G Kolff & Co, Toko Buku Pertama di Jakarta Tempo Dulu

G Kolff & Co, Toko Buku Pertama di Jakarta Tempo Dulu
info gambar utama

Kawan GNFI senang berkunjung ke toko buku? Jika senang, toko buku apa saja yang biasa Kawan GNFI kunjungi? Apa mungkin Gramedia atau Gunung Agung, karena mengingat keduanya merupakan toko buku yang banyak tersebar di Indonesia?

Dua toko buku tersebut memang besar dan ternama di Indonesia, keduanya bahkan sama-sama berdiri di Jakarta. Namun, yang manakah yang menjadi toko buku pertama di ibu kota?

Toko buku Gramedia berdiri pada 1970, sementara toko buku Gunung Agung berdiri lebih dulu 1953. Lantas apakah itu membuat Gunung Agung menjadi toko buku pertama di Jakarta? Mungkin iya pada alam kemerdekaan, tetapi saat Indonesia belum merdeka di mana Jakarta masih mengemban nama Batavia, sudah ada toko buku di kota tersebut.

G Kolff & Co namanya, itulah toko buku pertama di Batavia yang kini menjadi Jakarta. Selain menjual buku, toko buku ini juga menjadi penerbit dan percetakan buku-buku yang beredar di Hindia Belanda (sekarang Indonesia).

Awalnya Terletak di Kota Tua Jakarta

Batavia - atau Jakarta - tumbuh berkembang dari wilayah pesisir di utara. Banyak berbagai macam perusahaan yang berkantor di gedung-gedung yang dibangun di daerah tersebut. Salah satunya toko buku G Kolff & Co.

Daerah sekitar Kali Besar ramai pada zaman kolonial Belanda, sebelum kota meluas ke selatan/tenggara, daerah ini menjadi pusat bisnis beragam kalangan. Toko buku G Kolff & Co sendiri berdiri di di Buiten Nieuwpoort Straat yang kini bernama Jalan Pintu Besar Selatan.

Toko buku dan percetakan G Kolff & Co,
Toko buku G Kolff & Co di daerah Kota Tua. Sumber: Scott Merrilles, "Batavia in Nineteenth Century Photograph"

Scott Merrillees dalam buku Batavia in Nineteenth Century Photograph (2000) menyebutkan, Willem van Haren Noman mengoperasikan perusahaan pada 1848. Pada 3 Juli 1850, pengusaha dari Belanda bernama Gualtherus Johannes Cornelis Kolff bergabung dalam perusahaan itu. Sebelum menjadi G Kolff & Co, nama toko tersebut ialah Van Haren Homan & Kolff.

Tahun 1858, Noman kembali ke Belanda, maka selanjutnya Kolff sendirilah yang menjadi pemegang perusahaan. Namanya pun berubah menjadi G Kolff & Co.

Menerbitkan Buku hingga Surat Kabar

G Kolff & Co menerbitkan berbagai macam bacaan dengan beragam format. "G Kolff & Co mencetak buku, kartu pos, dan koran, yaitu Java Bode (1850), yang berafiliasi dengan koran di Semarang, De Locomotief, dan Het Soerabaiasche Handlesblad di Surabaya," ujar Merrillees dikutip GNFI dari artikel Harian Kompas tahun 2015.

Potret G.J.C Kolff.
info gambar

Sejumlah buku terbitan G Kolff & Co bisa ditemukan di perpustakaan Museum Sejarah Jakarta. Beberapa buku yang dikeluarkan, seperti catatan perjalanan dan buku tentang undang-undang. Judul buku yang disimpan sebagai koleksi museum seperti notula Algemeene en Directievergaderingen (1913) dan Algemeene en Bestuurs Vergaderingen (1865).

Konten dari buku terbitan G Kolff & Co saat itu sulit diterjemahkan orang awam karena menggunakan bahasa Belanda kuno. Kebanyakan buku yang diterbitkan dan disimpan sebagai aset Museum Sejarah Jakarta berisi tentang catatan perjalanan dan undang-undang.

Buku terbitan G Kolff & Co
Buku terbitan G Kolff & Co yang berjudul Gambar-Gambar akan Peladjaran dan Kasoekaan Anak-anak dan Iboe-bapanja. Sumber: Luk.staff.ugm.ac.id

Buku terbitan G Kolff & Co sebenarnya tak hanya berbahasa Belanda, tetapi juga ada yang berbahasa Melayu. Bukunya pun tidak melulu untuk dewasa, tetapi juga anak-anak. Salah satunya dibuat sendiri oleh Kolff dengan buku berjudul Gambar-Gambar akan Peladjaran dan Kasoekaan Anak-anak dan Iboe-bapanja.

Di dalam buku karya Kolff tersebut berisikan ilustrasi yang dilengkapi deskripsi bahasa Melayu Betawi dan Belanda. Ilustrasinya sendiri digambar oleh G.J. Thieme yang kemungkinan mencontoh karya pelukis Belanda yang aktif mengabadikan pemandangan kehidupan Hindia Belanda, yaitu Josias Cornelis Rappard.

Tak hanya menjadi toko buku dan penerbitan, G Kolff & Co dulu juga sering dipakai untuk pameran karya pelukis tersohor Hindia Belanda. Dua Gerard Pieter Adolfs dan R. Strasser pernah memamerkan karyanya di toko buku tersebut.

Berpindah-Pindah

Lokasi toko buku dan percetakan G Kolff & Co sempat berpindah beberapa kali. Toko buku awalnya menempati ruangan sewa kecil di Jalan Pintu Besar Selatan. Bisnis terus berkembang sehingga ruangan kecil itu tak lagi mampu menampung aktivitas di dalamnya. Perusahaan lalu membeli bangunan di sudut selatan Pasar Pisang (Jalan Kali Besar Timur 3) dan Kali Besar Oost (Jalan Kali Besar Timur).

Toko di kawasan niaga Kota Tua itu hidup hingga 1921. Pada Mei 1921, toko pindah lagi ke tempat yang lebih besar di Jalan Pecenongan di dekat Pasar Baru. Kolff juga membuka cabang di kawasan Noordwijk (Jalan Juanda) pada 1894 untuk mendekati kawasan perumahan di bagian selatan.

Toko buku G Kolff & Co
Toko buku G Kolff & Co. Sumber: Jakarta.go.id

Sepanjang tahun itu, perkembangan bisnis perusahaan mencapai puncaknya sehingga cabang toko buku dan percetakan bisa dibuka di beberapa kota besar di Pulau Jawa. Keberhasilan itu pun sampai di telinga Ratu Belanda.

Ratu Belanda kemudian mengizinkan perusahaan menggunakan label kerajaan atau "Koninklijke" pada namanya. Nama perusahaan lalu berubah menjadi NV Koninklijke Boekhandel en Drukkerij G Kolff & Co. Dengan penggunaan nama resmi kerajaan itu, G Kolff & Co juga mendapatkan kontrak untuk menerbitkan cukai tembakau.

"G Kolff & Co kemudian menjadi pencetak buku-buku pendidikan di Hindia Belanda dan menjadi produsen terbesar kartu pos Batavia pada awal abad ke-20. Foto-foto dalam kartu pos itu sangat bermanfaat untuk melihat topografi Jakarta pada abad tersebut," ujar Merrillees.

Revitalisasi Gedung

Usia G Kolff & Co mencapai 100 tahun pada 1948. Selanjutnya, gedung itu dibiarkan tak terurus dan tak berfungsi.

Gedung bekas toko buku dan penerbitan G Kolff & Co roboh tahun 2015. Dikutip GNFI dari Detik, gedung ini masuk dalam proyek revitalisasi oleh PT Pembangunan Kota Tua Jakarta atau PT Jakarta Old Town Revitalization Corporation (JOTRC). Kabar revitalisasi ini sudah menjadi pemberitaan sejak awal tahun 2016.

Kondisi bekas toko buku G Kolff & Co pada 2015.
Kondisi bekas toko buku G Kolff & Co pada 2015.

Pada 2019, masih terlihat sisa-sisa gedung G Kolff & Co. Namun, kondisinya masih sama seperti tahun sebelumnya dan dipagar dengan pembatas seng.

Referensi: Detik.com | Harian Kompas | Kompas.com | Gualtherus Johannes Cornelis Kolff, "Gambar-Gambar akan Peladjaran dan Kasoekaan Anak-anak dan Iboe-bapanja" | Scott Merrilles, "Batavia in Nineteenth Century Photograph"

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini