Asrinya Bandara Hijau Pertama di Indonesia

Asrinya Bandara Hijau Pertama di Indonesia

Bandara Banyuwangi | Foto: patainews.com

Saat ini konsep ramah lingkungan serta hemat energi mulai banyak diterapkan, tak terkecuali pada bandar udara. Bandara Internasional Banyuwangi yang terletak di Desa Blimbingsari, Kecamatan Blimbingsari, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur dibuka pada 29 Desember 2010 dan menjadi bandara hijau pertama di Indonesia.

Bandara tersebut lahir dari sebuah gagasan seorang Bupati Banyuwangi Purnomo Sidik (1991-2000) pada periode akhir jabatannya saat itu. Kecamatan Blimbingsari yang merupakan lokasi bandara saat ini adalah lokasi baru, awalnya bandara akan dibangun di Kecamatan Glenmore, namun kondisi topografi yang bergunung-gunung membuatnya tak layak dan diharuskan untuk berpindah tempat.

Kunjungan singkat Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal pada 29 Desember 2008 menjadi titik terang pembangunan Bandar Udara Banyuwangi. Penerbangan komersil mulai tersedia pada 29 Desember 2010, sebelumnya pada 26 Desember 2010 sudah dilakukan uji kelayakan terbang menggunakan pesawat C208 Grand Karavan.

Landasan pacu Bandara Banyuwangi | Foto: keposiasi.com

Pada tahun 2015 pemerintah melakukan pemugaran dengan membangun terminal yang lebih besar. Sokongan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Jawa Timur sebesar Rp 22,5 miliar dan APBD Kabupaten Banyuwangi sebesar Rp 10,5 miliar digunakan untuk menambah aksesori, elektrikal, membangun musala, dan area parkir.

Konsep hijau dan ramah lingkungan terlihat dari atap terminal yang ditanami tanaman, konservasi air dan sunroof menjadi sumber cahaya alami di siang hari. Bangunan terminal baru ini terinspirasi dari bentuk ikat kepala khas Suku Osing.

Desainernya adalah Isandra Matin Ahmad atau Andra Matin, seorang arsitek kebanggaan bangsa yang pernah dinobatkan sebagai salah satu arsitek dari 101 arsitek dunia yang paling berkiprah versi Wallpaper Architecture Directory pada 2007. Selain itu, ia mendirikan Andra Matin Architects pada 1988.

Mengutip dari penuturan Abdullah Azwar Anas sebagai Bupati Banyuwangi usai peresmian penerbangan perdana Garuda Indonesia di Bandara Banyuwangi, pada Kamis (01/05/2014), konsep green architecture yang diterapkan adalah passive design. Konsep tersebut membuat sebuah bangunan lebih hemat energi dengan penataan ruang, bukan dengan teknologi seperti solar cell.

Tampak Depan Bandara Banyuwangi | Foto: jatimnet.com

Kayu Ulin bekas menjadi bahan utama tiang penyangga maupun dinding bangunan bandara. Kayu tersebut dipilih karena sangat kuat dan tahan rayap. Penerapan konsep hijau membuat biaya operasional dan pembangunan bandara menjadi lebih hemat yakni Rp 40 miliar saja.

Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa, Kementerian Koordinator Kemaritiman Agung Kuswandoro mencontohkan Bandara Banyuwangi sebagai bangunan publik hemat energi dan ramah lingkungan. Hal tersebut disampaikan saat rapat koordinasi yang berlangsung pada 7-9 Agustus kemarin bersama 50 peserta dari kalangan pemerintahan dan membahas tentang konservasi energi.

Tertarik untuk berkunjung?

Sumber: finance.detik.com | nusabali.com | wikipedia.org

Pilih BanggaBangga44%
Pilih SedihSedih6%
Pilih SenangSenang6%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi28%
Pilih TerpukauTerpukau17%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Good News From Indonesia

Tato, Bukan Sekadar Pola Tergambar di Kulit Sebelummnya

Tato, Bukan Sekadar Pola Tergambar di Kulit

Indonesia dan Brunei (Mungkin) Saling Iri Selanjutnya

Indonesia dan Brunei (Mungkin) Saling Iri

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.