Runway 3 Beroperasi, Dua Masalah Teratasi

Runway 3 Beroperasi, Dua Masalah Teratasi
info gambar utama
  • Beroperasinya runway 3 dan East Connexion Taxiway membawa manfaat besar untuk Bandara Soetta.
  • Contohnya peningkatan OTP dan jumlah antrean pesawat.
  • Runway 3 mulai beroperasi sejak 20 Desember 2019.

Sejak beroperasi pada Jumat, 20 Desember 2019, runway 3 di Bandara Internasional Soekarno-Hatta terbukti dapat menjadi solusi. Setidaknya ada dua performa yang meningkat, yakni On-Time Performance (OTP) dan antrean pesawat.

Efisiensi runway 3 ini disaksikan langsung oleh Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, saat meninjau operasional runway 3 dan East Connexion Taxiway (ECT) di Bandara Soetta, Minggu (25/1).

Setelah memantau langsung dua fasilitas tersebut, serta melihat data-data faktual, Menhub mengatakan Runway Ketiga dan ECT sangat optimal dalam mendukung efisiensi dan kelancaran lalu lintas penerbangan di Soekarno-Hatta.

Terkait efisiensi, Menhub menuturkan terjadi penghematan waktu hingga 30 persen ketika pesawat berjalan dari contact stand di terminal penumpang hingga take-off.

“Ada 30 persen (efisiensi waktu) ketika pesawat taxi dari contact stand sampai take-off. Biasanya butuh waktu 25-30 menit, sekarang 8 menit. Bahkan saya cek di lapangan tadi tidak ada pesawat yang holding (menunggu antrean),” ujar Menhub dalam keterangan resminya.

Menhub saat memantau langsung operasional runway 3 dan ECT | Foto: Dok. AP II
info gambar

Lebih lanjut, Menhub menjelaskan aspek keselamatan penerbangan jelas meningkat dengan adanya runway 3, seiring dengan adanya ruang untuk menetapkan take-off hanya di satu runway dan landing juga ada di satu runway.

“Satu runway untuk take-off dan satu runway untuk landing, jelas itu membuat aspek keselamatan penerbangan di Soekarno-Hatta meningkat,” ungkap Menhub, dikutip dari siaran pers yang diterima GNFI.

Sementara itu, Presiden Direktur PT. Angkasa Pura II, Muhammad Awaluddin, mengatakan keberadaan runway 3 dan ECT mendorong tingkat ketepatan waktu (on-time performance/OTP) maskapai.

“Runway Ketiga dan ECT dioperasikan penuh pada 20 Desember 2019 atau hari pertama Periode Angkutan Natal dan Tahun Baru 2019-2020. Sepanjang periode tersebut, OTP maskapai mencapai 83 persen di mana angka ini jauh meningkat signifikan dibandingkan dengan Nataru 2018-2019 yang hanya 79 persen ketika belum ada Runway Ketiga dan ECT,” jelas Muhammad Awaluddin.

Senada dengan Presiden Direktur PT. AP II, Direktur Utama AirNav Indonesia Novie Riyanto juga menuturkan hal yang sama terkait kelancaran lalu lintas penerbangan. Antrean pesawat berkurang secara signifikan menjadi hanya tiga pesawat saja dibandingkan dulu bisa mencapai hingga 10 pesawat.

“Selama hampir dua bulan Runway Ketiga dan ECT beroperasi, maksimal antrian hanya tiga pesawat. Dulu bisa sampai tujuh bahkan sampai 10 pesawat. Prinsip pengoperasian Runway Ketiga ini adalah mengutamakan kesealamatan dan peningkatan kapasitas secara gradual,” ujar Novie Riyanto.**

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini