Tak Mau Bebani Negara, PT Angkasa Pura Diketahui Gunakan Pembiayaan Mandiri

Tak Mau Bebani Negara, PT Angkasa Pura Diketahui Gunakan Pembiayaan Mandiri
info gambar utama

Sebagai salah satu wujud dedikasi membangun negeri, PT Angkasa Pura I membangun dan mengembangkan beberapa bandara, baik yang termasuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) maupun yang tidak termasuk. Pasalnya pembangunan dan pengembangan tersebut menggunakan pembiayaan mandiri perusahaan, baik melalui kas internal maupun penerbitan obligasi.

Hal tersebut merupakan sebuah prestasi tersendiri bagi perusahaan dalam berkontribusi membangun negeri tanpa membebani keuangan Negara. Direktur Utama PT Angkasa Pura I, Faik Fahmi, menjelaskan keputusan membangun bandara dengan biaya mandiri karena pihaknya tak ingin membebani Negara.

Sebagai informasi, PT Angkasa Pura I merupakan Badan Usaha Milik Negara yang memberikan pelayanan lalu lintas udara sekaligus bisnis Bandar udara di Indonesia yang menitikberatkan pelayanan pada kawasan Indonesia bagian tengah dan timur. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1962 oleh Presiden pertama Indonesia, yakni Ir. Soekarno.


Pada 2017, melalui Peraturan Presiden (Perpres) 58 Tahun 2017 mengenai Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional, Pemerintah Republik Indonesia telah menetapkan 3 Bandara yang dikelola oleh PT. Angkasa Pura I menjadi bagian dari PSN dari total 8 proyek pembangunan dan revitalisasi bandara.

Delapan bandara tersebut dibagi 2 bagian, yakni proyek pembangunan bandara dan proyek revitalisasi atau pengembangan bandara. Tiga bandara yang tergolong dalam PSN, antara lain, pembangunan bandara baru Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) di Kulon Progo, pengembangan Terminal Baru Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang, dan pengembangan Terminal Baru Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin.

Ketiga bandara tersebut telah selesai dibangun dan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo, di mana Terminal Baru Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang diresmikan pada 7 Juni 2018 silam, Terminal Baru Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin diresmikan pada 18 Desember silam, dan Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) di Kulon Progo telah selesai dibangun 100% pada Maret 2020.

Berikut adalah rincian singkat tentang pembangunan 3 bandara yang dikelola oleh PT. Angkasa Pura I, antara lain:

Bandara Jenderal Ahmad Yani

Bandara Apung Ahmad Yani Semarang. Sumber: phinemo.com
info gambar

Terminal Baru Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang dibangun dengan investasi sebesar Rp2,075 triliun. Terminal baru ini memiliki luas 58.652 meter persegi, hampir sembilan kali lipat luas terminal lama yang dapat menampung 6,9 juta penumpang di setiap tahunnya.

Fasilitas yang lain yaitu apron baru yang mampu menampung 12 pesawat, 30 konter check-in, 8 eskalator, 8 elevator, 2 travelator, 3 buah garbarata, dan tersedia pula gedung parkir yang dapat menampung 1.200 kendaraan.

Terminal baru Bandara Ahmad Yani ini menggunakan konsep eco-airport. Bandara direncanakan, dikembangkan, dan dioperasikan dengan tujuan menciptakan sarana dan prasarana perhubungan yang ramah lingkungan serta berkontribusi positif kepada lingkungan hidup.

Perlu Kawan GNFI ketahui, Bandara Ahmad Yani ini memiliki julukan bandara apung, Sebab, bandara kebanggaan warga Semarang ini dibangun di atas rawa alias mengapung di atas air (floating).

Jika dilihat dari angkasa, Bandara Ahmad Yani terlihat seperti mengapung, sebab memang sebagian besar bangunan berdiri di atas air. Bandara yang telah diresmikan oleh Presiden Jokowi pada 7 Juni silam ini menjadi bandara apung pertama di Indonesia.

