Padasan, Mencegah Penularan Covid-19 dengan Kearifan Lokal

Padasan, Mencegah Penularan Covid-19 dengan Kearifan Lokal
info gambar utama

Salah satu anjuran World Health Organization (WHO) agar terhindar dari virus Corona adalah rajin mencuci tangan dan menjaga kebersihan diri. WHO juga menganjurkan mandi dan mengganti pakaian setelah dari luar rumah, sebelum berinteraksi dengan keluarga. Tujuannya agar virus atau bakteri yang menempel di tubuh dan pakaian tidak ikut terbawa masuk sehingga meminimalisir penyebaran virus Corona kepada anggota keluarga.

Berkaitan dengan menjaga kebersihan setelah dari luar rumah, sebenarnya Indonesia memiliki kearifan lokal yang sudah ada sejak lama. Kearifan lokal itu berasal dari budaya Jawa. Namanya padasan yang berarti gentong atau tempayan berisi air yang terbuat dari tanah liat. Sementara menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring, padasan artinya tempayan yang diberi lubang pancoran (tempat air wudhu).

Di masa lalu, padasan biasa diletakan di depan rumah. Posisinya di luar pagar sebelum masuk ke pekararangan atau ruangan di dalam rumah. Fungsinya untuk membersihkan diri seperti mencuci tangan, kaki, dan membasuh muka.

Kata Poniyah (62), warga Jakarta kelahiran Purworejo, Jawa Tengah, orang-orang tua di Jawa, memang biasa menganjurkan siapa pun yang hendak masuk ke rumahnya, untuk mencuci tangan dan kaki terlebih dulu.

Emang begitu, dari dulu diajarin simbah suruh cuci kaki sama tangan dulu sebelum masuk rumah. Ben sawane ora melu [red: biar penyakit atau hal-hal buruk dari luar rumah tidak ikut],” tutur Poniyah, di rumahnya, daerah Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Rabu (1/4/2020).

Meskipun tinggal di Jakarta, sejak kecil anak-anaknya juga dibiasakan mengikuti ajaran kakek-neneknya. Poniyah selalu menyuruh anak-anak dan anggota keluarga yang datang ke rumahnya untuk membersihkan diri terlebih dulu. “Sebelum duduk, ngobrol-ngobrol, paling enggak cuci tangan, cuci kaki dulu,” ujar Pon, sapaan akrabnya.

Di tengah merebaknya virus Corona, Pon berinisiatif membuat padasan di depan rumahnya. Meski tidak menggunakan gentong atau tempayan dari tanah liat seperti di desanya dulu. Dia menggantinya dengan jeriken plastik yang dilubangi dan diberi keran untuk mengucurkannya.

Selain meletakan jeriken berisi air di depan rumahnya, ia juga menyediakan sabun untuk cuci tangan. Siapa pun orang yang ingin masuk rumahnya, diminta untuk mencuci tangannya lebih dulu. Kata dia, ini cara yang mungkin bisa dilakukan masyarakat bila kesulitan mencari hand sanitizer.

“Sekarang kan susah nyari, apa itu namanya? Pembersih tangan? Dan itu kalaupun ada harganya mahal. Buat warga yang penghasilannya pas-pasan, bisa tekor kalau disuruh beli itu terus,” ujarnya. Ia menyarankan kepada tetangga-tetangga di gang rumahnya untuk melakukan hal serupa agar terhindar dari virus Corona.

Poniyah sedang mencuci tangan menggunakan air dari jeriken yang ia isi. Ide itu terinspirasi dari tradisi padasan di desanya dulu | Pandu Hidayat/GNFI
info gambar

Sebagai kearifan lokal, padasan sepertinya bisa menjadi alternatif bagi masyarakat agar lebih rajin membersihkan tangan. Jadi tidak harus menggunakan hand sanitizer yang saat ini sedang langka.

Berkaca dari Poniyah, padasan tidak harus selalu berupa tempayan atau gentong dari tanah liat. Bisa juga diganti dengan berbagai peralatan yang mudah ditemukan sekarang, seperti jeriken plastik yang digunakan Pon. Cara lain yang lebih mudah, bisa juga dengan menyediakan keran air di depan rumah.

Nilai-Nilai Luhur di balik Padasan

Dulu hampir semua masyarakat di pedesaan menyediakan padasan di depan rumahnya. Biasanya diletakan dekat jalan. Selain gentong atau tempayan yang diberi lubang, terkadang ada juga pemilik rumah yang melengkapi padasan-nya dengan gayung dari batok kelapa atau biasa disebut siwur dalam bahasa Jawa.

Tujuan diletakannya padasan di pinggir jalan adalah agar siapa pun yang membutuhkan air bisa mengambilnya sesuai keperluan. Semua pejalan kaki dan orang-orang yang lewat bisa memanfaatkan air di dalam padasan.

Pon menuturkan, jika musim hujan, air di dalam padasan bisa digunakan untuk mencuci betis dan bagian kaki lain yang terkena cipratan air kotor. Alas kaki juga biasanya sekalian dicuci agar ketika masuk ke dalam rumah tidak membawa kotoran.

Sementara saat musim kemarau, padasan bisa digunakan untuk membasuh muka orang-orang yang lewat. Setidaknya dapat memberi kesegaran di saat cuaca sedang panas. Bahkan, ketika air di desanya masih benar-benar bersih dan aman diminum, orang-orang bisa langsung minum air yang ada di dalam padasan untuk melepas dahaga mereka. “Gratis, ndak perlu bayar sama orang yang punya rumah,” ujar ibu anak empat itu.

Padasan di rumahnya saat di desa dulu, kata Pon, rutin diisi setiap kali ingin salat subuh. “Sekalian ambil wudhu, dulu bapak suka nyuruh lihat masih ada apa nggak (air),” katanya. Jika sudah kosong, ia menimba dari sumur dan mengisinya kembali.

Seseorang yang tengah mengambil air dari padasan dengan menggunakan siwur | Google Image/Kompasiana.com
info gambar

Ketika siang hari, saat masuk waktu salat zuhur, ia kembali memeriksa air di padasan miliknya. “Biasanya kalau pagi, suka ada yang pakai. Petani-petani yang mau ke sawah atau menjelang siang pulang ke rumah, suka bersih-bersih dulu di situ. Makanya siang biasanya dicek masih ada atau enggak,” tutur Pon sambil mengenang desanya.

Banyak nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi menyediakan padasan, seperti keikhlasan dan kerelaan berbagi. Dengan keikhlasan, pemilik padasan rutin mengisinya supaya siapa pun yang membutuhkan air bersih, bisa mendapatkannya tanpa peduli kenal atau tidak dengan orang tersebut.

Di sisi lain, orang yang memanfatkan padasan, baik kenal atau tidak dengan pemiliknya, juga cukup tahu diri untuk tidak berlebihan menggunakan air. Mereka sadar, bukan hanya mereka yang akan memanfaatkan air di padasan itu, masih ada orang lain yang mungkin membutuhkannya. Walaupun tidak ada aturan tegas yang melarang atau membatasi penggunaan air dalam padasan itu.

Nggak pernah tuh ada orang-orang yang bawa jeriken terus numpang isi, sampai air di padasan habis. Nggak kaya sekarang pakai keran, orang tinggal puter terus isi jerikennya,” tambah Pon.

Sebagai generasi yang--mungkin--tidak mengenal padasan, sepertinya kita bisa menerapkan nilai-nilai luhur warisan budaya Jawa itu, yakni saling berbagi dengan ikhlas kepada siapa saja yang membutuhkan. Selain itu, dengan menyediakan padasan di depan rumah, kita juga dapat lebih rajin mencuci tangan sesuai dengan anjuran WHO agar terhindar dari pandemi Covid-19.

Sumber: temukonco.com | timesmalang.com

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini