Menelisik Perbedaan Nilai Rupiah Saat Krismon 1998 dan Sekarang

Menelisik Perbedaan Nilai Rupiah Saat Krismon 1998 dan Sekarang

Mata uang Rp100 yang digunakan pada tahun 1968 © Shutterstock/NDARI KUSMINTASIH

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Tanggal 2 April 2020 boleh jadi menjadi kepanikan tersendiri di pasar keuangan Indonesia. Bagaimana tidak, nilai tukar rupiah sempat menyentuh level Rp16.741 per dolar AS. Sedikit lagi mencapai level Rp16.800 per dolar AS yang merupakan posisi terlemah Rupiah saat terjadi krisis moneter (krismon) 1998.

Dan angka itu, menjadi level terlemah sepanjang sejarah Indonesia.

Sebenarnya, bukan hanya Indonesia yang mengalami pelemahan nilai tukar mata uangnya. Seluruh negara kini serempak sedang menghadapi satu krisis, yaitu krisis kesehatan. Pandemi Covid-19 yang memulai dan menjadi pemantik kepanikannya.

Para investor ramai-ramai menjual aset, harga emas melambung tinggi, semua beralih ke aset aman (safe haven), harga saham anjlok tak terbendung, perekonomian melambat, imbasnya rupiah semakin lemah terhadap dolar AS.

Kebijakan lockdown memang tidak diambil oleh pemerintah. Banyak yang bilang ini merupakan upaya agar aktivitas ekonomi Indonesia tidak nol sama sekali.

Lalu, apakah pantas disebut bahwa kali ini Indonesia sedang berada di era Krisis Ekonomi Jilid 2? Apa yang membedakan nilai rupiah saat Pandemi Covid-19 dengan nilai rupiah saat krismon 1998?

Apakah bisa rupiah kembali ke level di bawah Rp10.000 per dolar AS seperti yang pernah diupayakan Presiden B.J. Habibie kala itu?

GNFI berdiskusi dengan ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira pada 4 Mei 2020 lalu.

Satu hal yang mungkin bisa dijawab diawal, "Secara historis, kalau kita melihat pasca reformasi, sangat susah nilai tukar rupiah kembali ke level Rp10.000," ungkap Bhima.

Perbedaan Krisis 1998 dan Pandemi 2020

Mengingat ke belakang, krismon 1998 adalah imbas dari krisis finansial Asia 1997 yang dimulai pada 2 Juli 1997 ketika pemerintah Thailand dibebani utang luar negeri yang sangat besar.

Pemerintah memutuskan untuk mengambangkan mata uang Baht setelah serangan yang dilakukan para spekulan mata uang terhadap cadangan devisa negaranya.

Alih-alih bertujuan untuk merangsang pendapatan ekspor, namun ternyata strategi ini sia-sia dan malah jadi bumerang.

Efek domino pun tidak bisa terhindarkan, sampai akhirnya terasa di Indonesia. Indonesia tidak bisa menghindar karena ternyata Indonesia merupakan negara Asia yang telah menanamkan uang mereka di Asian Economic Miracle Countries (Negara-Negara Keajaiban Ekonomi Asia) sejak satu dekade sebelum 1997.

Artinya, Indonesia juga ''hidup'' dalam utang, tak beda dengan Thailand. Hilanglah kepercayaan para investor terhadap pasar Asia sehingga dengan mudah "membuang" mata uang dan aset-aset mereka di Asia.

"Kalau tahun '98 memang ada kepanikan, tapi, kan, sektor riilnya waktu itu masih kuat. Sektor UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) masih bergerak karena aktivitas ekonomi di banyak daerah sebenarnya relatif berjalan normal. Walaupun terjadi krisis moneter," jelas Bhima.

Sekarang kita bandingkan dengan saat "krisis" di tengah Pandemi 2020.

Nilai Tukar Rupiah Saat Krismon 1998 vs Pandemi 2020

Tidak seperti kasus virus-virus sebelumnya, Covid-19 dinilai berdampak global dengan jumlah jutaan kasusdi seluruh dunia. Sebelumnya ada Flu burung, SARS, Mers, Ebola, Zika. Sebagian pernah juga dialami oleh Indonesia, tapi tidak seburuk Pandemi 2020.

"Kalau tahun 2020 ini, baik itu sektor keuangan maupun sektor riil, sama-sama mengalami pelemahan," kata Bhima.

Tidak seperti krismon 1998—dimana UMKM masih bisa menghidupkan perekonomian Indonesia—pandemi kali ini justru jelas menghantam hampir seluruh sektor usaha UMKM.

Semisal, sektor pariwisata, hotel, perdagangan, manufaktur, dan keuangan. Semua terpaksa menghentikan perputaran uang dan bisnisnya.

"Nah, ini yang membuat pelemahan rupiahnya relatif konsisten, persisten, berlanjut," tandas Bhima.

Sepanjang kuartal pertama 2020 kondisi Indonesia memang tidak menentu. Pertumbuhan ekonomi saja melambat cukup signifikan hanya di angka 2,97 persen. Padahal, di kuartal sebelumnya sempat mencapai 5,38 persen.

Soal inflasi, memang bisa dikatakan cukup terjaga di angka 2,67 persen (yoy). Meski begitu, Bhima tidak selalu mengatakan bahwa ini bisa dikatakan berita baik. Apalagi kalau dibandingkan dengan hiperinflasi yang terjadi pada krismon 1998.

"Inflasi cukup tinggi [pada masa krismon 1998] disebabkan gangguan pada supply. Nah, sebenarnya kondisi tahun 2020 berbeda karena krisis pandemi ini baik di sisi supply maupun di sisi demand sama-sama terjadi shock," jelas Bhima.

"Ini salah satu faktornya memang ada kontraksi di daya beli masyarakat. Jadi, kita bilang inflasi rendah dalam kondisi krisis, kalau ditelusuri asalnya karena ada permintaan atau daya beli masyarakat yang anjlok, ini berarti bahaya juga. Kita nggak bisa bersyukur soal inflasi yang rendah," lanjutnya.

Jadi menurut Bhima, baik saat krismon 1998 dan Pandemi 2020, jika ditarik dari sebab inflasinya, sama-sama indikasi yang tidak bagus.

Teori Zig-Zag Habibie Sekejap Buat Rupiah Stabil

Nilai Rupiah Saat Krisis Moneter 1998

Negeri ini kalang kabut saat itu. Dan masih terpatri dalam ingatan Teguh Setiawan, wartawan senior Republika, saat pengamat ekonomi nomor wahid yang duduk sejajar dengannya tersenyum sinis kala Presiden B.J. Habibie mengemukakan Teori Zig-Zag.

"Emang mobil, bisa zig-zag," kata pengamat ekonomi yang tak disebutkan Teguh.

Kala itu, tahun 1998, di BRI Tower II Jalan Sudirman, Habibie pertama kali mengemukakan teori itu untuk menstabilkan gejolak moneter. Serentak, para wartawan saat itu juga ikut terkekeh mendengar dan melihat reaksi pengamat ekonomi itu.

Teguh, yang fokus mencatat setiap perkataan Habibie, mengaku tak tertarik dengan bisik-bisik yang terjadi di jajaran para pewarta saat itu.

"Sebab saya yakin ini harus jadi berita. Yang lain sibuk bergunjing, atau terus tertawa dan tertawa," ungkapnya yang ditulis dalam Republika.

Yang dia ingat adalah Habibie mengutarakan teori itu secara rinci dan landasan perhitungan yang digunakan demi menjaga kestabilan moneter. Suatu teori yang Habibie aplikasikan agar secepat mungkin mengubah kondisi kala jabatannya sebagai presiden baru saja seumur jagung.

Teori Zig-Zag ekonomi yang diperkenalkan Habibie adalah salah satu langkah pemotongan, penggandaan, dan pemangkasan kembali suku bunga dalam kurun waktu yang cepat.

Artinya, terjadi penaikkan tingkat suku bunga yang tinggi, lalu tak berlangsung lama suku bunga acuan bisa dipangkas hampir setengahnya.

Maklum, dulu Bank Indonesia (BI) masih jadi bagian eksekutif dan semua kebijakannya masih sangat bisa diintervensi pemerintah.

Pada Agustus 1998, suku bunga acuan BI pernah mencapai 70,44 persen, lalu pada Desember 1998 dilakukan pemangkasan tingkat suku bunga hampir setengahnya menjadi 35,52 persen.

Dengan teguh Habibie melakukan skema itu untuk dapat menekan dan memperbaiki kondisi ekonomi nasional. Bayangkan saja, inflasi Indonesia meroket hingga 77 persen.

Salah satu cara efektif untuk menurunkan nilai tukar itu adalah dengan mengeluarkan Indonesia dari hiperinflasi dulu.

"Sebenarnya Pak Habibie mau bilang bahwa di tengah kondisi krisis memang harus ada keberanian. Keberanian untuk melakukan terobosan kebijakan moneter," analisis Bhima.

Secara umum, kata Bhima, memang sudah biasa jika ekonomi sedang dalam kondisi overheating, bank sentral akan menaikkan suku bunga acuan. Begitu juga sebaliknya, jika perekonomian relatif melambat, maka pemangkasan suku bunga jadi pilihan.

Tujuannya agar uang yang ada di perbankan dan instrumen keuangan bisa keluar untuk mendanai sektor riil. Atau dengan kata lain mengkondisikan para investor untuk berpikir, ketika bunga kecil maka mereka tidak bisa mendapatkan keuntungan yang maksimal.

Teori Zig-Zag Adalah Teori Ekonomi Klasik

"Dia (B.J. Habibie) membuat kebijakan seperti ini (Teori Zig-Zag), dia seorang badut, seorang pelawak, pembuat lelucon."

Kritik keras itu diungkapkan oleh Direktur Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Jusuf Wanandi.

Bahkan kecaman dan kritik itu juga datang dari luar negeri. Misalnya ,Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew juga pernah mengatakan bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar bisa saja menjadi Rp20.000 jika sang teknokrat—Habibie—melakukan hal tersebut di awal masa jabatannya sebagai presiden.

Sebuah kebijakan yang krusial.

Bahkan majalah internasional TIME saja menyebutkan bahwa Habibie bukan sosok yang memiliki basis potilik yang bisa menyelamatkan negerinya.

Habibie Jadi Cover Majalah TIME
Majalah Internasional TIME pernah mengulas kebijakan Habibie di tengah Krisis Moneter 1998 © TIME Magazine

"Dan Habibie… tampaknya kandidat yang paling tidak mungkin. Dia tidak memiliki basis politik dan tidak bisa mengandalkan dukungan jangka panjang dari militer yang kuat. Ekonom dan analis saham di seluruh Asia mempertanyakan kemampuan Habibie untuk membawa perubahan yang masuk akan ke ekonomi Indonesia yang tersedak..."

Begitu ulasan TIME dikutip dari Sindonews.

Tampaknya keberanian Habibie memang dituntut keadaan. Tidak hanya sedang dalam kondisi hiperinflasi, pertumbuhan ekonomi Indonesia kala itu sudah di angka minus 13,13 persen. Padahal, pada tahun sebelumnya perekonomian Indonesia berjaya di angka 7 persen.

Bhima memandang bahwa sebenarnya upaya kebijakan suku bunga Zig-Zag adalah teori moneter yang klasik.

"Tapi kenapa menjadi terkenal di era Pak Habibie, karena beliau berani melakukan ini," katanya.

Bahkan bisa dibilang hanya Habibie dan Indonesia yang berhasil melakukan upaya ini.

"Saya belum cek ya negara mana yang berani dan seberhasil tahun '98 dengan naik turunkan suku bunga dengan cara yang ekstrim seperti era Pak Habibie. Saya belum temukan di negara lain," ungkap Bhima.

Meski begitu ada beberapa negara yang pernah mencoba namun gagal. Seperti Zimbabwe, Turki, dan Argentina, merupakan salah satu negara yang pernah mengupayakan cara yang sama, namun tak bisa dikatakan berhasil.

Mengapa Habibie berani melakukan ini?

"Pak Habibie itu saya kira ada pandangan bahwa di tengah kondisi krisis ekonomi, penting untuk memperhatikan sektor riil. Dan itu memang terbukti. Makanya selalu ada teori bahwa ketika terjadi krisis, UMKM selalu jadi tulang punggung," jelas Bhima.

Penyelamatan UMKM untuk terus mendorong roda perekonomian bangsa melalui upaya ekstrim itu memang membuahkan hasil. Nilai tukar rupiah mampu menguat ke bawah level Rp7.000 per dolar AS. Dan membentuk level terkuat di Rp6.532 per dolar AS pada Juni 1999.

Tak butuh waktu satu tahun, perekonomian Indonesia bangkit dari keterpurukan dalam waktu cepat, dengan pertumbuhan ekonomi menjadi 0,79 persen pada tahun 1999.

Belum cukup sampai disitu, Habibie juga dengan berani mengeluarkan keputusan dalam UU No. 23 Tahun 1999. Yang isinya, BI sebagai bank sentral Indonesia keluar dari jajaran eksekutif dan akan berjalan independen. Tak ada lagi intervensi kepentingan pemerintah.

Habibie berhasil mematahkan semua ramalan dan kecaman, termasuk dari PM Lee Kuan Yew. Habibie sukses menstabilkan moneter Indonesia.

"Mr. Lee Kuan Yew sangat fair. Dia menelepon saya ketika saya bisa menciptakan sentimen positif dan dolar menjadi Rp6.500," ungkap Habibie kala itu.

Apakah Bisa Teori Zig-Zag Diaplikasikan Sekarang?

Perekonomian Indonesia dan Nilai Tukar Rupiah
Ilustrasi Perekonomian Indonesia © Shutterstock/xtock

Memang sebuah terobosan penting yang dilakukan Habibie dengan menetapkan BI bersifat independen. Bhima mengatakan, bank sentral memang dibutuhkan untuk koordinasi dengan pemerintah sehingga hubungan fiskal dan moneter harus tetap berjalan beriringan.

Kebijakan terhadap independensi BI juga dinilai akan membawa kepercayaan investor. Sampai sekarang tak ada yang bisa mengintervensi, sehingga BI bisa melaksanakan peran dan fungsinya sebagai otoritas moneter dengan tetap berkoordinasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat, Badan Pemeriksa Keuangan, pemerintah, dan jajaran eksekutif lainnya jika diperlukan.

Jika diberlakukan Teori Zig-Zag saat Pandemi 2020 begini, apakah bisa? Padahal sama-sama dalam upaya untuk memperkuat nilai tukar rupiah.

"Kalau diberlakukan saat ini, saya lihat koordinasi antara fiskal dan moneter tidak seharmonis zaman Pak Habibie dulu," ungkap Bhima.

Pertama, ada beberapa kebijakan yang menurut Bhima sangat kontras antara BI dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Pada 2018-2019 saja, BI sudah beberapa kali memangkas tingkat suku bunga acuan. Namun, hal tersebut tidak sejalan dengan stimulus fiskal yang dilakukan oleh Kemenkeu.

"Kemenkeu dalam hal ini mengambil kebijakan fiskal yang dipengaruhi oleh kebijakan yang sifatnya politis. Jadi, dalam beberapa hal untuk mengambil kebijakan seberani Pak Habibie dulu sepertinya belum bisa dilakukan sekarang. Karena kalau [kebijakan] fiskal dan [kebijakan] moneter nggak akur, ini justru bisa berantakan dan membuat bingung para investor," jelas Bhima.

Memang risiko terbesar dari penerapan teori Zig-Zag seperti Habibie dulu adalah Indonesia mungkin akan kehilangan kepercayaan para investor. Baik investor dalam negeri maupun luar negeri. Nantinya, kebijakan pemangkasan dan peningkatan suku bunga tidak bisa diprediksi.

Sebenarnya keduanya tidak terkesan berjalan sendiri-sendiri. Para pengambil kebijakan itu melakukan beberapa upaya untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah. BI sendiri cenderung moderat. Pemangkasan suku bunga tidak dilakukan secara agresif, demi menjaga kepercayaan para pelaku pasar.

