Yayasan Gringgo, Atasi Limbah Indonesia dengan AI

Yayasan Gringgo, Atasi Limbah Indonesia dengan AI

Febriadi Pratama, Co-Founder Yayasan Gringgo Indonesia © Image Dynamics

  • Sebuah inovasi dibuat Yayasan Gringgo Indonesia, dengan mengatasi limbah memakai kecerdasan buatan (AI).
  • Yayasan Gringgo merupakan penerima hibah dari Google AI Impact Challenge.
  • Adanya AI dinilai dapat membantu mengatasi masalah limbah di Indonesia yang tak kunjung selesai.

Yayasan Gringgo Indonesia sebagai penerima hibah dari Google AI Impact Challenge memiliki inovasi menarik dalam pengolahan limbah. Yayasan yang didirikan pada tahun 2017 ini menggunakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk membantu para pemulung mengenali berbagai jenis limbah lebih cepat.

Adanya AI ini akan membantu mengatasi masalah limbah di Indonesia yang tak kunjung selesai. Laporan dari majalah Science pada 2015 mengatakan, jumlah limbah plastic di Indonesia mencapai 3,2 juta ton per tahunnya, dan 1,29 juta ton di antaranya dibuang ke laut.

Yayasan Gringgo Indonesia akan menerima dukungan dari Google untuk mengembangkan alat pencegahan limbah plastik laut, dan untuk memantau jumlah pembuangan sampah secara real-time.

BACA JUGA: Google Science Fair dan Tiga Prestasi Anak Bangsa di Bidang Sains

Tujuan dari upaya ini adalah untuk membantu pemerintah lokal, LSM, dan perusahaan swasta agar dapat mengelola proses pembuangan limbah dengan lebih baik dan meningkatkan hasil daur ulang.

Yayasan Gringgo Indonesia merupakan salah satu dari 20 organisasi non-profit dan perusahaan yang bergerak di bidang sosial dari 12 negara yang menerima hibah dari Google AI Impact Challenge, dari total 2.600 peserta.

Yayasan Gringgo akan menerima pendanaan dari total hibah senilai USD 25 juta dari Google.org, kredit dan konsultasi dari Google Cloud, serta pelatihan dari para pakar AI Google.

Yayasan ini juga akan mendapatkan mentoring selama enam bulan dari jaringan pakar Google Launchpad Accelerator.

BACA JUGA: Google Cloud Region Akan Hadir di Jakarta

“Kami baru saja kembali dari mengikuti program selama lima hari bersama 19 penerima hibah lainnya di San Francisco. Di sana kami memaparkan target yang kami harap bisa tercapai pada bulan November,” ucap Ketua Tim Yayasan Gringgo Indonesia yang beranggotakan 10 orang, Febriadi Pratama.

“Program Launchpad sungguh membuat kami lebih fokus melangkah ke depan, dan memberi visi yang jelas mengenai pencapaian apa saja yang ingin kami raih,” imbuhnya. Program Launchpad Accelerator akan selesai pada November 2019, dan para penerima hibah kemudian akan menjalani proses mentoring tahap akhir dan mengikuti upacara kelulusan di San Francisco.

Randy Jusuf, Managing Director Google Indonesia | Foto: Image Dynamics

“Google sudah lama berkecimpung di bidang AI dan kami telah menyaksikan langsung bagaimana AI dapat membantu mengatasi berbagai masalah besar di berbagai bidang seperti layanan kesehatan, pencegahan bencana, dan aksesibilitas untuk kaum difabel, dan juga lingkungan,” ucap Jason Tedjasukmana dari Google Indonesia.

“Kami ingin melihat apa saja yang akan dilakukan Yayasan Gringgo melalui teknologi AI untuk membantu masyarakat di seluruh Indonesia, agar semakin menyadari masalah limbah plastik yang kian serius dan berdampak pada kehidupan kita semua,” pungkasnya.**

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Memadukan Hidangan dengan Kerajinan Tangan Sebelummnya

Memadukan Hidangan dengan Kerajinan Tangan

Ubin Bertekstur, Inilah Fungsi Guiding Block Selanjutnya

Ubin Bertekstur, Inilah Fungsi Guiding Block

Aditya Jaya Iswara
@adityajoyo

Aditya Jaya Iswara

Tidak bisa masak tapi suka makan. Tidak bisa main bola tapi suka nonton bola.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.