Kebun Raya Bogor, Sejarah dan Tanda Cinta Raffles

Kebun Raya Bogor, Sejarah dan Tanda Cinta Raffles
info gambar utama

Kebun Raya Bogor pada mulanya berasal dari samida (hutan buatan atau taman buatan) yang setidaknya telah ada pada pemerintahan Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi 1474-1513) dari Kerajaan Sunda. Sebagaimana tertulis dalam Prasasti Batutulis, hutan buatan itu dibuat pula samida yang serupa di perbatasan Cianjur dengan Bogor (hutan ciung wanara).

Hal itu juga dikuatkan dengan adanya sebidang tanah yang terdapat bebatuan padat, seolah-olah ditata sedemikian rupa di dalam Kebun Raya Bogor. Diduga, ada hubungan antara Kebun Raya Bogor dengan hutan Samida yang tercatat di Prasasti Batutulis.

Menurut sejarawan Rachmat Iskandar, dalam Parasasti Batujajar di baris ketujuh tertulis kata "Nu nyieun samida" yang artinya bisa bermacam-macam. Bisa berarti satu tempat yang dibuat oleh Prabu Siliwangi, atau hanya sekadar bentuk peringatan supaya hutan-hutan itu tidak hancur sebagai sumber tanaman, air, dan sebagainya.

Kebun Raya Bogor tempu dulu | Foto: ikons.id
info gambar

Bila terbukti benar, maka Kebun Raya Bogor bisa dinobatkan menjadi kebun raya tertua di dunia, karena sudah ada sejak tahun 1500-an. Pembuktian itu menjadi penting untuk digunakan sebagai data penunjang kepada UNESCO.

Selain Prasasti Batujajar, ada juga makam keramat istri Prabu Siliwangi berlokasi di dekat Taman Meksiko, area sebelah timur Kebun Raya Bogor. Makam Ratu Galuh Mangkualam ini sudah ada sebelum dibuatnya Kebun Raya Bogor.

Saat ditelisik lebih jauh, 3 makam tersebut sudah berusia sekitar 600 tahun. Jika diperhatikan lebih dekat, di atas pusara makam Ratu Galuh terdapat sebuah replika emas dan mahkota yang terbuat dari semen, hal tersebut menunjukan jika ratu memiliki jabatan pada masanya.

Konon, pada saat malam banyak cerita mistis hingga membuat petugas patroli yang enggan berkeliaran dan jaga dikawasan makam Ratu Galuh.

Selain makam Ratu Galuh, dua makam lain adalah milik Mbah Jepra, panglima perang Padjajaran dan pendiri kampung Pandeglang, serta Mbah Baul, patih dari Prabu Siliwangi.

Berbeda dengan makam Ratu Galuh, kedua makam ini sering dikunjungi oleh pejabat dan paranormal. Para pengunjung yang datang meyakini Mbah Jepra adalah penjaga Kota Bogor. Sehingga kota Bogor, tidak terlalu rawan bencana.

Maka dari itu, sebagai bentuk rasa penghormatan, makam kedua pembantu Prabu Siliwangi ini sama ramainya seperti makam Ratu Galuh.

Raffles dan Tanda Cinta di Kebun Raya Bogor

Monumen Lady Raffles di Kebun Raya Bogor | m.ayobogor.com
info gambar

Ide pendirian Kebun Raya Bogor bermula dari Abner yang menulis surat kepada Gubernur Jenderal Van Der Capplen. Dalam surat itu, terungkap keinginannya untuk meminta sebidang tanah yang akan dijadikan kebun tumbuhan yang berguna, tempat pendidikan guru, dan koleksi tumbuhan bagi pengembang kebun-kebun yang lain.

Pada tahun 1817, Gubernur Jenderal Van Der Cappellen secara resmi mendirikan Kebun Rakyat Bogor dengan nama Lands Plantentuin te Buitenzorg.

Sekitar 47 hektare tanah di Istana Bogor dan bekas Samida dijadikan lahan pertama untuk kebun botani Bogor. Kesempatan ini digunakan untuk mengumpulkan tanaman dan benih dari bagian lain Nusantara.

Dengan segera, Bogor menjadi pusat pengembangan pertanian di Indonesia. Pada masa itu diperkirakan 900 tanaman hidup berada di tanam di kebun tersebut.

Selain itu ada kisah cinta, saat Thomas Stanford Raffles diangkat menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Selama di Hindia Belanda, istrinya, Olivia Raffles mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan dan rumah barunya.

Meski dikelilingi oleh rekan senegaranya sendiri, namun Olivia merasa ada yang hilang dari kehidupannya. Bahkan Olivia tidak bisa bergaul dengan orang Belanda karena tidak mengerti apa yang dibicarakan.

Olivia mau menerima dan bergaul dengan penduduk asli, perilaku yang saat itu sangat langka karena wanita Eropa pada waktu itu memilih manjauh dari pribumi. Sebagai imbalannya, ia mendapat penghargaan dari masyarakat setempat. Bahkan dengan kondisi kesehatan yang terus menurun, Olivia tetap menghadiri acara-acara sosial dan mengadakan pertemuan.

Pada 26 November 1814, Olivia meninggal dunia karena penyakit malaria di Buitenzorg pasa saat usia 43 tahun. Cinta sejati Raffles adalah Olivia, sehingga ia memutuskan untuk mendirikan sebuah patung dan monumen untuk mengenang mendiang istrinya di Kebun Raya Bogor. Hingga sekarang parasasti Olivia masih tegak berdiri sebagai tanda cinta Raffles kepada istrinya.*

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini