Mini Afrika di Ujung Timur Pulau Jawa

Mini Afrika di Ujung Timur Pulau Jawa
info gambar utama

Berwisata ria dengan memanjakan mata melihat hamparan pegunungan hijau adalah hal yang sudah biasa. Bagaimana jika Kawan GNFI pergi ke padang savana dengan hamparan tanah luas, serta rumput kering tandus yang menguning? Kira-kira di mana ya tempat seperti itu?

Ya, di Afrika! Seperti yang sudah Kawan GNFI ketahui, Afrika merupakan sebuah negara yang memiliki banyak sekali padang savana indah dengan beragam satwanya. Tapi tidak perlu jauh-jauh ke Afrika untuk menikmati padang savana, Indonesia juga punya lho!

Nama padang savana tersebut adalah Taman Nasional Baluran (TNB). Dinamakan Taman Nasional Baluran ialah karena taman nasional tersebut letaknya berada dekat dengan Gunung Baluran.

Hamparan Padang Savana Taman Nasional Baluran | Foto: travelspromo.com
info gambar

Padang savana yang indah nan cantik ala Indonesia itu terletak di ujung timur pulau Jawa tepatnya di antara wilayah Wongsorejo, Banyuwangi, dan Banyuputih, Situbondo Jawa Timur, Indonesia.

Tidak sulit untuk menemukan lokasi taman nasional ini. Pintu gerbang utama dari Taman Nasional Baluran berada di Jalan Situbondo-Banyuwangi yang merupakan akses utama jalan dari Jakarta atau Jawa Timur menuju Bali.

Bagi Kawan GNFI yang dari Surabaya menuju Pelabuhan Ketapang melalui jalur pantura tentu akan melewati taman nasional tersebut.

Taman Nasional Baluran yang dijuluki dengan Africa Van Java atau Little Africa ini memiliki tipe vegetasi sabana, hutan mangrove, hutan musim, hutan pantai, hutan pegunungan bawah, hutan rawa, dan hutan yang selalu hijau sepanjang tahun.

Dari sekian banyak tipe, tipe vegetasi sabana-lah yang mendominasi kawasan Taman Nasional Baluran, yakni sekitar 40 persen dari total luas lahan.

Savana Bekol di Taman Nasional Bularan | onyjamhari/kompasiana.com
info gambar

Jika dilihat dari sejarah, Taman Nasional Baluran sebelumnya hanyalah sebuah hamparan padang savana biasa tanpa diliestarikan. Dilansir dari Wikipedia, sebelum tahun 1928 AH. Loedeboer, seorang pemburu kebangsaan Belanda yang memiliki daerah Konsesi perkebunan di Labuhan Merak dan Gunung Mesigit pernah singgah di Baluran.

Loedeboer menaruh perhatian penuh dan mempercayai bahwa Baluran mempunyai nilai penting untuk perlindungan satwa, khususnya jenis mamalia besar.

Kemudian pada tahun 1930, KW. Dammerman selaku Direktur Kebun Raya Bogor mengusulkan agar Baluran dijadikan sebagai hutan lindung.

Lalu pada tahun 1937, Gubernur Jenderal Hindia Belanda pun menetapkan Baluran sebagai suaka margasatwa dan pada masa pasca kemerdekaan, Baluran ditetapkan kembali secara resmi sebagai Suaka Margasatwa oleh Menteri Pertanian dan Agraria Republik Indonesia.

Jauh dari hari tersebut, pada 6 Maret 1980, bertepatan dengan hari Strategi Pelestarian se-Dunia, Suaka Margasatwa Baluran diumumkan sebagai Taman Nasional oleh Menteri Pertanian.

Ketika berkunjung ke sana, Kawan GNFI akan disuguhkan dengan pemandangan padang savana yang luas, beberapa pohon, dan bebatuan, serta terdapat satwa liar, seperti gajah, rusa, banteng, burung merak, dan monyet ekor panjang. Di antara beberapa satwa tersebut, ada banteng yang dijadikan sebagai maskot Taman Nasional Baluran.

Taman nasional dengan luas 25 ribu hektare ini juga memiliki banyak vegetasi. Ada sekitar 444 jenis tumbuhan yang mampu beradaptasi dengan kondisi lahan yang kering, dan terdapat 26 jenis mamalia, serta 155 jenis burung.

TNB juga dibagi menjadi enam pos pengamatan, di antaranya Batangan, Bekol dan Semiang, Curah Tangis, Manting dan Air Kacip, Bama Balanan dan Bilik, serta Popongan dan Kalitopo.

Dari enam pos pengamatan tersebut, terdapat tempat atau spot menarik yang tidak kalah dengan Afrika aslinya, seperti Padang Savana Bekol, Evergreen Forest, Gua Jepang, Curah Tangis, Sumur Tua, Pantai Bama, Dermaga Mangrove, Pantai Biliki Sijie, Pasir Putih di Pantai Balanan, dan Pantai Baluran dengan latar senja.

Referensi : Wikipedia | banyuwangi

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini