Karakteristik Perempuan Penulis dan Keberadaannya dalam Sastra Indonesia

Karakteristik Perempuan Penulis dan Keberadaannya dalam Sastra Indonesia

Karakteristik Perempuan Penulis dan Keberadaannya dalam Sastra Indonesia

Keberadaan perempuan yang berprofesi sebagai penulis di Indonesia jumlahnya tidaklah sedikit, dan karya-karya penulis perempuan pun tidak bisa dianggap remeh.

Terbukti karya-karya mereka berhasil memikat para pembaca dan menjadi best seller. Bahkan beberapa diantaranya diapresiasi dan dijadikan film.

Tidak hanya berhasil memikat pembacanya di dalam negeri saja, tapi karya perempuan penulispun mampu memikat hati pembaca luar negeri.

Perempuan penulis Indonesia yang karyanya sudah menembus pasar Internasional adalah Djenar Maesa Ayu dan Ratih Kumala.

Novel terjemahan bahasa Inggris karya Djenar Maesa Ayu berjudul Nayla baru saja diluncurkan Oktober 2018 di Ubud Writers and Readers Festival (UWRF). Kemudian buku kumpulan cerpen karya Ratih Kumala, Larutan Senja yang diterjemahkan menjadi judul Potion of Twilight lahir sebulan sebelum Nayla di SOAS University of London, pada 25 September 2018.

Nayla, novel Djenar Maesa Ayu yang berhasil menembus pasar Internasional | Foto: Instazu.com

Zaman dulu, perempuan tidak bisa bebas menunjukkan karya-karyanya di media sosial karena situasi politik yang tidak menentu. Dibatasi dan tidak bisa mengekspresikan gagasannya dalam sebuah tulisan. Agar tetap bisa menulis mereka menggunakan nama samaran dan kegiatan menulis hanya bisa dilakukan di dalam rumah.

Perempuan lebih sering dijadikan obyek tulisan daripada subyek atau pelaku (orang yang menulis). Hal ini terjadi tak lepas dari stigma masyarakat tentang perempuan.

Ketidakadilan gender antara perempuan dan laki-laki. Perempuan dicitrakan sebagai makhluk lemah dan bodoh, berada di bawah kekuasaan laki-laki, tidak bisa memutuskan sendiri, hidup sepenuhnya di bawah bayang-bayang laki-laki.

Perempuan sering menjadi korban atau dikorbankan. Perempuan seperti tidak punya kesempatan bersuara. Perempuan hanya patuh saja. Jadi perempuan tidak pantas untuk menjadi penulis. Namun seiring perkembangan zaman dan adanya emansipasi, karya perempuan penulis pun berkembang pesat.

Ketika perempuan mendapat kesempatan bersuara, mereka tidak melewatkan kesempatan yang ada. Sebab perempuan penulis bisa menyuarakan isi hatinya. Dan ini menjadi titik balik untuk mengenal pemikiran perempuan lebih jauh melalui tulisannya.

Hal ini bisa dilihat dari karya-karya kritis perempuan bahwa mereka tidak seperti stigma yang telah terbentuk selama ini tentang perempuan. Bahwa perempuan tidak lagi menjadi objek yang menjadi korban dan dikorbankan.

Karya perempuan penulis Indonesia yang berhasil menembus pasar Internasional tentu tidak mudah. Salah satu cara memperkenalkan karya perempuan penulis Indonesia di kancah Internasional adalah dengan menerjemahkan karya mereka ke bahasa Inggris.

Penerjemahan ke bahasa Inggris tidak hanya untuk sekadar dibaca oleh pembaca luar negeri saja, bahkan jika penulis berharap pembaca luar negeri sampai meninjaunya, maka pembaca harus mengerti isinya. Kalau dengan bahasa Indonesia saja akan menjadi hambatan.

Selain dari sisi penerjemahan ke bahasa Inggris, cara lainnya untuk mempopulerkan penulis Indonesia adalah hadir di berbagai pameran buku bergengsi taraf Internasional.

Dalam sastra Indonesia, perempuan penulis sudah mendapatkan tempat yang baik. Peran perempuan penulis dalam sastra Indonesia tidak bisa dianggap remeh. Perempuan berperan besar dalam kebudayaan, terutama untuk generasi penerus bangsa. Sebab, perempuan-lah madrasah pertama dan utama dalam mendidik moral penerus generasi bangsa.

Perempuan yang lebih memiliki kesempatan untuk menanamkan nilai-nilai dan membentuk budaya manusia yang bisa ditanamkan sejak lahir. Dari perempuan, manusia pertama kali belajar banyak hal.

Larutan senja,kumpulan cerpen karya Ratih Kumala yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris berjudul The Potion Of Twilight | Foto: Gramedia.com

Maka jadilah perempuan penulis masa kini yaitu perempuan yang mengikuti zamannya yang semakin maju, di mana jarak tidak lagi menjadi masalah dan informasi mudah diperoleh. Di mana perempuan penulis mendapat ruang untuk bergerak dengan lebih bebas. Lebih bisa mengembangkan diri sehingga bisa diterima masyarakat.

Jadilah perempuan penulis yang tetap memegang teguh budaya Indonesia. Bisa memahami diri sendiri dan memahami tujuan hidupnya dengan cerdas dan kritis. Jangan sampai tergerus arus modernisasi.

Perempuan penulis Indonesia, harus tetap menjaga kepribadian bangsa yang tetap tertata dan terjaga harga dirinya, terhormat serta berpandangan jauh ke depan. Sebab saat ini perempuan Indonesia telah berada di zaman baru. Generasi milenial yang tanpa disadari telah memengaruhi nilai-nilai, tradisi, dan adab.

Perempuan penulis Indonesia harus hati-hati melangkah bila tak ingin terjerumus. Namun, jangan pula sampai ketinggalan zaman. Maka harus mampu mengontrol diri. Mempunyai sikap kehati-hatian dan berpikir kritis dapat menjadi benteng diri. Jika tidak mampu membekali diri maka akan hanyut dan terseret tanpa kendali.

Keberadaan perempuan penulis yang pada awal perkembangan sastra Indonesia belum begitu tergali karena keterbatasan yang ada. Kini perempuan penulis boleh tersenyum dan berbangga hati karena keberadaannya mulai menempati posisi yang penting, disejajarkan dengan penulis laki-laki.

Perempuan penulis sudah mampu untuk mengubah wajah sastra Indonesia menjadi begitu feminin serta menyemarakkan juga memberi warna dalam hiruk-pikuk dunia sastra Indonesia modern hingga saat ini.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang20%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi80%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Telkom Indonesia Raih Penghargaan SDM tingkat Asia Pasifik Sebelummnya

Telkom Indonesia Raih Penghargaan SDM tingkat Asia Pasifik

Indonesia dan Brunei (Mungkin) Saling Iri Selanjutnya

Indonesia dan Brunei (Mungkin) Saling Iri

1 Komentar

  • Noer Ima Kaltsum

    Perempuan penulis Indonesia lebih maju

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.