Mengulik Legenda Taman Sari, Tempat Pemandian Keluarga Keraton

Mengulik Legenda Taman Sari, Tempat Pemandian Keluarga Keraton

Taman Sari Yogyakarta © hargatiket.net

Destinasi wisata yang ada di Yogyakarta memang tak pernah ada habisnya, mulai dari wisata sejarah, wisata kuliner, hingga wisata alamnya. Kota yang terkenal dengan gudegnya ini memiliki sebuah wisata sejarah berupa situs bekas taman istana Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat atau yang biasa dikenal dengan Taman Sari Keraton Yogyakarta.

Situs tersebut dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I oleh Susuhunan Paku Buwono II dan seorang arsitek yang berasal dari Portugis di atas lahan seluas 10 hektare pada tahun 1758 Masehi, dengan sekitar 57 bangunan berupa gedung, kolam pemandian, jembatan gantung, kanal air, danau buatan beserta pulau buatan dan lorong bawah air.

Taman yang dulu mendapatkan julukan "The Fragrant Garden" ini memiliki empat bagian kompleks. Bagian pertama adalah danau buatan yang terletak di sebelah barat, bagian kedua berada di sebelah selatan danau buatan yaitu Pemandian Umbul Binangun, ketiga Pasarean Ledok Sari dan Kolam Garjitawati yang terletak di selatan bagian kedua, dan bagian terakhir adalah bagian sebelah timur meluas sampai tenggara kompleks Magangan.

Pada tahun 1867, di masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VI, terjadi gempa besar yang meruntuhkan bangunan-bangunan di Yogyakarta. Kompleks bangunan Taman Sari mengalami kerusakan yang cukup parah dan menjadi terbengkalai. Renovasi pun dilakukan sejak 1977 pada beberapa bangunan yang masih bisa diselamatkan.

Gempa besar kembali terjadi di Yogyakarta pada 2006 dengan kekuatan 5,9 SR dan Taman Sari kembali mengalami kerusakan. Proses renovasi dan revitalisasi pun kembali dilakukan pada beberapa bangunan.

Tempat Pemandian Keluarga Keraton | Foto: Tri Asih Munaji/travelingyuk.com

Kini, Taman Sari yang sempat tinggal reruntuhan mulai bersolek dan menjadi objek wisata sejarah. Ada cerita yang sangat melegenda jika berkunjung ke sana, yaitu tentang menara di bagian tengah yang memisahkan kolam besar dengan kolam kecil di samping.

Dahulu, tempat tersebut digunakan oleh keluarga sultan sebagai tempat pemandian dan peristirahatan. Selain sebagai tempat keluarga keraton beristirahat, Taman Sari juga memiliki fungsi lain, yaitu sebagai tempat pertahanan, tempat religius, dan tempat pesiar atau rekreasi.

Sebagai tempat pertahanan dan perlindungan, terlihat dari adanya benteng keliling yang tinggi, adanya baluwer untuk menempatkan persenjataan, gerbang atau gapura yang dilengkapi beberapa tempat penjagaan para prajurit dan abdi dalem serta adanya jalan bawah tanah yang menghubungkan satu tempat ke tempat lain.

Masjid bawah tanah Taman Sari | Foto: Flickr

Sebagai tempat religius, bangunan Taman Sari difungsikan untuk aktivitas religi dan meditasi bagi sultan. Ibadah dilakukan di masjid bawah tanah yang sangat unik, memiliki dua lantai dengan desain melingkar seperti panggung yang dikelilingi oleh lima tangga yang melambangkan jumlah Rukun Islam.

Sedangkan meditasi dilakukan di Pulo Panembung dan Sumur Gumuling yang berada di tengah kolam Segaran. Fungsi selanjutnya sebagai tempat pesiar, terlihat dari adanya beberapa fasilitas di Taman Sari, seperti umbul, pasiraman, kolam, segaran, dan pertamanan.

Wisata sejarah Taman Sari ini tak hanya ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal, tapi banyak juga wisatawan asing yang datang dan tertarik dengan legenda yang ada.


Referensi: kompas.com | travelingyuk.com

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang14%
Pilih Tak PeduliTak Peduli14%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi29%
Pilih TerpukauTerpukau43%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Indonesia Miliki Koleksi Lontar Terlengkap di Dunia Sebelummnya

Indonesia Miliki Koleksi Lontar Terlengkap di Dunia

Bersenyawa dengan Kukila: Harmoni Hidup antara Manusia dengan Kukila di Hutan Kemuning Selanjutnya

Bersenyawa dengan Kukila: Harmoni Hidup antara Manusia dengan Kukila di Hutan Kemuning

Dessy Astuti
@desstutt

Dessy Astuti

Literasi-kata.blogspot.com

Si penyuka buku, bakso, dan kucing.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.