Permen Davos, Permen Mint Jadul nan Legendaris Asli Jawa Tengah

Permen Davos, Permen Mint Jadul nan Legendaris Asli Jawa Tengah
info gambar utama

“”Siap!!” sahut Kutuk. Nampak di mulutnya mengulum permen Davos, permen legendaris rakyat Jateng dan DIY. Kadang kami menyebutnya ‘Dapros’. Lebih mudah diucapkan, karena memang huruf ‘F’ dan ’V’ sebenarnya nggak dikenal pada lidah orang Jawa,” begitulah penggalan cerita dari novel berjudul Misi Rahasia (2019) karya M. Andy Rudhito, Fx. Bambang Paracoyo, dan J. Sakti Hernawan yang menyinggung permen khas Jawa Tengah, Davos.

Sebelumnya, di novel Warrior: Sepatu untuk Sahabat (2007) karya Arie Saptaji juga menyinggung hal yang sama. “Sebelum pergelaran dimulai penjaja makanan ringan rebut menawarkan dagangan: kacang, kuaci, permen Davos. Sri tak pernah suka dengan permen yang seperti pil putih besar itu. Pedasnya semriwing minta ampun!” seperti itulah yang tertulis dalam novel berlatar tahun 80-an itu mengenai permen Davos yang manis dan lebih banyak pedasnya.

Dari kedua novel itu mungkin Kawan GNFI bertanya-tanya, mengapa permen Davos bisa dilabeli “permen legendaris rakyat Jateng dan DIY”? Selain itu, terkait soal rasa, permen Davos tampak begitu melekat di lidah penikmatnya, mengapa bisa begitu?

Lalu, mungkin akan timbul pertanyaan lagi mengenai sejak kapan permen Davos mulai beredar. Apa permen Davos sudah dikenal sejak 80-an atau malahan sudah ada pada tahun-tahun sebelumnya? Jawabannya mari kita ceritakan di sini.

Camilan Manis Khas Jawa Terpengaruh Pendatang

Sebelum membicarakan permen Davos, ada baiknya kita ceritakan dulu mengenai kebiasaan orang Jawa (Tengah dan DIY) dalam membuat dan menyantap camilan-camilan manis.

Sudah dijelaskan dalam artikel GNFI sebelumnya berjudul “Alasan Mengapa Kuliner Jawa Identik dengan Rasa Manis”, rasa manis dalam kuliner Jawa bisa dikaitkan dengan melimpahnya suplai gula di Jawa pada masa kolonialisme. Rasa manis yang didapat dari suplai gula yang melimpah itulah kemudian diolah menjadi sebuah kuliner, entah itu nantinya sebagai hidangan utama (main course) atau camilan (snack).

Saat ini, kita mengenal beragam jenis camilan manis dari tanah Jawa. Sebut saja jenang, bakpia, wajik, dan masih banyak lagi. Semua camilan yang disebutkan itu sudah lama dikenal sebagai panganan khas Jawa, tetapi bukan berarti kesemuanya “asli dari Jawa”.

Jenang, camilan bertekstur kenyal berbahan tepung beras dan gula aren.
info gambar

Camil atau mengemil kerap dianggap sebagai kegiatan iseng seseorang mengunyah sesuatu yang bisa dikunyah. Menurut penulis buku Jejak Pangan: Sejarah, Silang Budaya, dan Masa Depan (1999) karya Andreas Maryoto, leluhur kita—termasuk orang Jawa—dalam soal kuliner sudah mengenal camilan. Namun, tentu bukan jenang atau bapia, melainkan sirih atau biji pinang yang sampai saat ini lebih sering “diisengi” oleh para lansia. Setelah banyaknya pendatang dari tanah seberang hadir di Pulau Jawa, barulah camilan-camilan manis bermunculan.

“Berdasarkan riwayat kedatangan nenek moyang kita, suku bangsa Jawa termasuk dalam bangsa Austronesia yang berasal dari Cina selatan. Sejauh ini tidak diketahui secara persis makanan yang dibawa oleh nenek moyang kita ini selain sumber karbohidrat dan protein seperti ikan, umbi-umbian, dan makanan hasil perladangan,” terang Maryoto saat dihubungi GNFI pada Kamis (23/4).

“Mereka juga mengenal camilan. Camilan pada konteks saat itu kemungkinan adalah mengunyah sirih atau biji pinang yang masih dikenal sampai sekarang. Makanan camilan yang dikenal sekarang dipastikan berasal dari migran berikutnya baik dari India, Cina, Arab, dan Eropa.”

Kenyalnya Jenang Sampai ke Kerasnya Permen

Pengaruh pendatang bagi kuliner Jawa sangatlah kuat. Teknologi dan teknik pengolahan ditularkan pendatang ke pribumi demi membuat camilan yang enak dan mudah disantap. Dari situ, camilan beragam tekstur pun bermunculan, mulai dari jenang yang kenyal sampai permen jahe yang biasanya bertekstur keras.

“Makanan jenis jenang kemungkinan diperkenalkan oleh pendatang dari Cina. Teknologi pengolahan makanan ini sudah dikuasai dari mulai pemilihan bahan, pengolahan bahan, pencampuran bahan, dan penyajiannya. Upacara adat suku bangsa Tionghoa banyak menggunakan makanan jenis ini. Mereka memiliki ikatan kuat dengan makanan ini karena mempunyai makna tertentu,” terang Maryoto yang merupakan lulusan Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian, Universitas Gajah Mada, tahun 1995.

“Sementara permen jahe kemungkinan juga muncul dari tradisi Cina kaitannya dengan pengolahan gula. Pengolahan gula masa lalu masih menggunakan batu dan juga digerakkan dengan tenaga hewan. Pabrik gula seperti ini pada masa lalu ditemukan di Batavia bagian selatan. Ketika VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) berdagang di Nusantara, mereka mengirim gula yang belum berbentuk seperti pasir tetapi dengan cara karamelisasi (bulatan coklat besar) dicampur dengan jahe. Belakangan cara ini memunculkan permen jahe,” imbuhnya.

Permen jahe.
info gambar

Membicarakan permen, Maryoto sebelumnya pernah menyinggung soal asal-usul kata ‘permen’ dalam artikel Kompas terbitan 15 Agustus 2007 yang berjudul “Permen Jahe: Kisah Panjang Kembang Gula”.

Menurutnya, kata ‘permen’ yang dipakai sekarang ini merupakan turunan dari istilah asing yaitu peppermint, permen pedas yang memiliki kandungan minyak peppermint. Peppermint sendiri adalah senyawa aromatik yang berasal dari daun tanaman yang menghasilkan mentol, yaitu Menthas arvensis yang biasanya menjadi bahan perasa makanan, pasta gigi, dan obat-obatan.

Sudah disebutkan sebelumnya, rasa manis dalam camilan Jawa semakin disebabkan banyaknya penanaman tanaman tebu pada zaman kolonialisme. Namun, sebenarnya kandungan rasa manis dalam camilan Jawa sudah ada sebelum masa itu. Sebelum bangsa Eropa datang, teknologi dan teknik olah camilan manis sering diajarkan oleh pendatang India dan Cina. Meskipun datang belakangan, bangsa Eropa turut punya andil dalam menyempurnakan pengolahan camilan manis salah satunya permen.

“Makanan manis sudah ada di Jawa sebelum pendatang Eropa masuk. Mereka mengonsumsi kaitannya dengan upacara adat baik karena pengaruh India maupun Cina,” kata Maryoto. “Akan tetapi teknologi pembuatan permen mungkin awalnya pengaruh dari Cina dan disempurnakan ketika bangsa Eropa masuk. Bangsa Eropa mengonsumsi permen lebih untuk menikmati hidup dan mengisi waktu senggang.”

Permen Davos, Kembang Gula Peppermint Legendaris Jawa Tengah

Dari kesekian banyak camilan berbentuk permen di Indonesia, permen Davos mungkin bisa dibilang kurang diketahui atau dilupakan sejumlah kaum milenial, khususnya tentu milenial di luar daerah Jawa Tengah. Saya mencoba membuktikan itu dengan bertanya mengenai permen Davos pada dua teman yang berdomisili Jakarta dan Medan di mana keduanya sama-sama kelahiran 1990-an. Satu teman saya menjawab “nggak tahu” dan satu lagi perlu berpikir sejenak sampai akhirnya ia teringat sambil menyebutkan merek permen luar negeri sejenis dengan Davos.

Wajar sih jika lupa atau tidak tahu, karena permen satu ini sudah tergolong camilan jadul yang dulunya mungkin digemari bapak-ibu kita kala masih muda. Selain karena alasan itu, permen Davos—yang konon permen mint pertama di Indonesia—pemasarannya tidak semodern merek lain, tidak melalui promo ataupun iklan.

PT Slamet Langgeng yang didirikan Siem Kie Djian merupakan produsen permen Davos yang berdiri pada 28 Desember 1931 atau empat belas tahun sebelum Indonesia memproklamirkan kemerdekaan. Letak pabriknya berada di Jalan Ahmad Yani 67, Kelurahan Kandang Gampang, Kecamatan Purbalingga, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.

Permen khas Purbalingga, Jawa Tengah, Davos Peppermint.
info gambar

Permen Davos pernah menjadi tren di masyarakat pada era tahun 1970-1980-an. Pada era tersebut permen Davos mudah dijumpai di toko-toko, khususnya di Jawa. Sampai saat ini permen Davos terus bertahan berkat pelanggan setianya.

Menurut Maryoto, sebuah mitos tumbuh pada masa-masa awal permen Davos beredar. Orang Jawa meyakini, kegemaran mengonsumsi permen hanya dilakukan bangsa Eropa. Agar derajatnya setara, orang Jawa pun mengonsumsi Davos berhubung nama permen tersebut bercorak kebarat-baratan.

“Permen Davos sudah menjadi mitos bagi orang Jawa. Semula mungkin permen ini bagian dari lambang status bagi beberapa orang karena mengonsumsi permen bisa dianggap setara dengan bangsa Eropa. Apalagi nama Davos merupakan nama kota kecil di pegunungan Alpen, Swiss. Davos juga menjadi mitos karena dianggap menyegarkan pernafasan dan juga membuat penyakit tertentu hilang. Mereka yang mengonsumsi Davos memang langsung merasa lega,” ungkap Maryoto.

Meskipun minim promosi dan tidak terlalu tenar di sejumlah daerah di Indonesia, popularitas permen Davos sangat tinggi di Jawa Tengah. Mitos yang berkembang di masyarakat turut membantu eksistensinya hingga kini. Pelafalan nama merek permen Davos pun mudah diucap, sehingga tidak mudah dilupakan penikmatnya.

“Polularitas di Jawa sangat tinggi kemungkinan karena lokasi pabrik dan juga peredarannya banyak di Jawa. Sebuah produk telah menjadi mitos maka akan bertahan turun temurun. Penjualan mereka juga sangat menarik, orang di Jawa sudah tahu produk ini sejak kanak-kanak hingga mereka tua. Nama Davos itu sendiri yang oleh orang Jawa mudah sekali diucapkan (sering diucapkan Dapos atau Davros di kalangan orang Jawa) dan enak didengar. Sisi lainnya, saya dengar juga pemilik perusahaan ini dikenal sebagai orang baik sehingga menjadi cerita yang turun temurun tentang kebaikan mereka bersama produknya,” pungkas Maryoto.

Kalender tahunan keluaran produsen Permen Davos Peppermint.
info gambar

Citra baik dan kualitas permen Davos memang terus dijaga oleh generasi ketiga dari sang pendiri perusahaan, yakni Budi Handojo Hardi dan istrinya, Iing Tedjo. Rasa permen Davos murni menggunakan 98 persen gula pasir asli dan sisanya mentol dan zat pengikat.

“Kami tidak pernah pakai zat pengawet dan pemanis buatan. Sehingga permen ini bisa bertahan 1,5 tahun hingga 2 tahun,” ucap Iing Tedjo pada 2017, dikutip dari Radar Banyumas.

Sampai 2017, permen Davos sudah mengkaryakan 200 orang termasuk tim pemasaran. Terdapat 20 mesin pencetak permen yang dalam sehari bisa memproduksi sampai 5 ton.

Permen Davos minim promosi dan iklan, tetapi mereka tampaknya tidak takut omzetnya turun karena sudah mempunyai konsumen setia. Pemasarannya pun menyebar di seluruh Jawa Tengah di mana yang terbesar ada di kota Solo dan Yogyakarta. “Kami pasarkan di pasar tradisional, toko modern dan juga toko-toko yang ada di desa,” kata Nicodermus Hardi, anak dari Iing Tedjo yang menjabat Manajer Pemasaran perusahaan, dikutip dari Wawasan.

Sekali kecantol, mungkin tidak akan bisa berpaling hati ke permen lain, seperti itulah yang dilihat Nico terhadap konsumen permen Davos. “Bahkan ada konsumen yang berada di Amerika. Mereka membeli lewat perusahaan perdagangan internasional. Setiap kali mereka mengirimkan satu kontainer permen ke Amerika,” terang Nico.

Referensi: Kompas | Liputan6.com | Radarbanyumas.co.id | Purbalinggakab.go.id | Wawasan.co | Dr. B.R.A. Mooryati Soedibyo, “Family Business Responses to Future Competition

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini