Kata Siapa Limbah Popok Tak Berguna?

Kata Siapa Limbah Popok Tak Berguna?

Limbah Popok di Sungai © kompasiana.com

Selain susu formula yang seakan menjadi kebutuhan pokok si kecil adalah popok. Ya, kain alas bayi atau lampin ini banyak digunakan sebagai celana dalam yang juga bisa menampung kotoran. Bentuknya membuat bayi lebih leluasa untuk bergerak.

Popok bayi memiliki tiga lapisan, yakni lapisan dalam, lapisan inti, dan lapisan luar. Sayangnya, ketiga lapisan tersebut mengandung bahan yang berbahaya untuk lingkungan.

Pada lapisan inti mengandung bahan absorbent gelling material (AGM) yang terbuat dari sodium poliakrilat dan dapat menimbulkan iritasi atau alergi.

Dalam popok juga terkandung mikroplastik yang dapat termakan oleh makhluk hidup, seperti ikan bila kita membuang popok sembarangan di sungai. Sebenarnya, secara tidak langsung bahaya mikroplastik juga dapat memapar manusia.

Ikan di sungai yang telah mengandung mikroplastik dikonsumsi, sehingga masuk ke dalam tubuh. Risikonya tubuh menjadi rentan terkena penyakit bahkan kanker.

Indonesia saat ini memiliki lembaga swadaya masyarakat (LSM), inovasi dari limbah popok, dan produsen popok kain guna mengurangi sampah popok.

Logo Ecoton | Foto: Ecoton Foundation/youtube.com

Ecoton menjadi salah satu lembaga swadaya berbasis lingkungan. Berdiri pada 1996, awalnya merupakan kelompok studi konservasi lahan basah Program Studi Biologi di Unair, lalu berbadan hukum pada tahun 2000.

Lahir dari rasa prihatin terhadap masalah lingkungan di Jawa Timur khususnya di Kali Surabaya. Pencemaran di mana-mana, tanpa adanya penanggulangan. Ecoton didirikan untuk memulihkan sungai yang tercemar.

Ecoton percaya bahwa perubahan baik dapat diraih dengan partisipasi masyarakat dari generasi ke generasi. Mendorong masyarakat untuk membentuk komunitas-komunitas lalu berperan aktif menjadi bagian pengelolaan sumber-sumber air menjadi adalah salah satu upayanya.

Produk Pokton | Foto: golimbah.com

Selain Ecoton terdapat Pokton yang memproduksi inovasi unik dari limbah popok. Pokton merupakan anak perusahaan dari PT. Guna Olah Limbah atau yang lebih dikenal dengan nama Go Limbah.

Pokton mengolah limbah popok menggunakan mesin hidrotermal rakitan sendiri. Hasil olahan limbah popok dari mesin hidrotermal menjadi bahan campuran untuk concrete atau beton.

Hasil produknya beragam tak hanya beton, tetapi juga vas atau pot tanaman, lampu tidur, hingga jam dinding. Mempercantik rumah dengan dekorasi dari bahan ramah lingkungan tentu semakin asyik.

Produk Popok Mipacko | Foto: instagramwebs.com

Berbeda dengan Pokton yang mengubah limbah popok sekali pakai menjadi produk lain, Mipacko membuat popok versi ramah lingkungan. Popok kain dari microfiber merupakan salah satu produk andalannya.

Bahan microfiber yang bersifat hypoallergenic tidak menyebabkan alergi atas asma. Selain itu bahan ini juga unggul dalam menyerap air, ramah lingkungan, dan 99,94 persen efektif menghilangkan bakteri. Terlebih dapat digunakan ratusan kali, jadi lebih hemat pastinya.

Sumber: idai.or.id | mongabay.co.id | ecoton.or.id

Pilih BanggaBangga56%
Pilih SedihSedih3%
Pilih SenangSenang12%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi9%
Pilih TerpukauTerpukau21%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Nasi Kentut yang Memanjakan Lidah Sebelummnya

Nasi Kentut yang Memanjakan Lidah

Personal Branding Itu Penting, Lho Selanjutnya

Personal Branding Itu Penting, Lho

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.