Enbal, Singkong Beracun Kesukaan Warga Kei

Enbal, Singkong Beracun Kesukaan Warga Kei
info gambar utama

Salah satu kuliner khas yang bisa ditemukan jika berjalan-jalan di Kepulauan Kei, Maluku Tenggara, adalah berbagai hasil olahan umbi akar, enbal. Uniknya enbal sendiri sebenarnya merupakan jenis singkong yang memiliki kandungan racun sianida.

Mendengar sianida mungkin kita akan berpikir berulang kali untuk menyantap olahan-olahan enbal, namun sebenarnya dengan melakukan proses yang benar racun tersebut bisa dihilangkan, sehingga selanjutnya dapat diproses menjadi bahan dasar makanan.

Bentuk bungan enbal yang siap disantap| Foto: viva.co.id
info gambar

Warga Kei sendiri sudah mahir dalam mengolah enbal, sehingga rasa pahit dan racun yang ada bisa hilang. Enbal yang telah diproses dan menjadi tepung sering kali diolah menjadi kudapan ringan atau pendamping, seperti bunga enbal dan pisang enbal.

Makanan yang bisa ditemui di pasar-pasar hinga rumah warga tersebut bahkan dulunya pernah menjadi makanan pokok pengganti nasi di kawasan Kei.

Proses penghilangan racun

Sebelum menjadi tepung enbal, singkong sianida tersebut harus melalui proses penghilangan racun agar aman untuk dikonsumsi. Proses pengeluaran racun dimulai dengan mengupas, membilas dan merendam singkong enbal. Setelah bersih umbi yang masih memiliki kandungan racun tersebut diparut dengan parutan konvensional.

Salah satu tahap dalam proses penghilangan racun singkong enbal | Foto: medium.com/Pabliyanda Akbario
info gambar

Hasil parutan singkong enbal selanjutnya dikumpulkan dalam sebuah kain kasa yang selajutnya dimasukan dalam alat penekan. Proses ini adalah kunci pengeluaran racun yang dimiliki oleh singkong enbal.

Saat ditekan, singkong akan terperas, sehingga mengeluarkan air dan patinya. Biasanya tahap penekanan atau pemerasan ini dilakukan selama semalam.

Proses itu harus dilakukan hingga singkong enbal kering. Hasilnya kemudian biasa disebut dengan enbal gepe. Untuk mendapatkan hasil tepung dengan tekstur yang lebih halus biasanya enbal gepe pun dijemur dan diayak kembali.

Kandungan gizi enbal

Tak hanya racun, enbal juga memiliki kandungan lain yang bermanfaat untuk tubuh. Dilansir dari doctorshare.org, Elizabeth J. Tapotubun dalam tesisnya di tahun 2012 yang membahas tentang kandungan gizi enbal, menjelaskan bahwa umbi tersebut memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi.

Karbohidrat dan lemak memang tetap bisa bertahan setelah berbagai proses pengolahan enbal. Sayangnya proses pengeluaran racun yang ikut mengurangi kadar air menyebabkan kandunngan lain seperti vitamin, asam amino dan zat warna menjadi rusak atau berkurang.

Dibawa dari Bali

Konon singkong enbal sendiri bukan tanaman asli yang tumbuh di Kepulauan Kei. Keberadannya muncul setelah dibawa oleh Raja Kepulauan Kei, Abdul Hamid pada 1921, setelah pergi merantau ke Bali.

Namanya pun berasal dari bahasa setempat yang berarti Ubi Bali. Singkong yang awalnya dibudidayakan di Kepulauan Kei Besar itu akhirnya tersebar ke seluruh Kepulauan Kei.

Budidaya tanaman yang memiliki nama latin manihot esculenta tersebut umumnya dilakukan dengan pembersihan lahan. Hal itu dilakukan dengan membabat rumput dan pepohonan yang dibiarkan selama dua minggu dan selanjutnya dibakar saat lahan tersebut kering.

Batang singkong enbal biasannya si setek atau dipotong dengan ukuran 13 hingga 14 cm dan kemudian siap dipanen kembali saat berumur 8 bulan hingga satu tahun.

Sumber: suara.com | tempo.co | kemendikbud.go.id | doctorshare.org

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AH
AI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini