Pernah Jadi Primadona, Kini Buah Rukam Nyaris Langka

Pernah Jadi Primadona, Kini Buah Rukam Nyaris Langka
info gambar utama

Generasi 90-an pasti tidak asing dengan buah bernama rukam. Buah yang sempat menjadi primadona ini merupakan buah yang memiliki rasa manis dan asam. Dahulu buah rukam tumbuh sangat liar.

Bahkan, untuk menikmatinya pun tak perlu jauh-jauh pergi ke pasar, pohon buah rukam sudah biasa tumbuh dan banyak dijumpai di belakang rumah atau pekarangan yang dekat dengan pemukiman penduduk. Namun sayangnya, kini buah rukam nyaris langka dan tidak mudah ditemui.

Buah yang memiliki nama ilmiah Flacourtia rukam, Zoll. & Moritzi, atau Flacourtia euphlebia ini merupakan tumbuhan asli Kepulauan Nusantara. Buah rukam bertipe buah buni, bentuknya bulat, berdiameter 2 sampai 2,5 centimeter dan tumbuhan pohon ini dapat mencapai ketinggian hingga 20 meter.

Tak hanya itu, rukam juga termasuk jenis tanaman yang cepat tumbuh semainya, namun dipertumbuhan berikutnya rukam terhitung lambat.

Potret Buah Rukam | Foto: petaniternak.wordpress.com
info gambar

Uniknya, untuk menikmati buah rukam perlu menggunakan teknik tersendiri. Caranya, buah rukam nanti harus dipijit terlebih dahulu sebelum dimakan hingga buah rukam menjadi lunak. Konon, jika tahapan teknik tersebut dilewati begitu saja maka buah rukam ini akan terasa masam dan dominan sepat.

Buah rukam yang enak dimakan ialah yang memiliki warna merah kehitaman, sebagai tanda bahwa ia sudah matang. Setelah dipijit dan melunak, buah rukam bisa langsung digigit kulitnya dan menghisap daging buah.

Rasanya pun unik, ada perpaduan rasa manis dan masam yang menyegarkan. Bahkan, ada juga yang menggambarkan bahwa rukam itu rasanya seperti perpaduan dari buah apel dan jeruk.

Bukan hanya itu, buah rukam juga memiliki banyak khasiat. Dilansir dari satuharapan.com, terdapat anggapan masyarakat bahwa buah rukam dapat dimanfaatkan sebagai penambah stamina khusus pria (afrodisiak).

Lalu, buah rukem yang belum matang juga berkhasiat untuk mengobati diare dan disentri. Sedangkan, daunnya bisa dijus dan dimanfaatkan untuk obat radang pada kelopak mata.

Jika di Indonesia rukam kini tak banyak dikenal orang, beda halnya dengan negara Filipina. Buah rukam sudah menjadi tradisi pengobatan masyarakat Filipina. Rebusan akar rukam biasanya dimanfaatkan oleh wanita setelah melahirkan.

Filipina juga menganalisis bagian rukam yang dapat dimakan, hasilnya pada komposisi per 100 gram, buah rukam mengandung air 77g, protein 1,7 g, lemak 1,3 g, karbohidrat 15 g, serat 3,7 g, abu 0,8 g, dengan nilai energi 345 kJ/100 g.

Foto: kebunpedia.com
info gambar

Berbagai literatur juga meyebutkan bahwa buah rukam mengandung senyawa flavonoid, tapen dan saponin. Memiliki fungsi sebagai antibakteri, antifungi, antimikroba, antivirus, antiparisitik dan lain-lain. Kandungan antiparasitik ini, juga berpotensi untuk mengobati penyakit cacing mata pada ternak sapi.

Sungguh kaya akan manfaat, bukan?

Kini buah rukam tidak mudah ditemui seperti dahulu lagi bahkan di pasar tradisional pun belum tentu bisa ditemukan. Pohon rukam kini hanya bisa dijumpai di hutan-hutan saja, seperti pada Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Kabupaten Sukabumi.

Kabarnya, Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli di Pematang Siantar, Sumatera Utara juga mulai ikut melestarikan buah rukam.

Nah, itulah sedikit nostalgia tentang buah rukem dan juga berbagai khasiatnya. Semoga bermanfaat.

Semoga buah manis dan masam ini kembali berjaya dan kita berkesempatan menikmati kembali, ya.*

Sumber : boombastis.com, forestryinformation.wordpress.com, satuharapan.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini