Fort Rotterdam; Saksi Sejarah Perkembangan Makassar

Fort Rotterdam; Saksi Sejarah Perkembangan Makassar

Batuan yang digunakan pada dinding Benteng Fort Rotterdam adalah batu tuffa. © Wikipedia

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Kota Makassar tidak hanya dikenal akan lagu Anging Mammiri dan Pantai Losari saja. Kota Makassar juga memiliki bangunan yang menjadi saksi sejarah perkembangan Makassar. Benteng Jumpandang atau Benteng Ujung Pandang, yang kini bernama Benteng Fort Rotterdam adalah salah satu saksi bisu kejayaan Kerajaan Gowa di Makassar. Benteng yang biasanya disebut Benteng Penyyua oleh masyarkat setempat memiliki filosifis layaknya penyu yang mampu bertahan hidup di darat maupun di air. Begitulah Kerajaan Gowa pada masa lampau, yang berjaya di kawasan darat Sulawesi dan menguasai perairan di sekitarnya sebelum dikalahkan oleh VOC.

Benteng Fort Rotterdam berada di Jl. Ujung Pandang, Bulo Gading, Ujung Pandang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Benteng tersebut dibangun sekitar tahun 1545 oleh raja Gowa saat itu yakni I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi Kallona. Benteng Jumpandang berganti nama menjadi Benteng Fort Rotterdam setelah Kerajaan Gowa kalah perang dengan kongsi dagang Belanda (VOC) yang dipimpin oleh Cornelis Speelman. Cornelis Speelman memilih nama Fort Rotterdam sebagai nama benteng guna mengenang kota kelahirannya di Belanda.

Masyarakat setempat menyebut benteng Fort Rotterdam dengan benteng Penyyua karena jika dilihat dari udara (atas) bentuk benteng Fort Rotterdam mirip dengan bentuk penyu yang hendak turun ke laut. | Sumber Ceritaeka

Pihak kerajaan Gowa terpaksa menandatangi perjanjian Bongayya akibat menelan kekalahan setelah berperang selama satu tahun melawan VOC. Salah satu isi perjanjian Bongayya adalah harus menyerahkan benteng Jumpandang beserta perkampungan di sekitarnya kepada pihak VOC. Akibat perang tersebut, bangunan benteng banyak yang hancur di berbagai sisi. Benteng yang memiliki desain arsitektur gaya Portugis ini kemudian direnovasi oleh Speelman dengan tambahan desain arsitektus gaya Belanda dan dijadikan sebagai pusat militer Belanda.

Benteng Fort Rotterdam terdaftar sebagai bangunan bersejarah pada 23 Mei 1940. Benteng Fort Rotterdam bukanlah benteng tak berpenghuni dan layaknya bangunan terbengkalai yang angker. Benteng Fort Rotterdam kini menjadi pusat Kebudayaan Kota Makassar sehingga benteng beserta bangunan-bangunan di dalamnya tetap terawat serta tidak terkesan angker. Terdapat juga Museum Lagaligo yang berisi banyak benda-benda yang menjadi saksi sejarah perjalanan Makassar dari masa lampau hingga kini.

Tebalnya dinding benteng Fort Rotterdam adalah 2 meter, dan tingginya 7 meter. | TripTrus

Untuk mengunjungi Benteng Fort Rotterdam yang megah ini, pengunjung tidak ditarik biaya tiket masuk. Namun, pengunjung dapat mendonasikan secara suka rela guna menjaga terawatnya dan kelestarian Benteng Fort Rotterdam tersebut. Berbeda dengan tiket masuk Museum Lagaligo yakni seharga Rp 7.500,00 untuk setiap orangnya. Dengan biaya yang terjangkau, pengunjung dapat menikmati kemegahan Benteng Fort Rotterdam serta edukasi kilas sejarah Makassar di Museum Lagaligo. Perlu diketahui Benteng Fort Rotterdam dibuka untuk umum setiap hari mulai pukul 8 pagi hingga 6 sore, namun Museum Logaligo hanya dibuka pada hari Selasa hingga hari Minggu pukul 8 pagi hingga 12.30 siang.

Catatan kaki: Historia.id | Indonesiakaya | travel detik

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga25%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli25%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi25%
Pilih TerpukauTerpukau25%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Keunikan Rumah Adat Suku Baduy Sebelummnya

Keunikan Rumah Adat Suku Baduy

Tren Sepekan: STNK Becak, Embun Upas, dan Robot Wisuda Selanjutnya

Tren Sepekan: STNK Becak, Embun Upas, dan Robot Wisuda

Wihdi Luthfi
@wihdiluthfi

Wihdi Luthfi

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.