Sroto Klamud, Inovasi Baru Soto yang Unik dari Purbalingga

Sroto Klamud, Inovasi Baru Soto yang Unik dari Purbalingga

Sroto Klamud dari Purbalingga © Foto: instagram.com/srotoklamudtoyerja

Jika Kawan GNFI adalah seorang pencinta kuliner, pasti kalian tahu dong kuliner soto? Nah di Indonesia sendiri terdapat makanan baru khas Purbalingga, yaitu Sroto Klamud.

Sebenarnya sroto merupakan sebutan soto oleh orang “Panginyongan” di Purbalingga, Jawa Tengah. Tidak hanya penyebutannya saja yang unik, soto di wilayah ini juga memiliki racikan yang berbeda dengan soto yang lainnya.

Sroto Klamud ini menjadi inovasi baru dalam dunia kuliner khususnya di bidang soto. Keunikan rasanya diakui hingga berhasil meraih juara pertama dalam kategori makanan dengan bahan dasar non beras pada ajang lomba makanan khas tingkat Provinsi Jawa Tengah pada Juli tahun ini.

Jika kita lihat sekilas dari kuahnya, memang serupa dengan soto pada umumnya. Perbedaan sroto klamud dengan soto lainnya yaitu terletak pada isian dan wadahnya. Soto satu ini berbahan dasar dan berwadahkan kelapa muda. Unik bukan?

Sroto ini menggunakan batok kelapa sebagai wadahnya | Foto: PesonaIndonesia

Bagi Kawan GNFI yang ingin merasakan kelezatan soto ini, baiknya yuk kita simak beberapa fakta menarik terkait sroto klamud ini!

Kepanjangan dari kelapa muda

Pasti Kawan GNFI bertanya-tanya, mengapa makanan ini diberi nama sroto klamud? Jika kita lihat dari bahan bakunya, mungkin kalian akan sadar bahwa klamud merupakan kepanjangan dari kelapa muda.

Hal ini bisa dibuktikan dengan wadah dan isian soto khas Purbalingga ini yang menggunakan kelapa muda.

Bihunnya diganti dengan kelapa muda

Sroto klamud tidak menggunakan bihun seperti soto pada umumnya, melainkan parutan kelapa muda. Sebagai pengganti bihun, digunakan daging kelapa muda yang telah diserut, kemudian ditaburi garam dan dikukus selama 30 menit agar rasa mentahnya hilang.

Ketupat yang diganti dengan ciwel

Jika sroto Purbalingga menggunakan nasi atau ketupat, tidak dengan sroto klamud, yang memakai bahan non beras yakni ciwel. Ciwel merupakan jajan pasar yang berwarna hitam kecokelatan yang terbuat dari tepung singkong yang direndam dalam cairan rendaman jerami padi.

Ciwel ini mempunyai tekstur yang kenyal sehingga, menghasilkan kombinasi yang menarik dan rasa yang otentik khas Purbalingga.

Wadahnya menggunakan batok kelapa

Jika soto pada umumnya menggunakan mangkok, lain halnya dengan sroto klamud yang menggunakan wadah langsung dari batok kelapa muda lengkap dengan serabutannya. Meskipun menggunakan batok kelapa muda, namun kuahnya tidak menggunakan air asli kelapa, karena akan memberikan rasa asam. Selain itu, wadah yang digunakan hanya sekali pakai saja.

Berlokasi di Toyareja

Sroto Klamud berlokasi di Jalan Toyareja, Dusun 1, Toyareja, Kecamatan Purbalingga, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.

Buka mulai dari pukul 09.00 pagi hingga pukul 18.000 sore. Sroto klamud selalu ramai pembeli. Hadiyah Rubi Wahyuni adalah sosok di balik sroto ini. Berkat racikan tangan handalnya, terciptalah sroto klamud yang unik dan khas.

Bahkan, soto ini memenangkan perlombaan kuliner di Jawa Tengah. Inilah yang membuat Hadiyah berani untuk menjajakan makanan ini secara umum.

Harga yang ekonomis

Sroto klamud dengan menggunakan daging ayam ini dihargai seharga Rp18 ribu, sedangkan kalau pakai babat atau daging sapi seharga Rp20.000. Jika menggunakan mangkok biasa harganya Rp15.000 dan sroto original harganya Rp10.000 per mangkok.

Murah bukan? Harga ini sangat terjangkau untuk merasakan sroto klamud dengan cita rasa yang unik dan lezat.

Bagaimana Kawan GNFI, tertarik untuk mencicipinya?


Catatan kaki: PesonaIndonesia | IDNtimes | Liputan6.com

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Belajar Sains melalui Film di Science Film Festival Sebelummnya

Belajar Sains melalui Film di Science Film Festival

Burnout: Definisi hingga Tips Mengatasinya oleh Astuti Martosudirdjo Selanjutnya

Burnout: Definisi hingga Tips Mengatasinya oleh Astuti Martosudirdjo

Asriyati .
@asriyati

Asriyati .

Hii Saya mahasiswi Universitas Multimedia Nusantara (UMN) yang lagi magang di Good News From Indonesia, bimbing aku yaa.. hehe

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.