Pada Januari 2020, suku bunga acuan berada di tingkat 5 persen. Hingga akhir kuartal pertama, pemangkasan suku bunga hanya 50 basis poin atau kini berada ditingkat 4,5 persen.

Selain itu BI juga menyuntik langsung likuiditas ke pemerintah dengan pembelian surat berharga negara ke pasar sekunder. Kondisi darurat seperti ini pada akhirnya dikeluarkan Perppu terkait suntikan langsung likuiditas kepada pemerintah.

"Karena SBN ini banyak sekali dilepas oleh investor asing. Jadi BI masuk kira-kira dengan cadangan devisanya untuk menstabilkan pasar surat utang," jelas Bhima.

Kemudian, Bhima menjelaskan, BI juga menetapkan pelonggaran giro wajib minimum (GWM) untuk memberikan napas lebih panjang bagi likuiditas perbankan.

Sedangkan kebijakan fiskal dari pemerintah dikeluarkan kebijakan relaksasi pajak untuk pemulihan dunia usaha. Insentif yang diberikan antara lain berupa pembebasan PPN, PPh Pasal 22 Impor, Pph Pasal 23, hingga PPh Pasal 21.

Relaksasi ini akan diberikan hingga September 2020 mendatang.

Jadi, Kapan Nilai Tukar Rupiah di Bawah Rp10.000 per Dolar AS?

Perjalanan Nilai Rupiah Menjelang Pandemi 2020

Menurut Bhima, sebaiknya yang dipersoalkan adalah bukan soal posisi nilai tukar rupiah. Justru yang terpenting, adalah bagaimana stabilitas nilai tukar rupiah itu sendiri.

"Yang terpenting itu adalah berapa lama kita bisa bertahan. Misalnya, pada waktu pertumbuhan ekonomi 5 persen, nilai tukar rupiah kita bisa bertahan di Rp13.000 [per dolar AS] dalam kurun waktu yang cukup lama. Nah, itu berarti dianggap berhasil," ujarnya.

Penguatan ekstrem seperti yang terjadi pada krismon 1998, Bhima menilai, hal itu tidak bisa terjadi sekarang. Yang paling mungkin dilakukan sekarang adalah menstabilkan nilai tukar rupiah dalam jangka waktu yang lama.

"Nggak apa-apa misalnya (nilai tukar rupiah) Rp16.000, tapi sampai tiga tahun ke depan stabil. Bagi para pelaku usaha di Indonesia justru bagus," ungkap Bhima.

Hal tersebut tentu terkait perencanaan bisnis para pelaku usaha. Ketika nilai tukar rupiah dapat stabil maka ada kepercayaan dan tidak muncul kepanikan yang pada akhirnya membuyarkan perencanaan bisnis mereka.

"Jadi sebenarnya mereka complainnya bukan rupiah melemah, rupiah menguat, tetapi dalam jangka menengah ke [jangka] panjang, mereka lebih memperhatikan stabilitas nilai tukar. Jadi perencanaan bisnisnya nggak diubah dan direvisi terus," katanya.

Kalau sudah begitu, kepercayaan para investor akan tumbuh. Imbas positifnya, roda perekonomian Indonesia akan terus berjalan. Meski harus terseok-seok dulu.

--

"Ada dua cara untuk membuat sejarah, dari dalam elite atau dari luar. Berada di dalam tidak berarti Anda adalah boneka."

Sebuah pernyataan tegas Habibie di tengah ambisinya mengeluarkan Indonesia dari krisis moneter kepada majalah Time pada 1999. Dan nampaknya kita semua patut belajar dari sejarah.

--

Sumber: Wawancara Eksklusif GNFI | Indonesia-Investment.com | CNBC Indonesia | Republika | Bisnis Indonesia | Tagar.id | JEO Kompas

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga14%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau86%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Nikmati Alam di Wisata Gunung Pinang Banten Sebelummnya

Nikmati Alam di Wisata Gunung Pinang Banten

Apakah TNI AL Perlu Mengoperasikan Kapal Induk? Selanjutnya

Apakah TNI AL Perlu Mengoperasikan Kapal Induk?

Dini Nurhadi Yasyi
@dininuryasyi

Dini Nurhadi Yasyi

fiksidini.wordpress.com

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.