Salam Manis yang Tak Akan Habis dan Salam Sayang yang Tak Akan Hilang dari Tatang S.

Salam Manis yang Tak Akan Habis dan Salam Sayang yang Tak Akan Hilang dari Tatang S.
info gambar utama

Work From Home (WFH) yang saat ini sedang diberlakukan karena wabah virus corona, membawa berkah tersendiri bagi saya, setidaknya untuk malam kemarin, Selasa (14/4/2020). Karena WFH ini, saya jadi punya sedikit waktu untuk membongkar lemari buku yang sudah lama tidak dibuka. Secara tidak sengaja, saya menemukan sobekan komik Petruk-Gareng (Punakawan) karya komikus legendaris Indonesia: Tatang S.

Saya jadi teringat waktu masih sekolah dasar dulu, bapak kerap membelikan saya serial komik punakawan tiap awal bulan atau saat bapak gajian. Katanya,”biar kamu rajin baca, mulainya dari baca komik nggak apa-apa.”

Sayang, koleksi yang dulu memenuhi rumah, saat ini sudah banyak yang hilang, atau tidak sengaja terjual diloakan mungkin. Mengingat kenangan indah itu, saya jadi ingin menceritakan kepada Kawan GNFI tentang sosok komikus legendaris Indonesia, yang karyanya menjadi pernah ikon di zamannya. Yuk simak kisahnya!

***

“Salam manis tak akan habis,

salam sayang tak akan hilang,

buat semua pecinta karya saya”

_Tatang S._

Kawan GNFI yang lahir di era tahun 2000-an, mungkin terasa asing dengan ungkapan itu. Namun, jika ungkapan tersebut disodorkan kepada generasi era 70-90an, sebagian besar pasti mengenalnya.

Itu adalah ungkapan khas dari komikus Indonesia, Tatang Suhenra (Suhendra) atau lebih dikenal dengan nama pena Tatang S. Pada dekade 1970-1980, Tatang S. dikenal sebagai komikus yang gemar mengisahkan cerita-cerita silat dalam karyanya. Kabarnya pada tahun 1970-an, ia menjadi komikus dengan bayaran tertinggi di Bandung.

Sebagai komikus cerita-cerita silat, Tatang bersaing dengan Ganes T.H., komikus legendaris Indonesia lainnya. Ganes tersohor dengan karyanya Si Buta dari Goa Hantu, karakter pendekar Indonesia, yang pernah difilmkan dan menjadi mini serial di televisi.

Komik Si Buta dari Gua Hantu karya Ganes T.H. yang pernah menjadi ikon bagi komik persilatan Indonesia | Google Image/Bumi Langit
info gambar

Tatang sangat berambisi pada komik, bahkan karena ambisinya itu ia pernah berseteru dengan rekan-rekannya sesama komikus. “Kasus yang paling menonjol adalah ketika dia terlibat pertikaian dengan Ganes TH,” tulis Fandy Hutari dalam Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal (Kumpulan Esai Seni, Budaya, dan Sejarah Indonesia).

Kala itu, Ganes yang sama-sama memiliki nama besar pindah dari satu penerbitan ke penerbitan lain untuk memublikasikan karyanya. Penerbit lamanya tak terima dengan kepindahan Ganes. Ganes dianggap mengkhianati perjanjian yang telah disepakati.

Tak lama setelah Ganes hengkang, penerbit itu kemudian merekrut Tatang S. untuk menyaingi komik populer karya Ganes. Tatang lalu membuat komik berjudul Si Gagu dari Goa Hantu untuk menyaingi Si Buta dari Goa Hantu-nya Ganes.

Bukannya sukses menyaingi karya Ganes, komik plesetan Tatang malah dianggap menjadi penyebar kebencian antar sesama komikus. Si Gagu dari Goa Hantu hanya bertahan tiga edisi sampai akhirnya peredarannya dihentikan.

"Dunia komik Indonesia terguncang. Tatang menjiplak dan meniru panel-panel gambar Ganes. Sebenarnya, masa itu juga banyak epigon Ganes yang meniru karakter Si Buta. Namun, yang membuat publik komik terhenyak adalah Tatang S. membuat Si Gagu dengan rasa benci pada Ganes. Tatang membuat kisah tentang komplotan perampok yang dipimpin oleh Si Buta," tulis Henry Ismono dalam Ganes Th, Sang Pendekar Kemanusiaan (2018), dikutip dari Tirto.id.

Karena perseteruannya dengan Ganes, karir Tatang sebagai komikus sempat meredup. Kemudian dia memutuskan untuk hijrah ke Jakarta. Ternyata di Jakarta karirnya tak semulus saat di Bandung dulu. Hal tersebut juga buntut dari perseteruannya dengan Ganes.

Saat itu penggemar komik karya Ganes sangat banyak. “Penerbit takut para penggemar Ganes T.H. akan “menyerang” komik Tatang. Akibatnya, banyak penerbit yang takut menerbitkan komik Tatang,” tulis Fandy Hutari.

Punokawan yang Populer

Kumpulan komik punakawan karya Tatang S. |Google Image/Tabloidbintang.com
info gambar

Walau terjerat kasus tersebut, Tatang tetap membuat komik-komik persilatan dengan meniru karya lain. Pada era 1980-an, nasib Tatang berubah saat komik-komik luar negeri membanjiri pasar komik Indonesia.

Banyak penerbit yang lebih memilih menerbitkan komik terjemahan untuk mengikuti tren pasar. Akibatnya, banyak pula komikus yang memilih pindah haluan ke jalur itu. “Tak dapat dipungkiri, tren tersebut memang menjanjikan materi berlebih,” tulis Fandy.

Berbeda dengan komikus lainnya, Tatang tidak mengikuti pasar. Ia malah menciptakan tren pasar sendiri lewat komik-komiknya. Komik-komik buatannya lebih banyak mengisahkan hal-hal yang dekat dengan masyarakat. Karir Tatang kembali bersinar setelah ia membuat komik dengan tokoh Punakawan (Semar, Gareng, Petruk, Bagong).

Komik buatan Tatang saat itu diterbitkan oleh sebuah penerbitan kecil yang berada di daerah Pasar Senen, Jakarta Pusat. Penerbit tersebut bernama Gultom Agency. Strategi Gultom Agency cukup cerdik, dia tidak membidik pasar menengah ke atas yang telah gandrung oleh komik-komik luar negeri. Namun, dia mengincar pasar menengah ke bawah dengan target oplah 10.000 eksemplar.

Strategi itu terbukti sukses dan pamor Tatang sebagai komikus kembali naik. Padahal, sebelum Tatang, ada komikus lainnya yang juga menjadikan punakawan sebagai tokoh utama karyanya. “Seperti Hidayat Sujana, HAB, Rowing, Rachman, serta Indri S., “ tulis Fandy. Namun, memang harus diakui bahwa Tatanglah yang paling sukses.

Salah satu alasan kesuksesan Tatang adalah karena komiknya sanggup bertahan melintasi berbagai generasi. Selain itu, keunikan karakter dan kesederhanaan cerita yang Tatang kisahkan, menjadi modal utama menarik pembacanya.

“Sederhana, itulah yang ada di benak saya saat pertama kali berkenalan dengan komik-komik Gareng-Petruk karya Tatang S. Ia membuat gambar-gambar komiknya hitam putih, dengan kertas tipis, tapi dibuat tetap berkesan,” tulis Fandy.

Gambaran Masyarakat Pinggiran

Dalam komik punakawannya, Tatang selalu menceritakan hal-hal sederhana yang sangat dekat dengan masyarakat. Cerita-ceritanya berlatar di sebuah kampung yang bernama Desa Tumaritis, di sana para punakawan tinggal.

Tatang banyak menceritakan tema-tema keseharian, seperti soal pekerjaan, pengangguran, romantika orang pinggiran, hingga kisah horor atau urban legend yang saat itu tengah menjadi topik pembicaraan masyarakat.

Dalam komiknya, pembaca pasti menjumpai kekonyolan, kepolosan, hingga ironi kehidupan masyarakat kelas menengah ke bawah. Gareng dan Petruk, punakawan yang paling sering muncul dalam komik Tatang. Mereka berdua merepresentasikan orang-orang pinggiran kota yang memiliki segudang cita-cita dan impian.

Namun ironisnya, sering kali mereka malah mendapat kesialan saat mencoba peruntungannya. Mereka berdua juga menjadi gambaran pemuda pengangguran, pekerja serabutan, kere tapi sangat peduli dengan lingkungan sekitarnya yang ditampilkan lewat kegemarannya meronda.

Tokoh Semar dalam komiknya, digambarkan sebagai orang yang arif bijaksana, berkarisma, dan disegani. Sementara Bagong, karakternya mirip dengan Gareng dan Petruk. Tapi Semar dan Bagong hanya muncul sesekali, tidak sesering Gareng dan Petruk.

Serial komik Tatang S. selalu mengambil kisah-kisah yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat| Google Image/Komik Koplak
info gambar

Tatang sungguh cerdas mengambil tema cerita yang dekat dengan pembacanya. “Pemilihan tokoh punakawan, khususnya Petruk dan Gareng, sebagai pembawa cerita dengan karakter seperti itu, adalah sikap Tatang S. untuk menyampaikan pesan bahwa kisah-kisahnya adalah cerita rakyat jelata, orang kebanyakan, dan masyarakat marjinal yang ada di sekeliling pembaca dengan kehidupan yang penuh lika-liku masalah,” tulis Gun Gun Gunawan dalam “Kajian Gaya Visual Storytelling Tatang Suhenra” (jurnal Demandia Vol. 01 No. 01, Maret 2016), dikutip dari Tirto.id.

Kisah Horor dan Superhero Tumaritis

Pembaca komik Tatang pasti kerap menjumpai kisah-kisah horor dalam karyanya. Sosok hantu di komik Tatang selalu mengambil persepsi yang dekat dengan masyarakat.

Misalnya, dalam komiknya Hantu Tukang Ojek, ia menggambarkan sosoknya dengan seorang pria gondrong, dengan tubuh penuh darah dan luka akibat kecelakaan. Sosok hantu dengan gambaran yang familier di masyarakat kerap muncul saat Gareng dan Petruk sedang ronda malam menjaga Kampung Tumaritis.

Tatang sangat piawai mengubah suasana horor menjadi hal yang menggelitik. Contohnya ketika Gareng sok berani ingin menghadapi si hantu, tapi karena melihat semua temannya lari. Gareng pun akhirnya turut melarikan diri. Banyolan sederhana macam itu yang menjadi daya tarik di komik Tatang.

Tatang juga memiliki banyak ide untuk mengemas berbagai tema dalam komiknya. Tema pahlawan super yang saat itu sedang digandrungi masyarakat pun tidak luput dari komiknya. Meski begitu, cerita yang ditampilkan tetap dengan tokoh punakawan andalannya.

Tema pahlawan super yang saat itu sedang populer pun tidak lepas dari karya-karya Tatang | Google Image/Depokrasi.id
info gambar

Kala itu, komik seperti Ksatria Baja Hitam, Robocop, Megaloman, Superman, Batman, Spiderman atau tokoh pahlawan super lainnya membanjiri pasaran. Dengan ide kreatifnya, membuat pahlawan super ala Desa Tumaritis. Perannya, tentu saja dimainkan oleh Gareng dan Petruk. Melalui sentuhan humor khas Tatang, cerita diramu menjadi kisah pahlawan-pahlawan super yang konyol.

Teknik gambar dengan goresan hitam putih, cerita dan banyolan sederhana khas zamannya, justru membuat pembaca kecanduan untuk terus membaca karyanya. Selain itu, di akhir cerita, Tatang juga kerap menyelesaikannya dengan petuah bijak yang disampaikan oleh tokoh komiknya. “Petuah Tatang sangat positif untuk siapapun, dari anak-anak hingga orang dewasa,” tulis Fandy.

Komik Surga-Neraka Kemudian Tutup Usia

Pada 1990-an, Tatang muncul dengan tema lain. Tema yang dikisahkan Tatang kala itu adalah tentang kehidupan surga dan neraka. Penggambaran Tatang tentang sosok-sosok manusia pembangkang yang disiksa dalam neraka, sukses membuat anak-anak sekolah dasar pada zamannya sulit tidur malam. Hukuman-hukuman neraka ia gambarkan dengan detail. Begitu pula dengan keindahan surga bagi manusia-manusia yang patuh terhadap perintah Tuhan.

Tatang tutup usia pada 27 April 2003, kabarnya ia meninggal karena sakit kencing manis yang dideritanya. Penyakit tersebut ia derita lantaran Tatang yang sering kerja di malam hari, ketagihan minum minuman bersoda.

Saat ini, meski Tatang telah tutup usia, karyanya tetap dikenang oleh para penikmatnya--setidaknya seperti saya.

Seperti ungkapan khas Tatang, karyanya tetap akan selalu menjadi salam manis yang tak pernah habis dan salam sayang yang tak pernah hilang bagi para pembacanya.

Sumber: Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal (Kumpulan Esai Seni, Budaya, dan Sejarah Indonesia) karya Fandy Hutari | Tirto.id | Merdeka.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini