dapat dikelola secara maksimal, baik itu sampah anorganik maupun organik.

“Dalam perkembangannya, akhirnya terbentuk mesin pemilah sampah. Setiap saat, kami terus melakukan perubahan dan pembaruan. Hingga kini, mesin pemilah dan pencacah telah mengalami modifikasi hingga 14 kali. Secara teknis, generasi terakhir mesin pemilah dan pencacah sampah, mampu memilah tiga jenis sampah sekaligus. Yakni sampah organik yang telah menjadi bubur, kemudian sampah organik kering serta sampah anorganik. Semuanya berguna, tinggal tindak lanjut pengelolaan masing-masing pihak yang memanfaatkan mesin,” katanya.

Dalam perkembangkan selama 6 tahun terakhir, mesin Pujo Bae telah dimanfaatkan oleh sejumlah daerah. “Kalau untuk generasi yang terakhir ini, yang telah memanfaatkan di antaranya adalah Desa Pancasan, Ajibarang, kemudian TPST Karangcegak, Sumbang, bahkan ada pula yang telah sampai ke Bali. Banyak yang tertarik, karena harganya juga murah. Banyak mesin pemilah sampah, tetapi mungkin lebih mahal. Kalau kami hanya menjual dengan harga Rp32,5 juta, tetapi pajak pembelian ditanggung yang membeli. Sampai sekarang, kami terus melakukan penyempurnaan terhadap mesin tersebut agar di kemudian hari lebih bagus lagi. Kalau generasi sebelumnya juga sudah dijual ke Demak, Kudus, Pati, Temanggung, Purbalingga dan lainnya,” katanya.

Pujo mengatakan, kapasitas mesin pemilah saat sekarang sudah cukup baik, karena per jam mampu memilah 3 kubik per jam pada musim penghujan karena sampah basah dan sekitar 5 kubik per jam ketika kemarau karena sampah kering.

“Kalau selama seharian, ada sekitar 14 ton sampah yang dapat dipilah. Seperti yang kami praktikkan di TPST Karangcegak ini, satu mesin sudah dapat dioptimalkan untuk memilah sampah. Namun, sebetulnya masih dapat dimaksimalkan lagi kalau posisi mesin pemilah berada di bawah tempat penampungan sampah, sehingga tidak perlu ada pekerja menumpahkan sampah ke bagian atas mesin,” jelasnya.

Seorang pekerja sedang mengumpulkan bubur sampah organik, sementara di sebelahnya para ibu memungut sampah plastik | Foto: L Darmawan/Mongabay Indonesia

Butuh Lebih Banyak Mesin

Sekretaris KSM Barokah Joko Prayitno mengatakan sejak beroperasi pada 2 Januari 2019 lalu, baru beberapa waktu terakhir menggunakan mesin pemilah sampah Pujo Bae. “Tetapi, kalau hanya satu mesin pemilah, masih sangat kurang. Setidaknya, kami membutuhkan 4 mesin pemilah sampah, karena setiap harinya TPST Karangcegak ini mengelola setidaknya 40 ton sampah setiap hari. Sampah yang masuk ke TPST berasal dari lima kecamatan yakni Sumbang, Baturraden, Purwokerto Utara, Kembaran dan Sokaraja,” jelasnya.

Sementara ini, lanjut Joko, dari sekitar 40 ton, baru 30% saja yang dapat dimanfaatkan, yakni sampah anorganik maupun sampah organik. Sehingga, untuk residu yang tidak dapat dimanfaatkan, pihak TPST masih melakukan pembakaran dan tetap ada residunya. “Nah, dengan adanya mesin pemilah sampah ini, maka kami akan optimal dalam mengelola sampah, karena seluruh sampah yang masuk dapat dikelola nantinya,” katanya.

Joko menjelaskan, kalau dengan mesin pemilah sampah, maka sampah anorganik seperti plastik sudah terpisah dengan sampah organik. Sedangkan sampah organik juga ada dua jenis, yang telah jadi bubur, maupun yang kering tercacah.

“Kalau untuk sampah anorganik atau plastik jelas bernilai ekonomis, karena ada yang memanfaatkan dengan mendaur ulang. Sedangkan untuk sampah organik, sebetulnya dapat dimanfaatkan untuk pupuk organik atau bisa dijadikan sebagai media pembudidayaan lalat tentara hitam atau black soldier fly (BSF),” ujarnya.

Pekerja mengambil sampah plastik yang telah dipisahkan mesin pemilah Pujo Bae | Foto: L Darmawan/Mongabay Indonesia

Hanya saja, sampai sekarang memang belum dimanfaatkan. Nantinya, pihaknya bakal menghubungi para pembudidaya BSF untuk bekerja sama dengan TPST Karangcegak untuk mengembangkan budidaya BSF dengan media hasil pemilahan sampah di lokasi setempat. Sebab, hanya dibiarkan beberapa saat saja, sudah banyak muncul larva atau maggot yang berada di dalam sampah organik yang telah menjadi bubur tersebut.

“Selain dapat menjadi media budidaya BSF, bubur sampah organik juga dapat diproses menjadi pupuk organik. Hanya menunggu proses menjadi pupuk sekitar satu bulan. Sedangkan untuk sampah organik yang masih kering, dapat juga dimanfaatkan untuk pupuk dan media BSF,” tambahnya.

Tetapi, lanjut Joko, yang mendesak adalah pengadaan mesin pemilah. Karena berdasarkan perhitungan sampah yang masuk mencapai 40 ton, maka dibutuhkan peralatan mesin pemilah sebanyak empat unit.

“Kami berharap, nantinya Pemkab Banyumas dapat memantu pengadaan mesin pemilah sampah tersebut, sehingga TPST benar-benar bisa maksimal fungsinya. Sebab, kalau rencana-rencana itu berjalan, maka seluruh sampah bisa diolah dan tidak menimbulkan residu. Sebab, semuanya dapat dimanfaatkan,”katanya.

Joko mengungkapkan kalau mesin pemilah sampah menjadi solusi awal bagi pemanfaatkan sampah agar lebih optimal. Tanpa ada mesin pemilah, maka sangat sulit bagi para pekerja untuk memilahkan secara manual. Apalagi, kalau sampah telah tercampur. Oleh karena itu, maka dibutuhkan terobosan dengan pengadaan mesin pemilih, sehingga penanganan sampah di Banyumas khususnya bisa optimal.

“Jika itu dijalankan, maka cita-cita pemkab dengan membangun TPST bakal terwujud. Sejak membangun TPST, Pemkab Banyumas bertekad untuk mengelola sampah secara maksimal dengan memanfaatkannya, baik itu sampah organik maupun anorganik,” tandasnya.

Pekerja tengah memperbaiki mesin pemilah sampah Pujo Bae | Foto: L Darmawan/Mongabay Indonesia

Sumber: Ditulis oleh L Darmawan dan diposting ulang dari Mongabay Indonesia atas kerjasama dengan GNFI

Pilih BanggaBangga30%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi70%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Bukan Cara Biasa Menjaga Maleo Sebelummnya

Bukan Cara Biasa Menjaga Maleo

Kuatkan Kompetensi di Era Revolusi Industri, Pemuda Tani Kolaborasi dengan UNDAR Selanjutnya

Kuatkan Kompetensi di Era Revolusi Industri, Pemuda Tani Kolaborasi dengan UNDAR

Vita Ayu Anggraeni
@ayuvitaa

Vita Ayu Anggraeni

I work here because I value positivity. In the midst of social media era I wish that everyone builds harmony through positivity, so I start from myself.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.