Seberapa Penting Komunitas untuk Penulis Perempuan

Seberapa Penting Komunitas untuk Penulis Perempuan

© Pixabay

"Penulis tanpa komunitas, bagai langit tanpa bintang."

Ya, begitulah pendapat saya. Dulu, saya beranggapan bahwa kebanyakan penulis itu adalah individu yang tertutup. Cenderung menarik diri dari keramaian. Saya mengira karena mereka butuh keheningan untuk mendapatkan sebuah inspirasi.

Namun, kini saya baru tersadar bahwa hal tersebut adalah salah. Saat ini ada begitu banyak komunitas yang beranggotakan para penulis. Bahkan, komunitas khusus beranggotakan perempuan penulis juga telah ada.

Berdasarkan wikipedia, kata komunitas diambil dari bahasa Latin yaitu communitas, yang berarti sebuah kelompok sosial yang memiliki ketertarikan yang sama. Berawal dari satu kesamaan, mereka berkumpul, berkolaborasi, saling bertukar ilmu, informasi, dan saling mendukung satu sama lain.

Seperti yang saya rasakan saat ini. Saya yang notabene pemula dalam dunia literasi, merasa beruntung sekali dapat bergabung di beberapa komunitas penulis.

Di sana, saya bertemu dengan banyak mentor dan penulis senior yang ahli namun tidak pelit berbagi. Di sana pula saya banyak menemukan tantangan untuk bisa terus meningkatkan kemampuan menulis.

Ibu-ibu Doyan Nulis, menjadi komunitas pertama yang saya ikuti. Berawal dari ketertarikan saya pada salah satu event sharing session Teh Indari dalam akun telegramnya.

Akhirnya, saya mulai mencari tahu dan langsung bergabung dengan komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis di media daring Facebook. Meskipun melalui media daring, saya tetap merasakan begitu banyak manfaat dari komunitas ini.

Sebagai pemula di dunia literasi, saya jadi mengenal PUEBI, KBBI, dan plagiarism detector. Serta masih banyak lagi istilah-istilah lainnya.

Ada banyak tantangan yang melatih konsistensi menulis kita, seperti one day one article (ODOA). Kegiatan rutin bedah buku pun menjadi agenda yang dinanti nanti para anggota.

Bahkan informasi proyek tulisan yang dibutuhkan penerbit juga sering disampaikan. Alhamdulillah, dalam satu kesempatan saya masuk menjadi salah satu kontributor pada salah satu proyek tulisan yang berupa buku antologi kisah hijrah inspiratif, dengan judul Hijrah Journey yang saat ini sudah mulai masuk masa pre-order.

Berikutnya saya kembali tertarik masuk dalam Komunitas Menulis Online. Komunitas yang dipimpin Kang Tendi Murti ini juga tidak kalah kerennya.

Komunitas ini menggunakan aplikasi Telegram. Dengan jumlah anggota yang ribuan, tingkat percakapan yang tinggi, banyak materi training yang dibagi secara cuma-cuma dengan kapasitas yang tinggi.

Penggunaan Telegram cukup tepat, karena lebih ringan dan lebih mudah. Sama halnya dengan IIDN, KMO juga sering mengadakan tantangan-tantangan maupun memberikan informasi seputar lomba menulis ataupun informasi proyek menulis dari penerbit.

Selain itu, saya juga masuk dalam komunitas Joeragan Artikel, Emak Belajar Menulis, dan Pena Srikandi. Dari komunitas pun saya bisa mengetahui seputar pelaksanaan training kepenulisan, baik yang berbayar maupun yang gratis.

Tentu saja untuk meningkatkan kemampuan menulis, membuat karya yang bermanfaat bagi banyak orang.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Menempa Diri bersama Komunitas Penulis Sebelummnya

Menempa Diri bersama Komunitas Penulis

Suhu Hingga Minus 7 Derajat Celcius, Mengapa Embun Beku Dieng Datang Lebih Awal? Selanjutnya

Suhu Hingga Minus 7 Derajat Celcius, Mengapa Embun Beku Dieng Datang Lebih Awal?

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.