Jejak Senapan Serbu Legendaris Pada Operasi Trikora dan Dwikora

Jejak Senapan Serbu Legendaris Pada Operasi Trikora dan Dwikora
info gambar utama

Tatkala operasi Trikora berlangsung di Irian Barat pasukan komando TNI-AU (PGT – Pasukan Gerak Tjepat) telah menggunakan salah satu senjata “ikonik”, yakni battle rifle G3 kaliber 7,62 mm standar NATO buatan Jerman Barat.

Walaupun sebenarnya senjata serbu jenis ini kurang proporsional di gunakan pada saat itu dikarenakan battle rifle ini memiliki bobot yang cukup berat, disertai sentakan recoil yang keras, namun dapat dengan cepat menimbulkan kelelahan bagi prajurit yang menggunakannya.

Belum lagi keterbatasan magasin yang hanya sanggup menampung 20 butir peluru saja. Tapi itu semua tidak mengurangi kehandalan dari senjata serbu ini. Terdapat fakta menarik tentang senjata G3 ini, yaitu Indonesia adalah salah satu pengguna pertama di dunia senjata jenis ini, terlebih senjata serbu ini terlibat langsung dalam operasi besar yang pernah dilakukan Indonesia di Irian Barat, yaitu operasi Trikora.

Ada sebuah kejadian di mana pada saat itu tentara Belanda dibuat ciut nyalinya ketika berhadapan langsung dengan komando PGT yang tengah melakukan infiltrasi. Ternyata, salah satu jenis senjata yang digunakan oleh tentara Indonesia pada saat itu khususnya PGT adalah G3.

Demikian juga hal yang sama terjadi di Malaysia pada saat operasi Dwikora, di mana pasukan gurkha yang terkenal itu harus berpikir dua kali ketika hendak melakukan penyergapan ke tempat persembunyian PGT di hutan karet Johor Baru. Alhasil penyergapan urung dilakukan oleh tentara gurkha dan sebagai gantinya tentara gurkha menggunakan anjing pelacak terlatih.

Dua kejadian tersebut menunjukkan kehandalan senjata ini dan ketika berada ditangan pasukan terlatih senjata ini menjadi momok yang menakutkan bagi lawan. Ironisnya, dua dekade kemudian giliran prajurit TNI dari tiga matra yang justru harus berhadapan dengan keganasan G3 dalam operasi Seroja di Timor-Timur di tangan Fretilin dan Tropaz G3 menjadi kombinasi yang maut terlebih Tropaz dapat mengoperasikannya dengan sangat baik yang kerap menghasilkan tembakan jitu.

Asal-usul kepemilikan Senjata G3 Indonesia

Senjata G3 buatan rheinmetall yang dipakai PGT dalam operasi Trikora
info gambar

Bagaimana bisa senjata G3 buatan Jerman Barat sampai ke tangan Indonesia? Sementara Jerman Barat dan Belanda serta Inggris notabene adalah anggota NATO. Sehingga, dapat di pastikan Jerman Barat tidak pernah menjual senjata tersebut ke Indonesia demi menghormati Belanda dan Inggris sebagai teman dalam satu wadah pakta pertahanan.

Setelah ditelisik, ternyata senjata G3 yang masuk ke Indonesia pada tahun 60-an berasal dari Myanmar (Birma). Konon kabarnya, senjata-senjata tersebut di terima Indonesia melalui Grey market transfer.

Kepemilikan senjata G3 oleh Myanmar berawal pada tahun 1953 ketika ada satu perusahaan spesialis pembuat mesin industri persenjataan yang bernama Fritz Werner dari Jerman Barat mendirikan tiga pabrik amunisi, senjata, dan artileri di Rangoon Birma dengan alasan guna mencegah Myanmar jatuh ke tangan rezim komunis.

Melalui perusahaan Fritz Werner inilah Myanmar memperoleh hak eksklusif mengimpor lebih dari 10.000 pucuk senjata dan Juga memproduksi G3 dari pabrikan Rheinmetall serta mendatangkan empat sampai enam juta butir peluru kaliber 7,62 mm NATO pada tahun 1961.

Pada periode tersebut antara Indonesia dan Myanmar terjalin kerja sama antar negara yang erat termasuk adanya persamaan senasib seperjuangan bahkan Presiden Soekarno dalam kunjungan kenegaraannya yang pertama, Myanmar menjadi salah satu negara yang dikunjungi.

Di sini jelas bahwa senjata G3 yang digunakan PGT pada tahun 60-an adalah senjata G3 keluaran Rheinmetall dengan handguard baja, popor tarik, flash hider model drum berlubang-lubang kecil, serta pisir flip up sederhana. Senjata G3 resmi diproduksi oleh Rheinmetall awal tahun 60-an hingga tahun 1969.

Kemudian, Rheinmetall berhenti memproduksi G3 guna memenuhi permintaan Heckler dan Koch untuk memproduksi MG3 (Maschinengewehr 03). Selanjutnya, pada tahun 1977 Heckler & Koch resmi menggantikan Rheinmetall. Varian G3 H&K yang paling umum digunakan adalah G3A3 yang merupakan varian G3, improvisasi dari versi sebelumnya (G3).

G3A3 memiliki beberapa fitur seperti drum iron sight, buttstock atau popor tetap yang terbuat dari plastik dan handguard yang terbuat dari plastik biasanya berwarna hijau. Varian G3A3 menampilkan pisir model drum dan pejera ghost ring yang kelak menjadi trademark H&K.

Sejarah senjata G3

No registrasi senjata G3 PGT yang tersimpan di museum militer Belanda
info gambar

Di masa era Perang Dingin sekitar tahun 1950-an pemerintah Jerman Barat merencanakan untuk mempunyai sendiri senapan standard dengan kaliber 7,62 mm NATO. Saat itu, ada 3 prototipe sebagai kandidat yang diajukan untuk diadopsi dan diproduksi di Jerman Barat, yaitu G1 (FN Fal), G2 (CETME) & G3 (Heckler&Koch).

Pada mulanya G1 (FN Fal) adalah kandidat kuat yang direncanakan oleh pemerintah Jerman Barat untuk diadopsi jadi senapan standar kaliber 7,62 mm NATO untuk digunakan oleh Bundeswehr atau angkatan bersenjata Jerman Barat.

Tetapi G1 batal menjadi kandidat terpilih karena masalah negosiasi kontrak lisensinya dengan Fabrique Nationale (FN) Belgia yang berjalan alot sehingga tidak tercapai kesepakatan. Kemudian dilanjutkan lagi Negosiasi dengan pabrik CETME atau CENTRO de ESTUDIOS TECNICOS de MATERIALES ESPECIALES (PINDAD-nya Spanyol) negosiasi ini juga tidak mulus karena nilai kontrak yang ditawarkan terlalu mahal.

Akhirnya, pemerintah Jerman Barat memutuskan untuk membeli G3 dari pabrikan baru berskala kecil di dalam negeri. Pabrik tersebut adalah Heckler and Koch (H&K) . H&K kemudian membuat senapan G3 yang sebenarnya merupakan penyempurnaan dari senapan CETME nya spanyol.

H&K didirikan oleh para insinyur bekas Mauser yang pada akhir Perang dunia II melarikan diri ke Spanyol dan membantu pabrik senjata CETME menciptakan senapan serbu CETME kaliber 7,62mm NATO. Senapan ini dibuat berdasarkan rancangan Strumgewehr 45 (St.Gw.45 atau StG44/45) yang tidak sempat diproduksi secara massal oleh Jerman pada perang dunia kedua. Itu sebabnya St.Gw.45, CETME & G3 memakai sistim operasi delayed-blow back yang menggunakan roller block.

Tahun-tahun selanjutnya, nama senjata jenis ini terdengar begitu familiar di lingkungan keluarga TNI-AU, termasuk bagi putra-putri PGT tentu mengenal senjata jenis G3 ini. Namun pada saat itu adapula sebagaian personil PGT yang menyebut senjata G3 ini dengan sebutan”CETME” sebutan itu bukan tanpa alasan karena ternyata senjata G3 adalah penyempurnaan dari senjata serbu CETME buatan spanyol. Pada saat ini senjata ikonik tersebut sudah tidak digunakan lagi dalam operasional.

Namun, TNI AU khususnya masih menggunakan senjata tersebut secara terbatas dan Sejak tahun 2008 seluruh G3 akhirnya digudangkan serta TNI AU sepenuhnya melakukan konversi ke SS-1/SS-2 buatan Pindad Indonesia../121269/bdg/1/20/@philiposis*

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini