Berkunjung ke Lasem, Membuat Hati Adem

Berkunjung ke Lasem, Membuat Hati Adem

© Nasuha Ali

Pertama kali mendengar kata Lasem buat saya adalah suatu daerah yang sangat asing di telinga. Bahkan untuk tahu di mana letaknya pun saya tidak mengerti.

Entah Lasem berada di Jawa Tengah ataupun di Jawa Timur. Semuanya serba tidak saya ketahui tentang Lasem. Semuanya serba abu-abu kalau kata anak alay jaman sekarang. Belum jelas asal-usulnya atau bahkan ceritanya, cuma bersumber dari “katanya.”

Pertama kali mendapat tawaran untuk berkunjung ke Lasem tentu jadi hal yang menarik buat saya. Selain menarik, hal itu akan menciptakan sebuah pengalaman baru di hidup saya.

Yang tadinya cuma tahu kota-kota di sekitar Jabodetabek saja, sekarang saya bisa mengujungi berbagai macam kota, yang dulu cuma bisa liat di berita-berita. Semuanya karena merantau.

Merantau yang membuat saya tahu kehidupan di luar sana. Membuat saya tahu bagaimana kebudayaan atau tradisi yang ada di suatu daerah yang bahkan begitu asing buat saya.

Begitupun tentang Lasem. Seminggu setelah tawaran berangkat ke Lasem, saya cuma membayangkan, bagaimana melihat sebuah wilayah baru yang (mungkin) menurut ekspektasi terbesar saya adalah semacam kabupaten yang sedang berkembang, dengan bangunan nan-super-megahnya.

(Biasanya), wilayah yang menuju berkembang adalah wilayah yang banyak dengan pusat perbelanjaan, atau apartemen dan hotel bintang lima yang semalam tidurnya bisa sampe setengah juta.

Setelah tawaran itu, rasa penasaran saya untuk lebih jauh berkenalan dengan Lasem semakin tinggi. Dari mulut ke mulut, saya bertanya tentang daerah ini. Di mana, seperti apa, dan bagaimana Lasem itu.

Pertanyaan sejenis yang sering muncul sebelum mimpi indah di malam hari. Bahkan terus menghantui, walau terkesan berlebihan.

Hari keberangkatan yang ditunggu akhirnya datang juga, Lasem sudah didepan mata. Perjalanan dari Kota Jogja menuju Lasem yang (kini) saya tahu hanyalah kota kecamatan di Kabupaten Rembang, yaitu sekitar 7 jam.

Waw... perjalanan yang akan sangat panjang. Namun, itu semua cukup membuat saya semakin penasaran akan daerah ini. Selalu terbayang bagaimana Lasem dengan muatan sejarah di dalamnya.

Banyak orang yang bilang, kalau Lasem itu punya cerita sejarah yang sangat kental. Khususnya tentang sejarah toleransi antarumat beragama.

Cerita daerah tanpa ada perbedaan dari siapapun yang tinggal di sana. Semuanya guyub menjadi satu, warga Lasem khususnya, dan Rembang pada umumnya. Daerah pesisir pantai utara ini semakin membuat saya semakin penasaran.

Benar kata pepatah: “Tak akan ada usaha yang sia-sia.”

Semua lelah selama perjalanan pun terbayar dengan ciri khas memasuki setiap daerah. Saya dan tim disambut hangatnya Kota Rembang yang sangat terik.

“Selamat Datang di Kota Rembang.”

Dan dibawah tulisan tersebut ada tulisan

“Rembang Bangkit.”

Bahagia mampu mengalahkan letih selama perjalanan. Nampak kota ini sangat jauh dari ekspektasi saya tentang kota yang tengah bangkit.

Di kota ini tanpa bangunan bertingkat yang sampai mampu menggapai langit luas. Bahkan, kota ini hanya menyediakan deburan ombak yang tenang khas lautan di pantai utara. Namun, perjalanan ini belum sampai. Lasem masih berjarak beberapa kilometer lagi.

Tidak ada yang lebih bahagia saat saya mulai melihat tanda-tanda telah memasuki daerah Lasem. Ada yang menarik dari daerah ini, yaitu banyaknya gapura yang didominasi warna merah dan aksara khas Tionghoa. Ternyata daerah ini adalah daerah yang menjadi domisili warga keturunan Tionghoa.

Dari sini muncul pertanyaan baru, apakah ini daerah yang didominasi mereka yang berasal dari Tionghoa? Jawabannya ternyata bukan seperti itu. Menurut sedikit sejarah yang saya pelajari, wilayah ini memang banyak warga Tionghoa, namun tidak sedikit juga warga pribumi yang tinggal di wilayah ini.

Berangkat ke Lasem, adalah suatu undangan yang spesial. Ternyata, di sini saya mendapat banyak pengalaman yang berharga. Tidak hanya berlibur, di sini saya juga sedikit banyak mengerti sejarah akan Lasem, yang memang ternyata terkenal dengan toleransi antarumat beragama.

Terutama antara Islam dengan Tionghoa. Mereka saling menghargai, bahkan mereka saling mengasihi layaknya Tuhan yang mengasihi umatnya. Tidak ada pertumpahan darah di sini, hanya karena gesekan-gesekan pribadi. Semua berbaur dalam satu kekuatan.

Inilah yang membuat Lasem menjadi berbeda. Lasem adalah daerah dengan penuh toleransi. Empat hari bukanlah waktu yang lama buat saya untuk mengenal Lasem lebih jauh. Bahkan, adalah hal yang salah bila kita punya tujuan hanya untuk menghabiskan akhir pekan atau libur panjang di Lasem. Perlu waktu yang tidak sebentar untuk belajar mengenali Lasem.

Toleransi menjadi hal utama yang menjadi ciri khas wilayah ini. Dari perjalanan saya selama tiga hari, saya yang berkesempatan baik diajak untuk berkunjung ke salah satu pesantren yang berada di wilayah Lasem.

Pesantren tersebut berada dikawasan Tionghoa, yang ternyata menjadi hal yang positif karena tidak ada perbedaan satu sama lain antara santri dengan warga sekitar, yang hampir kebanyakan warga Tionghoa.

Layaknya Indonesia yang dikenal Bhineka Tunggal Ika, Lasem pun seperti itu. Berbeda-beda namun tetap satu. Berbeda bukan berarti untuk berkonflik. Berbeda bukan berarti harus berperang. Berbeda adalah tentang kerukunan, mencintai perbedaan itu sendiri.

Itu yang saya dapatkan selama di Lasem. Bahkan, bukan hanya sekedar isapan jempol belaka Lasem menerapkan tentang Bhineka Tunggal ika. Di pesantren Kauman yang berada di wilayah yang didominasi Tionghoa itu, ada seorang santri yang beragama Katolik. Namun sayang, saat itu saya hanya berkesempatan mengunjungi pesantren saja. Tidak bertemu dengan santri tersebut.

Ini semakin menunjukkan, bahwa toleransi penting untuk terus ditegakkan. Bukan melihat siapa kamu dan dari mana asal kamu. Tapi, tentang bagaimana aku menghargai kamu dan kepercayaanmu.

Dari toleransi ini muncullah rasa saling menghargai yang sangat tinggi, karena saling menghargai dan percaya toleransi, bangsa ini pasti akan terhindar dari peperangan atau gesekan antarpribadi yang menyangkut SARA.

Bukankah lebih baik kita saling menghargai daripada kita saling mencari kekurangan masing-masing? Penasaran dan ingin belajar toleransi? Berkunjunglah ke Lasem!

Selain dikenal sebagai wilayah yang sangat menghargai toleransi, Lasem khususnya dan Rembang pada umumnya adalah kota yang penuh akan kebudayaan.

Adanya kesadaran dari beberapa tokoh masyarakat yang menyebut diri mereka sebagai fokmas (forum komunikasi masyarakat), menyebutkan bahwa Lasem saat ini sedang mencoba membangun kebudayaan Lasem yang masih ada.

Salah satunya dengan mempertahankan peninggalan-peninggalan yang ada dengan tetap mempertahankan bangunan-bangunan kuno baik khas Tiongkok, kolonial, ataupun bangunan khas Jawa.

Inilah yang sudah seharusnya dicontoh oleh kota-kota lainnya yang juga terdapat beberapa peninggalan bersejarah yang tentunya akan dirasakan oleh anak cucu kita nanti, sebagai penerus bangsa.

Katanya, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya, bukan pemilik modalnya.

Kesempatan selama di Lasem ini saya manfaatkan. Banyak peninggalan sejarah yang khas dan bahkan mendukung toleransi di atas. Di Lasem saya menemukan beberapa bangunan khas Tiongkok yang berpadu dengan arsitektur khas Jawa, Belanda, ataupun dengan Islam.

Bahkan Kalau merasa itu kurang cukup menjadi bukti bahwa Lasem adalah sebagai kota yang saling menghargai, berkunjunglah ke Warung Jinghe. Warung tempat berkumpulnya masyarakat Lasem ataupun luar Lasem. Di warung itu terdapat santri, pegawai, kyai, ataupun para engkoh-engkoh yang sehabis berdagang.

Jangan lupa, di setiap kesempatan mengunjungi wilayah baru bahkan seperti Lasem ini yang sayang untuk dilewatkan adalah kuliner khas Lasem. Di Lasem, banyak tempat yang mengakomodasi kita para wisatawan untuk mencicipi panganan khasnya yang berbaur langsung dengan warga masyarakat Lasem.

Di atas, Warung Jinghe adalah tempat favorit santri dan warga Tionghoa untuk berkumpul. Pemandangan ini akan sangat jarang dilihat di manapun, bahkan sedikit dapat dilihat di indonesia.

Kalau kurang, berkunjunglah ke warung sate kambing di sebrang Masjid Agung Lasem. Kalau bisa datang ke tempat ini tidak terlalu siang. Kita dapat berkumpul dengan warga asli Lasem dengan berbagai macam profesi.

Pernah coba kopi lelet? Kopi yang ampasnya dioleskan ke rokok yang sedang atau akan digunakan. Atau bisa coba Lontong Tuyuhan. Lontong ini sangat fenomenal di wilayah Lasem dan Kabupaten Rembang.

Akan sangat menyesal kalau kita lewat atau singgah di kota ini tapi melewatkan citarasa luar biasa Nusantara, karena lontong tuyuhan tidak hanya mengganjal perut, tapi juga cukup buat saya ketagihan untuk terus menambah porsi.

Tenang aja, lontong tuyuhan nggak bikin kantong kita kering kok. Ada lagi makanan khas Lasem yaitu bestik atau bistik. Irisan daging sapi yang diolah lembut ditambah dengan bumbu yang khas pun bikin saya merasa selalu kelaparan. Selalu ada rasa ingin nambah lagi dan lagi.

Kalau merasa kurang di Lasem atau Rembang cuma belajar sejarah, atau belajar tentang toleransi, atau kuliner di kota ini. Jangan khawatir. Rembang punya banyak pilihan wisata daerah pesisir.

Di wilayah Lasem, ada satu pantai yang terkenal. Karakteristik ombak pantai utara yang tenang dan suasana yang relatif masih sepi bisa menjadi referensi bagi kita yang ingin memperoleh ketenangan dari deburan ombak.

Wisata bahari di sini pun masih relatif bersih. Cenderung terawat karena masih minimnya wisatawan yang berkunjung. Hanya di hari-hari tertentu saja. Memang pantainya tidak sejernih pantai-pantai di Indonesia bagian timur. Tapi, cukup jadi pilihan wisata di akhir pekan atau liburan panjang.

Memang, butuh lebih dari 4 hari untuk menjelajahi keindahan kota Rembang dan Lasem sebagai pelengkap dengan toleransinya. Tak perlu modal besar dan jauh untuk menikmati Indonesia, karena Indonesia bukan tentang keindahan alamnya saja.

Indonesia adalah tentang keberagamannya. Beragam wisata, beragam adat, beragam kebiasaan, hingga beragamnya suku dan agama yang (mungkin) tidak dimiliki oleh negara lainnya.

Toleransi, adalah hal yang penting bagi negara ini. Negara ini hadir karena toleransi antarmanusia yang ada didalamnya. Menjaga toleransi sama halnya dengan menjaga bayi yang sedang digendong. Butuh perhatian, bahkan kasih sayang lebih untuk menjaganya agar tidak jatuh. Senantiasa dilindungi agar tetap terjaga.

Ilmu tentang toleransi mungkin tidak akan saya dapatkan di berbagai kota. Di Jogja saya belajar menghargai dengan cara yang sangat lembut. Di Lasem (Rembang), saya belajar menghargai melalui toleransi antarumat beragama.

Toleransi bukan tentang siapa yang kaya dan siapa yang miskin. Toleransi bukan tentang siapa yang menjadi raja dan siapa yang menjadi pesuruh. Toleransi tentang perasaan yang saling menghargai.

Dari Lasem, saya sedikit banyak belajar tentang toleransi dan menghargai sesama manusia. Tidak peduli dia dari wilayah apa, suku apa, agama apa. Sudah bukan waktunya lagi (kita) jadikan toleransi sebagai alasan untuk berbeda, dan jadikan perbedaan sebagai alat untuk menebar konflik, menebar kebencian.

Sudah bukan waktunya lagi kita saling berkonflik mengangkat senjata dan parang. Sudah bukan waktunya lagi kita saling mencerca dan menghina satu sama lain.

Belajarlah ke luar, duniamu lebih lebar dari kedua bola matamu. Banyak pelajaran yang bisa didapat di luar sana. Bahkan tidak cukup hanya membuka mata untuk melihat betapa luasnya negara Ibu Pertiwi ini.

Berjalanlah untuk mencari ilmu, bukan mencari likers di Instagram-mu. Masih banyak hal yang harus saya tahu dari dunia ini.

Dari Lasem, saya diajarkan untuk menghargai antarsesama. Siapapun itu. Tidak peduli dari mana, dia siapa, dan dari mana dia dilahirkan. Ternyata, Lasem mengajarkan saya bahwa hidup itu tentang bertoleransi, tentang menghargai.

Mungkin efeknya tidak akan terasa secepat kilat. Namun, percaya atau tidak, dari rasa toleransi itu akan timbul rasa cinta yang lebih untuk tetap menghargai dan mencintai, khususnya kepada negeri ini.

Sampai kapan pun, saya ingin tetap keluar. Membuka mata dan melihat dunia. Serta terus berjalan untuk mencari ilmu yang berbeda di setiap langkah kakinya.

Pilih BanggaBangga20%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang40%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau40%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Hubungan Indonesia dan Portugal Melalui Keroncong Sebelummnya

Hubungan Indonesia dan Portugal Melalui Keroncong

Tetra Pak Dukung Terus Inovasi Kemasan Ramah Lingkungan Selanjutnya

Tetra Pak Dukung Terus Inovasi Kemasan Ramah Lingkungan

Nasuha Ali
@nasuhaalii

Nasuha Ali

Pemuda yang sedang belajar menjadi content writer. Memiliki kecintaan terhadap Indonesia dan memiliki mimpi untuk mengelilingi dan menikmati seluruh keindahan yang negeri ini miliki.

1 Komentar

  • Rafi G

    Kota Lasem atau kota Rembang adalah jalur lintasan kami saat menuju ke Banyuwangi.

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.