Sejarah Hari Ini (5 Juni 1980) - Peresmian Museum Sri Baduga

Sejarah Hari Ini (5 Juni 1980) - Peresmian Museum Sri Baduga

Museum Sri Baduga, Bandung. © Shutterstock/bagussatria

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Museum Sri Baduga adalah salah satu destinasi wisata sejarah yang berada di Bandung, Jawa Barat.

Museum yang dibangun di atas tanah seluas 8.415,5 m2 ini terletak di Jl. BKR No. 185 (Lingkar Selatan) dan menghadap Monumen Bandung Lautan Api.

Pemerintah mendirikan museum ini untuk menyelamatkan peninggalan seni dan budaya Jawa Barat, baik yang hampir punah maupun yang masih berkembang pada era modern karena pengaruh budaya luar.

Foto Museum Sri Baduga dalam prangko terbitan Pos Indonesia.
Foto Museum Sri Baduga dalam prangko terbitan Pos Indonesia. Sumber: Pos Indonesia

Pembangunan museum dimulai sejak tahun 1974 dengan menempati gedung bekas Kawedanaan Tegallega.

Bangunan Museum berbentuk bangunan suhunan panjang dan rumah panggung khas Jawa Barat yang dipadukan dengan gaya arsitektur modern.

Ada pun bangunan aslinya tetap dipertahankan dan difungsikan sebagai ruang perkantoran.

Tahap pertama pembangunan diselesaikan pada tahun 1980 yang diresmikan pada tanggal 5 Juni oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Dr. Daud Yusuf dan diberi nama Museum Negeri Provinsi Jawa Barat.

Sepuluh tahun kemudian, tepatnya pada 1 April 1990, namanya menjadi Museum Negeri Sri Baduga yang diambil dari nama raja yang memerintah di Pajajaran pada periode 1482-1521 masehi.

Tiket masuk Museum Sri Baduga dibanderol Rp 3.000 untuk dewasa.
Tiket masuk Museum Sri Baduga pada 2019 dibanderol Rp 3.000 saja untuk dewasa. Sumber: Shuttestock/bagussatria

Museum ini memiliki koleksi lengkap mengenai peninggalan-peninggalan sejarah di Jawa Barat dari masa ke masa.

Jumlah koleksinya mencapai 6.600 unit yang diklasifikasikan ke dalam sepuluh bidang, yakni koleksi geologika (geografika), biologika, etnografika, arkeologika, historika, numismatika dan heraldika, filologika, keramologika, seni rupa, serta teknologika.

Beberapa di antara koleksi Museum Sri Baduga merupakan sumbangan masyarakat.

Koleksi wayang golek bisa ditemui di dalam Museum Sri Baduga, Bandung.
Koleksi wayang golek di dalam Museum Sri Baduga, Bandung, pada 2019. Sumber: Shutterstock/bagussatria

Contohnya, keluarga H. Aang Kunaefi, mantan Gubernur Jawa Barat (1975-1980) dan (1980-1985) menyerahkan 22 benda pusaka.

Tak sampai di situ, keluarga Hendra Nicolas, eks Komandan Brigade Laskar Merah Putih menyerahkan fosil binatang purba berusia 200 ribu tahun.

Museum Sri Baduga terdiri dari tiga lantai yang tiap lantainya diklasifikasikan berdasarkan tahun dan jenis peninggalannya, berikut fasilitas yang disuguhkan:

Lantai Satu, menampilkan perkembangan awal dari sejarah alam dan budaya Jawa Barat. Dalam tata pameran ini, sejarah alam yang melatarbelakangi sejarah Jawa Barat digambarkan dengan menampilkan benda-benda peninggalan buatan tangan dari masa Prasejarah hingga zaman Hindu-Buddha.

Contohnya seperti kereta kuda yang tempat duduknya cukup unik dengan bentuk hewan mitologi bernama Lembuswana. Lembuswana adalah hewan tunggangan Bathara Guru yang secara fisik bermahkota, berkepala singa, berbelalai dan bergading seperti gajah, bersisik ikan dan di empat kakinya memiliki taji seperti kaki ayam.

Kereta Kencana Paksinaga Liman, kereta kencana Kesultanan Kanoman Cirebon.
Kereta Kencana Paksinaga Liman, kereta kencana Kesultanan Kanoman Cirebon. Sumber: Uptdkebudayaan.Jabarprov.go.id

Selain itu, koleksi dari zaman prasejarah juga ada sebuah arca nenek moyang dengan wujud manusia berbentuk bulat, fosil manusia prasejarah macam Homo erectus dan Homo sapiens, cekungan danau di Jawa Barat di zaman purba dan beberapa benda peninggalan religius.

Lantai Dua, memuat materi pameran budaya tradisional berupa pola kehidupan masyarakat, mata pencaharian hidup, perdagangan, dan transportasi, juga pengaruh budaya Islam dan Eropa, sejarah perjuangan bangsa, serta lambang-lambang daerah kabupaten dan kota se-Jawa Barat.

Sebagai tambahan, lambang dari setiap kota di Jawa Barat juga dipamerkan. Ada juga bukti perkebunan teh mulai dari Jawa Barat hingga Banten pada zaman pendudukan Belanda. Lalu koleksinya juga ada perabotan seperti kursi, meja, lemari, rak dari masa lalu. Bukti peninggalan agama selain Islam juga ada seperti Taoisme, Kong Hu Cu dan Kristen.

Lantai Tiga, dipamerkan koleksi etnografi berupa ragam bentuk dan fungsi wadah, kesenian, serta keramik asing. Di lantai tiga pengunjung akan melihat kesenian dan budaya khas seperti baju pengantin dari budaya sunda, perabotan, beberapa alat kehidupan dan keramik dari budaya Sunda

Selain koleksi etnografis dan antropologis juga ada koleksi geologi dan biologi. Untuk koleksi geologi, Museum Sri Baduga memamerkan temuan berupa beberapa jenis batu dan hasil alam yang lain. Sementara itu untuk koleksi biologi yaitu berupa fosil beberapa jenis makhluk hidup seperti tumbuhan, hewan dan manusia.

Koleksi arkeologi dan sejarah yang memamerkan beberapa barang dari zaman kerajaan. Ada juga koleksi filologika (filologis adalah ilmu yang mempelajari bahasa dari sastra) berupa beberapa naskah kuno dan numismatik (numismatik adalah ilmu pengumpulan dan identifikasi koin) yakni koleksi berupa tanda jasa, stempel, cap, mata uang dan tanda pangkat.

Baca Juga:

Referensi: Ayobandung.com | Info.pikiran-rakyat.com | Disparbud.Jabarprov.go.id | Uptdkebudayaan.Jabarprov.go.id | Edi Dimyati, "31 Museum di Jawa Barat dan Banten" | Her Suganda, "Wisata Parijs van Java: Sejarah, Peradaban, Seni, Kuliner, dan Belanja" | Febriana, Teguh Amor, "Telusur Bandung" | Moh Faidol Juddi, "Komunikasi Budaya dan Dokumentasi Kontemporer"

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Alasan Mengapa Orang Sunda Suka Makan Lalapan Sebelummnya

Alasan Mengapa Orang Sunda Suka Makan Lalapan

Indonesia Ternyata Punya 26 Milyar Lobster Bertelur yang Siap Jadi Cuan Selanjutnya

Indonesia Ternyata Punya 26 Milyar Lobster Bertelur yang Siap Jadi Cuan

Dimas Wahyu Indrajaya
@dimas_wahyu24

Dimas Wahyu Indrajaya

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.