Kenapa SARA Perlu Dihindari

Kenapa SARA Perlu Dihindari

© Bimo Luki/Unsplash

Saya sebagai orang kelahiran Surabaya tahun 1950-an beruntung memiliki pengalaman hidup yang bagus yaitu soal kerukunan antar-suku bangsa.

Di kampung saya yang terletak di Surabaya pusat utara, penduduknya itu dari berbagai suku. Ada Jawa, Cina dan Madura. Di tempat famili saya di Surabaya utara di daerah Ampel sampai lebih utara lagi yaitu Tanjung Perak malah lebih beragam. Ada Jawa, Cina, Madura, Arab, Manado, Bugis dan Ambon.

Tahun 1950 sampai 1960-an saya menyaksikan hidup rukun di antara sesama, tidak ada perbedaan.

Kakak sepupu saya (almarhum) Cak Tholib selalu berpasangan setiap tahun dengan tetangga Cina, Om Hendrik namanya, dalam bermain badminton di acara 17 Agustusan. Ketua RT kampung saya orang Cina, Om Yancing begitu kami memanggilnya.

Semua suku yang ada di kampung itu saling bertegur sapa dengan ramah. Bahkan ketika saya kecil ketika “berkelahi” dengan anak Cina atau Madura kami saling olok tentang asal kita, tapi tidak menjadi persoalan penting. Besoknya rukun kembali.

Dalam sejarah revolusi kemerdekaan perang Surabaya atau The Battle of Surabaya, para pejuang Arek-Arek Suroboyo itu berasal dari berbagai suku. Sumatra, Jawa, Ambon, Bugis, dsb.

Orang Cina Surabaya ya bebahasa khas Surabaya, orang Cina Madura ya berbahasa Madura, bahkan seorang guru besar, dosen saya di kampus tahun 1970-an seorang Cina kelahiran Jawa Tengah, bahasa Jawa-nya halus banget.

Kami waktu itu juga tidak heran ketika orang Cina, juragan becak yang menyewa rumah saya, mempunyai kerabat yang menjadi anggota KKO-AL atau Korps Komando Angkatan Laut (sekarang Marinir).

BACA JUGA: Anak-anak Bangsa yang Mengguncang Dunia Perlu Sinergi

Saya hanya sekali menyaksikan penjarahan toko-toko milik saudara-saudara keturunan Cina tahun 1960-an, zamannya presiden Soekarno ketika warga Surabaya marah mendengar dua anggota KKO-AL dihukum gantung di Singapura, ketika ada konfrontasi dengan Malaysia.

Huru-hara itu terjadi di Surabaya karena kota terbesar kedua ini markasnya Angkatan Laut dan KKO. Setelah kejadian itu saya tidak pernah menyaksikan konflik warga karena latar belakang suku.

Nampaknya pengalaman pribadi saya ini juga dialami orang seusia dan di atas saya yang tinggal di perkampungan Surabaya. Pengalaman saya ini juga dialami generasi di bawah saya misalnya Andrea Hirata penulis novel Laskar Pelangi yang mengambil cerita di daerah Bangka Belitung, Sumatra.

Di daerah lain seperti DKI, Semarang, Kalimantan, Manado dll juga mempunyai pengalaman seperti yang saya alami.

Seiring dengan perkembangan zaman, dinamika politik zaman Orde Baru-nya presiden Soeharto muncul kata SARA ini. Kepanjangan dari Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (?).

Rezim Suharto yang didominasi militer selalu wanti-wanti agar rakyat menghindari konflik yang berlatar belakang SARA ini. Presiden Suharto yang mempunyai program transmigrasi untuk mengurangi kepadatan penduduk di Jawa mengirim banyak saudara-saudara suku Jawa dan Bali yang pindah ke luar pulau.

Ada yang mengkritik “Jawanisasi” karena selain transmigrasi, rezim Orde Baru menempatkan gubernur, wali kota, kepala militer, Polri, dan kepala dinas kebanyakan dari Jawa.

Pada akhir–akhir zaman Orba itu muncul konflik bernuansa SARA di berbagai daerah seperti Kalimantan Barat (ratusan ribu orang dari suku tertentu mengungsi ke luar Kalimantan), muncul konflik bernuansa agama di Ambon dan Poso, dan muncul pula keinginan daerah agar pemimpin daerah itu “putra daerah” dan bukan “pendatang”.

BACA JUGA: Keceriaan yang Tersisa dari September

Di negara-negara lain memang kita saksikan akibat berbahaya dari konflik SARA ini misalkan sebelum dan saat perang dunia II, Nazi Jerman membenci dan membunuh jutaan orang keturunan Yahudi. Di Rwanda, Afrika, jutaan orang termasuk wanita, orang tua, dan anak kecil dibunuh di jalan-jalan, di dalam rumah, di desa-desa, karena kebencian terhadap suku.

Di negara barat, Eropa dan Amerika Serikat (sampai saat ini) muncul gerakan “White Supremacy” atau supremasi orang kulit putih terhadap kulit berwarna. Malahan ada yang membunuh jamaah masjid di Selandia Baru, saking bencinya dengan warga yang bukan dari kelompoknya. Orang yang membunuh ini melakukannya dengan merekam tindakan kejinya.

Sejarah peradaban barat yang menjajah negara-negara lain mencatat pembunuhan terhadap jutaan warga asli. Dalam sejarah modern pun kita menyaksikan pembunuhan etnik atau ethnic cleansing warga Serbia terhadap warga Bosnia berdasarkan kebencian agama.

Di Wamena, Papua, akibat provokasi juga terjadi kebencian terhadap suku lain. Padahal selama ini semua pendatang dari suku-suku lain saling hidup berdampingan dengan damai. Saya baru-baru ini menulis di Good News from Indonesia tentang pengalaman junior saya dari FE Unair yang mengabdikan dirinya di dunia pendidikan di Papua bisa hidup rukun dengan warga setempat.

BACA JUGA: Senyum Anak-anak Papua, Membuatnya Tidak Tega Meninggalkan Mereka

Junior saya alumni FE Unair juga mewanti-wanti para alumni di WA grupnya Ikatan Alumni agar menghindari perseteruan yang tajam hal-hal yang bersifat SARA. Boleh berbeda pandangan dalam menyikapi dinamika politik yang terjadi di nusantara yang tercinta ini, namun tolong jangan menyinggung masalah SARA.

Saya setuju dengan pendapat dia, karena saya tahu akibat konflik berlatar belakang SARA di negara-negara lain begitu bahayanya, dan lama sembuhnya. Saya sendiri adalah orang yang mengalami hidup rukun dengan tetangga tanpa melihat latar belakang SARA.

Saya percaya bahwa baik itu pendatang maupun penduduk asli adalah sama-sama Indonesia. Apa lagi agama saya mengajarkan bahwa Allah Tuhan yang Maha Esa itu menerima kita bukan karena latar belakang kita, bukan suku kita, bukan jabatan kita, bukan kaya miskinnya kita, bukan karena cantik, ganteng dan buruk rupa kita, tapi karena amal baik kita.

Sejarah Nabi Muhammaad SAW pun juga mengajarkan bahwa beliau tidak memilih-milih sahabat. Sahabat Iqbal yang melantunkan azan pertama berasal dari Afrika, tepatnya dari daerah antara Mesir dan Sudan. Dia berkulit hitam. Ada lagi sahabat Salman Al Farisi yang berasal dari Persia, berkulit putih, dll.

“Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain,” begitu kata ajaran agama yang luhur.

Pilih BanggaBangga50%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang50%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Salah Satu Stasiun Tertua Di Indonesia Sebelummnya

Salah Satu Stasiun Tertua Di Indonesia

Ini Skema Tarif Tol Pertama di Kalimantan Selanjutnya

Ini Skema Tarif Tol Pertama di Kalimantan

Ahmad Cholis Hamzah
@achamzah

Ahmad Cholis Hamzah

Seorang mantan staf ahli bidang ekonomi kedutaan yang kini mengajar sebagai dosen dan aktif menjadi kolumnis di beberapa media nasional.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.