Sejarah Hari Ini (9 Juli 1976) - Palapa A1, Satelit Pertama Indonesia

Sejarah Hari Ini (9 Juli 1976) - Palapa A1, Satelit Pertama Indonesia
info gambar utama

Untuk pertama kalinya Indonesia - yang secara tak langsung mewakili negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) - memiliki satelit komunikasi sendiri.

Tepat pada 8 Juli atau 9 Juli 1976 waktu Indonesia, dengan menggunakan roket Delta 2914, Satelit Palapa A1 diluncurkan dari Kennedy Space Center, Tanjung Canaveral, Amerika Serikat, di atas Samudera Hindia pada 83 derajat Bujur Timur (BT).

Selama peluncuran itu prosesnya adalah tanggung jawab NASA.

Setelah itu NASA menyerahkan pengawasan kepada stasiun pengendali di Glenwood, New York.

Peluncuran Satelit Palapa A1 disiarkan di TVRI secara langsung dan di-relay oleh stasiun Palembang dan Medan.

Inisiasi meluncurkan satelit tersebut dilakukan oleh Perusahaan Umum Telekomunikasi (Perumtel, kini PT Telekomunkasi Indonesia, PT Telkom) yang menggandeng perusahaan kedirgantaraan asal Amerika Serikat, yaitu Hughes Aircraft Company (Hughes Space and Communication Inc.).

Setelah menandantangi perjanjian kerja sama pada 5 Juli 1974, Hughes Aircraft Company langsung tancap gas membangun dua stasiun komunikasi, satu stasiun pengendali utama, lima stasiun lintasan utama, dan empat stasiun lintasan tipis yang ditempatkan di wilayah-wilayah tertentu di Indonesia.

Sebenarnya sebelum eksekusi membuat dan meluncurkan Satelit Palapa A1 terjadi pro dan kontra.

Pejabat Dinas Pos dan Telekomunikasi, yakni Mayjen Soehardjono dan Ir. Yahya Sutanggar Tengker, pesimistis Indonesia sanggup meluncurkan satelit berhubung perekonomian Tanah Air sedang berbenah seusai pergantian rezim.

Namun karena mandat langsung diberikan Presiden Republik Indonesia (RI) Suharto untuk mengusahakan butuhnya satelit komunikasi, para pakar pun sering membahas ini dalam berbagai forum nasional maupun internasional.

Satelit Palapa merupakan salah satu satelit yang menggunakan panel surya sebagai sumber energi. Panel surya ini membungkus seluruh tubuh satelit. (Arsip KOMPAS)
info gambar

''Kalau memang perlu pakai satelit, silakan, pelajarilah kemungkinannya,'' ujar Presiden Suharto dikutip dari buku Sejarah Telekomunikasi Indonesia (2006).

Satelit yang awalnya hanya ada dalam angan akhirnya selesai dibangun pada Februari 1975. Suharto menamainya dengan nama Palapa atau lengkapnya Satelit Palapa A1.

''Saya ingat pada sejarah Mahapatih Gajah Mada dulu yang telah bersumpah, tidak akan makan buah Palapa sebelum persatuan dan kesatuan Kerajaan Majapahit menjadi kenyataan,'' ucap Presiden Soeharto yang tertulis dalam buku autobiografinya berjudul Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (1989).

Artikel surat kabar Australia, Canberra Times, mengabarkan tentang rencana Indonesia meluncurkan satelit Palapa pada Juli 1976.
info gambar

Dalam sebuah pertemuan di Lisbon, Portugal, pada September 1975, Sutangkar mengungkapkan Indonesia menghabiskan 130 juta dolar AS atau 10 persen dari anggaran terkait infrastruktur telekomunikasi.

Pada kesempatan itu Sutanggar juga menjelaskan Indonesia siap bernegosiasi bila negara tetangga ingin menggunakan Satelit Palapa A1.

Menjelang peluncuran, Indonesia menjadi perhatian dunia mengingat baru sedikit negara yang memiliki satelit pada saat itu.

"Peluncuran satelit Palapa akan sangat membantu dalam penyatuan negara karena orientasi negara kita menjadikan komunikasi sangat penting dan satelit Palapa akan membantu mengatasi masalah ini," ujar Menteri Penerangan, Mashuri Saleh, dikutip GNFI dari Nederlands Dagblad.

Artikel berita mengenai satelit Palapa A1 menjelang hari peluncuran.
info gambar

Mengutip dari buku Sejarah Satelit Palapa Indonesia Seri II yang dibuat Pusat Data dan Analisa TEMPO, adanya satelit Palapa mampu memperlancar hubungan antar pulau.

Pembicaraan telepon misalnya, meningkat dari angka 2.256.883 (1977) ke 3.252.500 (1978).

Siaran televisi di Indonesia pun sanggup menjangkau wilayah terpencil seperti Irian Jaya (Papua) dan terakhir di provinsi ke-27, Timor Timur.

Satelit ini diklaim mampu menjangkau seluruh wilayah NKRI bahkan hingga negara tetangga, termasuk Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand.

Baca Juga:

Kisah Satelit-Satelit RI dan Persiapan Satelit Pemersatu Wilayah 3T, Telkom 3S

Referensi: Harian Kompas | NederlandsDagblad | Canberra Times | Pusat Data dan Analisa TEMPO, "Sejarah Satelit Palapa Indonesia Seri II" | Ramadhan K.H. "Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya" | Museum Telekomunikasi, "Sejarah Telekomunikasi Indonesia"

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini