Aku dan Menulis

Aku dan Menulis

© Dok. Penulis

“Aku ingin mempunyai beberapa tulisan yang memiliki nilai atau manfaat untuk orang lain – entah dalam bentuk apapun sebelum aku mati.”

Terlepas alasan ini dikatakan alasan yang egois, tapi itulah yang saya rasakan. Terkadang saya sangat sadar bahwa saya tidak bisa mengontrol waktu yang terus berlalu dan saya tidak tahu kapan kematian saya tiba.

Kondisi seperti itulah yang membuat saya merasa putus asa karena saya kesulitan berbagi dan menyampaikan banyak hal yang ada dalam pikiran saya baik itu kegelisahan, kegembiraan, atau sebuah gagasan.

Menulis adalah kegiatan yang baru saja beberapa tahun belakangan saya rasakan begitu penting. Tentu saja menulis bisa membantu mendukung profesi saya sebagai tenaga pendidik. Khususnya dalam melakukan penelitian tindakan kelas kemudian menemukan berbagai solusi untuk kelangsungan proses pembelajaran.

Tentu saja kegiatan menulis apapun tanpa kecuali tidak bisa berdiri sendiri. Harus ada keseimbangan antara input dan output. Input dalam hal ini adalah kegiatan membaca dan output dalam hal ini adalah hasil dari kegiatan membaca itu sendiri yaitu menulis.

Kelemahan dari seseorang seperti saya dengan gaya belajar auditori pasti sedikit membuat saya kesulitan dengan kegiatan menulis karena saya lebih mudah menyampaikan sesuatu secara verbal daripada ke dalam bentuk tulisan.

Saya juga lebih suka dan mudah menerima informasi dengan cara saya mendengar – memaksimalkan alat dengar saya daripada membaca sebuah teks. Hal ini sangat saya rasakan ketika saya sedang menyelesaikan skripsi dan tentu saja saya harus memutar 180 derajat kebiassaan saya tersebut.

Sangat tidak mungkin bertahan dengan gaya belajar saya tanpa harus mencari tahu berbagai literatur dengan membaca beberapa buku fisik atau bahkan membaca melalui buku elektronik. Pada intinya mau tidak mau“Saya harus membaca”.

Selain pertimbangan tersebut, pada waktu itu secara kebetulan saya mendapat dosen pembimbing yang sangat anti dengan plagiarisme. Beliau sempat sampaikan kepada mahasiswa bimbingannya bahwa beliau lebih menghargai hasil tulisan murni mahasiswa meski terbilang sangat sederhana daripada hasil menjiplak atau bahkan menggunakan jasa.

Hal itu yang membuat saya harus berusaha keras menyelesaikan skripsi dengan tangan sendiri. Betapa saya merasakan keuntungan mendapat dosen pembimbing tersebut karena selain saya merasa puas dengan hasil tulisan sendiri, saya juga hanya perlu modal kertas tiga rim selama perjalanan awal bimbingan sampai pada ujian skripsi. Modal yang sangat minim dibanding teman-teman lain yang menggunakan jasa pembuat skripsi.

Betapa menulis itu ternyata kegiatan yang sangat penting karena menulis juga merupakan salah satu cara kita berkomunikasi. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan Dr. James W. Pannebaker, membuktikan bahwa menulis tentang hal-hal yang negatif akan memberikan pelepasan emosional yang mampu membangkitkan rasa puas dan lega. (Suhendi:2014) Hal ini sejalan dengan pendapat Hernowo yang disampaikan melalui teknik “menulis untuk dibuang”.

Teknik menulis untuk dibuang adalah teknik di mana kita memberi kesempatan pada diri kita untuk bertahan menulis segala rasa sakit atau hal yang memberatkan diri dengan batasan waktu. Jika hal ini kita lakukan, maka yang terjadi adalah:

(1) Kita akan terbiasa menulis dan mengeluarkan apa yang ada dalam pikiran kita secara bebas dan mengalir begitu saja; dan (2) kita merasakan beban yang ada dalam diri kita lepas lewat tulisan yang tak lama akan kita buang.

Dr. Pannebaker juga menyimpulkan dalam penelitiannya tentang beberapa manfaat menulis antara lain: (1) menjernihkan pikiran; (2) mengatasi trauma; (3) membantu dan mendapatkan informasi; (4) memecahkan masalah; dan (5) menulis bebas membantu kita ketiak terpaksa harus menulis.

Di Era digital saat ini kita merasakan berbagai kemudahan dalam membiasakan melakukan kegiatan menulis. Banyak media baik cetak maupun elektronik yang bisa kita gunakan untuk mengunggah tulisan kita.

Sebut saja blog atau situsweb yang mengandung konten personal dalam bentuk artikel, video, foto, dan link ke situsweb lain yang disediakan oleh penulis blog. Kita bisa memanfaatkan blog sebagai tempat kita mengarsip segala tulisan kita mulai dari bentuk curhatan atau tulisan yang sangat serius sekalipun.

Kelebihan dari kita mengarsip tulisan pada blog dibanding pada media sosial seperti Facebook adalah:

  1. Tulisan kita tidak akan pernah tenggelam dan kesulitan mencari karena ada beberapa fasilitas yang mempermudah dalam pencarian.
  2. Kita mempunyai ruang pribadi yang terlihat profesional terlebih jika kita gunakan domain berbayar untuk blog pribadi kita.
  3. Jika kita menginginkan sambil menyelam minum air, kita bisa monetize blog tersebut.

Tentu saja menulis adalah ilmu yang nampak dan bisa dipelajari baik melalui tutorial online, buku-buku tips dan trik menulis, melalui seseorang secara privat, atau dengan berkumpul di sebuah komunitas.

Namun kita juga sangat tahu bahwa yang jadi monster ketika kita benar-benar ingin menulis adalah kemauan dan motivasi menulis itu sendiri yang mungkin kurang kuat. Itulah saat konsistensi dibutuhkan.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara Yufi Eko Firmansyah

DANA Hadirkan Tiga Opsi Pembayaran di Jakarta Fair 2019 Sebelummnya

DANA Hadirkan Tiga Opsi Pembayaran di Jakarta Fair 2019

Inilah Penyebab Udara Dingin di Pulau Jawa Akhir-Akhir Ini Selanjutnya

Inilah Penyebab Udara Dingin di Pulau Jawa Akhir-Akhir Ini

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.

Artikel Terkait