Sesuai dengan konsepnya eco-airport, bandara ini ditanami 24 ribu bibit mangrove seluas 4,478 meter persegi untuk melindungi kelestarian lingkungan. Hal menakjubkan lain dari bandara ini yaitu pengolahan air hujan dan payau dengan system Reverse Osmosis (RO). Sehingga untuk pemenuhan kebutuhan air di sana tidak hanya dari PDAM saja.

Bandara Internasional Yogyakarta

Gerai UMKM di Bandara Internasional Yogyakarta. Sumber: dok. Humas PT Angkasa Pura I
info gambar

Pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) di Kulon Progo menghabiskan dana sebesar Rp10,5 triliun, yang mana Rp6,1 triliun untuk pembangunan fisik dan sisanya untuk pembebasan lahan.

Total luas area bandara ini mencapai 587 hektar dengan luas terminal sebesar 210.000 meter persegi, menjadikan bandara ini sebagai salah satu bandara terbesar di Indonesia yang dapat menampung 14 juta penumpang per tahun.

PT Angkasa Pura I yang memprakarsai proyek bandara ini juga memerhatikan sisi mitigasi potensi bencana di wilayah pantai selatan Yogyakarta. Landas pacu dibangun pada ketinggian 7,8 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan berjarak satu kilometer dari pantai.

Sedangkan apron berada pada ketinggian 8 mdpl dan terminal berada pada ketinggian 9 mdpl. Untuk mengantisipasi adanya gempa bumi, terminal bandara Internasional Yogyakarta ini dirancang tahan terhadap ancaman gempa bumi hingga 8,8 skala richter.

Selama masa pandemi Covid-19, ada hal menarik yang terdapat di kawasan Bandara Internasional Yogyakarta ini, yaitu adanya gerai Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tepatnya di area keberangkatan terminal penumpang. Tentunya, suasana baru dan kesan yang berbeda dapat dirasakan oleh para penumpang.

Area UMKM ini akan disebut sebagai Pasar Kotagede. Pasar tersebut direncanakan dapat menumpang hingga 300 produk UMKM Daerah Istimewa Yogyakarta dengan luas area 1.458 meter persegi yang nantinya akan menjadi area terbesar UMKM se-Indonesia dalam bandara.

Bandara Syamsuddin Noor Banjarmasin

Bandara Syamsuddin Noor. Sumber: skyscrapercity.com
info gambar

Sedangkan, Terminal Baru Bandara Syamsuddin Noor Banjarmasin dibangun dengan nilai investasi Rp2 triliun. Terminal Baru ini memiliki luas 77.562 meter persegi yang mampu menampung 7 juta penumpang per tahun. Apron atau tempat parkir pesawatnya dapat menampung hingga 14 pesawat narrow body.

Fasilitas dari Terminal Baru ini antara lain, 3 garbarata (aviobridge), 42 check-in counter, dan 4 baggage conveyor. Selain itu, tersedia parkir seluas 34.360 meter persegi yang mampu menampung 1.524 kendaraan roda empat dan 720 kendaraan roda dua, serta masjid yang bisa menampung hingga 1.186 orang.

Keunikan dari bandara ini terletak pada desain pembangunan, yang mengangkat unsur modern etnik. Bentuk terminal didesain seperti perahu jukung yang memiliki atap menyerupai intan berlian, berlantai dua, dan dilengkapi ornamen batik sasirangan di dalamnya. Meskipun fasilitasnya modern dan canggih, tetapi tetap tidak meninggalkan unsur budaya lokalnya.

--

Sumber: Angkasa Pura I | Merdeka | Liputan6 | Kompas | Mnews.co.id

Catatan Redaksi:

Penulis merupakan peserta magang jurnalistik yang diselenggarakan GNFI untuk periode Agustus 2020.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

IL
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini