Pasar Rakyat Lasem dan Geliat Usaha Batik di Tengah Pandemi

Pasar Rakyat Lasem dan Geliat Usaha Batik di Tengah Pandemi

Pasar Rakyat Lasem, sebuah pasar daring untuk membantu sektor wisata dan perdagangan batik di saat pandemi Covid-19 © Shutterstock

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Sejak pandemi Covid-19 melanda dunia, banyak daerah yang masyarakatnya terdampak secara ekonomi. Salah satu daerah yang sangat terdampak akibat pandemi ini adalah Lasem, sebuah kota kecamatan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Di kota tersebut, banyak masyarakatnya yang menggantungkan hidup dari sektor perekonomian berbasis pariwisata, seperti pemandu wisata, perajin batik, pengusaha penginapan, hingga penjaja oleh-oleh khas Lasem.

Karena imbauan karantina yang dikeluarkan oleh pemerintah sejak Maret 2020 lalu. Sektor pariwisata yang menjadi andalan masyarakat Lasem otomatis terhenti. Pemasukan mereka terjun bebas bahkan ada yang benar-benar kehilangan penghasilan.

Dalam masa karantina ini, pemerintah melarang masyarakat untuk mudik ke kampung halaman, termasuk saat Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri. Semuanya demi mencegah terjadinya penularan Covid-19 semakin luas.

Karena prihatin akan besarnya dampak pandemi ini terhadap kehidupan masyarakat Lasem. Sebuah komunitas yang menamakan dirinya Kesengsem Lasem menggagas sebuah ide untuk menyediakan ruang jual-beli bagi para wirausahawan Lasem yang terdampak pandemi ini.

Kesengsem Lasem adalah sebuah gerakan terbuka yang bertujuan untuk menjaga kelestarian warisan benda dan nonbenda di Lasem yang telah dimulai sejak 2015 lalu.

Komunitas ini berawal dari kunjungan Agni Malagina (Program Studi Cina FIB UI) bersama Feri Latief (Fotografer Profesional), Astri Apriyani (Travel Blogger), dan Ellen (Editor Teks dan Travel Blogger)

Mereka ke Lasem dengan tujuan masing-masing. Namun saat itu, tiba-tiba Ellen mengatakan, ‘’Aku kesengsem Lasem.’’ Kesengsem (Jw.) dalam bahasa Indonesia artinya sangat tertarik hati (tergila-gila) sehingga lupa diri; terpesona’’.

Sejak saat itu, mereka menyebarkan virus #kesengsemlasem di media sosial. Tak disangka, apa yang mereka mulai ternyata mendapatkan respon positif dari warga Lasem hingga pada 9 Februari 2016 lahirlah komunitas ini di Lasem.

Lasem
Pasar Rakyat Lasem dan beberapa produk yang dijual| Tangkapan layar Kesengsemlasem.com

Inisiatif Ruang Jual-Beli

Kini, di tengah merebaknya pandemi Covid-19, Komunitas Kesengsem Lasem berinisiatif menyediakan ruang jual-beli daring bagi para wirausahawan yang terkena dampaknya. Selain itu, mereka ingin membantu masyarakat yang tak bisa mudik untuk tetap bisa merasakan suasana Lasem di perantauan masing-masing.

Inisiatif tersebut bernama Pasar Rakyat Lasem yang dirilis pada 11 Mei 2020. Ruang jual-beli daring (online shop) itu ada di situs web kesengsemlasem.com atau alamat lengkapnya kesengsemlasem.com/pasar-rakyat-lasem.

Ruang jual-beli daring ini semula digagas untuk merespon situasi terkini yang membuat warga Lasem tidak bisa mudik serta kondisi perekonomian di sana yang melambat. Melambatnya perekonomian tersebut akibat beberapa sektor yang berhenti bergerak seperti pariwisata dan produksi batik tulis.

Menurut Didiet Maulana, kurator produk wastra sekaligus Co-Founder Kesengsem Lasem, niat untuk membuat pasar daring ini sebenarnya sudah ada sejak dua tahun lalu. Namun, niat tersebut baru bisa terwujud sekarang.

''Untuk membantu kawan-kawan pembatik di Lasem yang punya produk unggul. Juga kan sekarang PSBB, ya, orang Lasem tidak bisa mudik. Kita pun tidak bisa berkunjung ke Lasem. Pasar online ini ya untuk obat kangen,'' kata Didiet dikutip dari Fimela.com.

Pasar Rakyat

Pasar Rakyat ini juga merupakan usaha Yayasan Lasem Heritage untuk mewujudkan visi dan misi mereka. Selama ini mereka bergerak di bidang pelestarian budaya dan pemanfaatan warisan budaya Lasem. Di samping itu, mereka juga ingin berkontribusi untuk masyarakat dengan cara apapun yang mereka bisa.

Mereka aktif membuka ruang-ruang diskusi untuk teman muda di Lasem dengan narsum yang berasal dari Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

''Sekarang melihat kondisi ekonomi seperti ini, kami berusaha membuat wadah pasar online ini. Keuntungannya kami gunakan untuk membiayai kegiatan-kegiatan edukasi dan lainnya,’’ terang Gilang Surya, Ketua Yayasan Lasem Heritage.

Di pasar digital yang mereka gagas itu, para pengusaha lokal Lasem diberikan kebebasan untuk memasarkan produk-produk mereka. Barang-barang yang bisa ditemukan di antaranya, batik Lasem, cumi asin, hingga kecap manis khas Lasem.

Untuk para pembatik dan pengusaha, kehadiran pasar digital ini adalah sebuah harapan baru. Sebab, sebagian besar rumah batik telah mengurangi jumlah pembatiknya. Bahkan ada yang sampai menghentikan kegiatan membatik untuk sementara. Semua itu, karena penjualan batik menurun drastis sejak pandemi ini. Para perajin batik pun terancam kehilangan pekerjaan dan pendapatan.

batik lasem
Rencananya akan ada virtual tur yang akan memerlihatkan aktivitas para pembatik Lasem saat mereka membuat batik | Shutterstock

Didiet menuturkan, merebaknya virus Corona ini membuat para pengusaha dan pembatiknya kesulitan. Beberapa pengusaha menghentikan sementara produksinya, pembatik di rumahkan dan tidak mendapat uang harian seperti biasa.

''Penjualan online di IG atau FB ya tipis atau tidak ada. Tamu-tamu yang datang berwisata pun tidak ada,'' ungkap Didiet.

Didiet berharap, Pasar Rakyat Lasem mampu membantu para pengusaha lokal bertahan hingga pandemi berakhir. Melalui platform digital yang mereka kembangkan, ia ingin membuat para pengusaha dan perajin di Lasem tetap optimis.

''Tidak perlu takut ketika berkarya gak ada pasarnya. Di Indonesia ada penduduk 200 juta lebih, dengan online ini bisa memangkas jarak, jadi semuanya itu tidak terbatas,'' ucapnya

''Kedepannya Pasar Rakyat Lasem akan tetap menjadi wadah etalase produk unggulan, unik dan memiliki nilai sejarah budaya Lasem yang dikurasi oleh tim kurator,'' tambahnya.

Selain itu, platform ini juga bukan sekedar pasar daring. Komunitas Kesengsem Lasem dan Yayasan Lasem Heritage telah memiliki rencana besar setelah ini. Mereka akan memberikan fasilitas virtual tour yang menunjukkan kegiatan membatik di Lasem.

Kata Didiet, mungkin ini adalah virtual tur pertama yang mengajak orang-orang melihat dapur pembuatan batik. ''Jadi teman-teman bisa melihat keseruan membatik, tanpa teman-teman harus pergi kemana-mana,'' ujar Didiet.

Sementara untuk hasil penjualan dari produk-produk yang ada di Pasar Rakyat Lasem ini seluruhnya akan diberikan untuk para pengusaha terkait. Selain itu, juga akan digunakan untuk membiayai kegiatan-kegiatan rutin Yayasan Lasem Heritage, seperti #kelaspelestarian, #klinikbelajar, pengembangan produk pariwisata interpretatif dan kegiatan lain yang ditujukan untuk komunitas-komunitas di Lasem.

Baca juga:

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau100%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Energi Panas Bumi Melimpah, Potensi Besar Energi Terbarukan untuk Indonesia Sebelummnya

Energi Panas Bumi Melimpah, Potensi Besar Energi Terbarukan untuk Indonesia

Guru Besar UGM Sebut Pandemi Covid-19 Jadi Momentum Berhenti Merokok Selanjutnya

Guru Besar UGM Sebut Pandemi Covid-19 Jadi Momentum Berhenti Merokok

Pandu Hidayat
@armandu

Pandu Hidayat

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.