Hasrat RA Kartini untuk Ungkap Arti Ayat-ayat Al-Qur'an

Hasrat RA Kartini untuk Ungkap Arti Ayat-ayat Al-Qur'an
info gambar utama

Raden Adjeng Kartini atau dikenal dengan RA Kartini merupakan wanita kelahiran Jepara, 21 April 1897. Ia dikenal sebagai tokoh emansipasi wanita karena perjuangannya atas kesetaraan gender.

Tak hanya itu, RA Kartini yang sudah dinobatkan sebagai pahlawan nasional juga menyuarakan kerisauanya terhadap proses mengajinya yang tidak dibarengi dengan belajar terjemahan Al-Qur'an. Ia pun berhasrat mengungkapkan arti ayat-ayat dalam kitab suci tersebut.

"Manakah boleh aku cinta akan agamaku kalau aku tidak kenal, tidak boleh aku mengenalnya," demikian dikatakan Kartini kepada sahabat penanya Stella Zeehandelaar pada 6 November 1899 sebagaimana dikutip dalam buku Habis Gelap Habislah Terang.

Ia mengatakan Al-Qur'an terlalu suci sehingga tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apapun saat itu. "Di sini tidak ada orang yang tahu bahasa Arab. Orang diajar di sini membaca Qur'an tetapi yang dibacanya tidak mengerti," tutur Kartini.

Menurut Kartini, ketika belajar Al-Qur'an maka harus diiringi dengan belajar terjemahannya. Ia pun berusaha agar bisa membaca dan menghayati kitab suci umat Islam tersebut.

"Sama saja engkau mengajar aku membaca kitab, bahasa Inggris aku hafal semuanya. Sedangkan tiada sepatah kata jua pun yang kau terangkan artinya kepadaku," kata Kartini.

Pada surat berikutnya, Kartini mengungkapkan kecurigaannya bahwa sang guru juga tidak tahu terjemahan Al-Qur'an. Meski begitu, kegelisahannya terjawab usai bertemu Kiai Sholeh Darat asal Semarang.

Kartini Seorang Santri

Menurut buku Kiai Sholeh Darat dan Dinamika Politik di Nusantara Abad XIX-XX MA karya Taufiq Hakim, darah garis keturunan Kartini sebenarnya bukan orang abangan melainkan santri.

Nenek dan kakek Kartini dari garis ibu merupakan muslim taat. Ayahnya bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat seorang Bupati Jepara, dan ibunya bernama M.A Ngasirah.

Ibunda Kartini adalah putri seorang muslim yang taat, yaitu dari pasangan Nyai Hj. Siti Aminah. Sementara kakeknya adalah seorang guru agama di Telukawun Jepara, Kiai Haji Mardirono.

Pertemuan Kartini dengan Kiai Sholeh Darat merupakan momen yang bersejarah dan mencerahkan. Pertemuannya dengan Kiai Sholeh Darat itulah yang mengubah persepktif awal Kartini terhadap Islam.

"Mulanya Kartini berpikiran sinis terhadap Islam, lantaran kitab suci Al-Qur'an yang berbahasa Arab tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa." (Hlm 170).

Pelarangan menerjemahkan Al-Qur'an ke dalam bahasa Jawa merupakan kebijakan rezim kolonial kala itu. Belanda melarang menerjemahkan Al-Qu'ran ke dalam bentuk Jawa ataupun latin.

Tak menutup kemungkinan, hal ini merupakan upaya Belanda untuk menjauhkan masyarakat Jawa dari Islam. Maka dari itu masyarakat Jawa, sebelum Kiai Sholeh Darat menulis tafsir Al-Qur'an dalam bentuk pegon, tidaklah memahami Al-Qur'an termasuk Kartini.

"Hal inilah yang kemudian juga membuat Kartini memandang Al-Qur'an sebagai kitab suci yang hanya dimonopoli oleh para ulama," (Hlm 170).

Namun pandangan Kartini dan kegelisahanya itu segera berlalu ketika bertemu dengan Kiai Sholeh Darat. Dalam sebuah riwayat, Kiai Sholeh Darat diundang memberi pengajian di pendopo rumah Bupati Demak, Pangeran Ario Hadiningrat yang juga paman Kartini.

"Kala itu Kiai Sholeh Darat sedang mengajarkan tafsir Surat Al-Fatihah. Kartini menjadi amat tertarik dengan Kiai Sholeh Darat, karena penafsiran surat Al-Fatihah itu menggunakan bahasa Jawa yang bisa dimengerti oleh orang Jawa, termasuk Kartini," (Hlm 174).

Setelah pengajian usai, Kartini mendesak pamannya yang merupakan seorang bupati untuk menemaninya menemui Kiai Sholeh Darat. Karena desakan Kartini yang kuat, maka sang paman pun tidak bisa mengelak. Sehingga terjadilah pertemuan antara Kiai Sholeh Darat dengan Kartini yang didampingi oleh pamannya. Dari pertemuan ini terjadilah dialog antara Kartini dengan Kiai Sholeh Darat.

"Selama ini surah Al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tidak mengerti sedikit pun akan maknanya. Tetapi sejak hari ini ia menjad terang benderang sampai kepada makna yang tersirat sekalipun, karena Romo Kiai menjelaskan dalam bahasa Jawa yang saya pahami," ungkap Kartini.*

Referensi: Buku Habis Gelap Terbitlah Terang | Buku Kiai Sholeh Darat dan Dinamika Politik di Nusantara Abad XIX-XX MA

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini