Pesona Wisata Non-Pantai di Serambi Mekkah

Pesona Wisata Non-Pantai di Serambi Mekkah
info gambar utama

Kawan GNFI, Aceh atau karib disapa Serambi Mekkah merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang diberi status sebagai daerah istimewa dan juga diberi kewenangan otonomi khusus. Secara geografis, provinsi ini terletak di ujung utara pulau Sumatra dan juga sebagai provinsi paling barat di Indonesia.

Secara umum, Aceh memiliki 13 etnis asli. Yang terbesar adalah etnis Aceh yang mendiami wilayah pesisir, mulai dari Langsa di pesisir timur utara hingga Trumon di pesisir barat-selatan. Etnis lainnya adalah Gayo, yang mendiami wilayah pegunungan di tengah Aceh.

Transportasi menuju Aceh melalui jalur darat dapat dilakukan dengan kendaraan dari Kota Medan, Sumatra Utara. Sementara angkutan udara menggunakan bandara internasional Sultan Iskandar Muda. Terdapat juga 8 bandara perintis di sana.

Nah, bagi kawan GNFI yang berniat liburan ke sana, tentunya banyak destinasi wisata menarik yang tak kalah elok. Khusus kawasan wisata non-pantai, berikut kami sarikan 5 di antara destinasi menarik di kawasan yang terkenal dengan kopinya tersebut.

Masjid Raya Baiturrahman

Masjid Raya Baiturrahman
info gambar

Masjid ini berdiri pada tahun 1606-1636, tepatnya pada saat pemerintahan Sultan Iskandar Muda yang saat dibangun diperuntukkan untuk dijadikan sebagai pusat pengajaran ilmu agama yang ada di Nusantara.

Masjid besar yang berlokasi di Jl. Moh. Jam No.1, Kampung Baru, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, ini memiliki desain interior dan eksterior gaya Kesultanan Turki Ustamani. Ornamennya cukup khas, kawan, dengan dominasi warna putih dan kubah hitam yang berukuran besar. Di sekelilingnya, ada sekira 7 menara megah menjulang.

Sementara pada bagian luarnya, dipenuhi rumput rumput berwarna hijau segar, membuat pemandangan masjid ini tampak begitu sejuk dan asri. Karena keindahan yang memesona ini, tak heran jika masjid ini masuk ke dalam 100 masjid terindah di dunia.

Secara umum, masjid yang mampu menampung 1.900 jamaah ini sudah mengalami renovasi hingga 5 kali serta penambahan luasa area. Bahkan masjid ini sempat menjadi tempat perlindungan masyarakat Aceh saat bencana tsunami melanda pada 2004.

Museum Tsunami

Museum Tsunami Aceh
info gambar

Yang tak kalah menarik adalah Museum Tsunami Aceh, yang merupakan sebuah museum di Kota Banda Aceh sebagai monumen simbolis untuk memperingati bencana gempa bumi dan tsunami yang terjadi pada 2004.

Museum ini merupakan sebuah struktur empat lantai dengan luas 2.500 meter persegi yang dinding lengkungnya ditutupi relief geometris. Untuk masuk ke dalam, pengunjung bisa melalui lorong sempit dan gelap di antara dua dinding air yang tinggi. Hal itu untuk menciptakan kembali suasana dan kepanikan saat tsunami.

Dinding museum dihiasi gambar orang-orang menari Saman, yang menjadi sebuah makna simbolis terhadap kekuatan, disiplin, dan kepercayaan religius suku Aceh. Dari atas, nampaknya pun mirip seperti gelombang laut.

Museum yang terletak di Jl. Sultan Iskandar Muda, Sukaramai, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, ini memiliki sebuah ruang khusus bernama Space of Sorrow atau Sumur Doa untuk mengenang para korban yang tewas saat bencana tsunami tahun 2004. Di ruang itu, semua nama korban tewas diukir di dinding yang pada ujung atasnya bertuliskan lafaz Allah.

Tahura Pocut Meurah Intan

Tahura Pocut Meurah Intan
info gambar

Jika kawan GNFI lebih menyenangi wisata alam, bisa menyambangi Tamah Hutan Raya (Tahura) Pocut Meurah Intan yang tenar dengan rumah pohon dan air terjunnya. Terletak di Kabupaten Aceh Besar dan Kabupaten Pidie, jaraknya 80 kilometer dari Kota Banda Aceh.

Rumah pohon yang ada di tahura itu terletak di antara dua pohon pinus yang bisa dihuni hingga 15 orang. Di sana, kita bisa menikmati pemandangan hutan pinus di kaki Gunung Seulawah.

Sedangkan air terjun yang ada di hutan itu terletak seberang jalan dari tahura. Untuk sampai ke air terjun, kita akan dibimbing oleh polisi hutan tahura. Nah, sekadar informasi jika jalan menuju air terjun terbilang cukup menantang. Namun, sesampainya di sana semua kesukaran perjalanan tadi bakal terbayar tuntas dengan pemandangan yang memesona.

Air terjun Suhom

Air terjun Suhom
info gambar

Selain wisata hutan dan air terjun di tahura, wisata yang tak kalah asik adalah Air Terjun Suhom. Terletak di antara dua desa, yakni Desa Suhom dan Desa Kreung Kala. Jarak menuju lokasi ini sekitar 75 kilometer dari Kota Banda Aceh melalui jalur pantai barat Aceh.

Untuk mencapai lokasi ini, kawan akan melewati bukit Paro dan Kulu. Jalanannya menanjak dan menurun yang beeberapa diantaranya cukup curam, serta tikungan tajam. Jalur itu bisa kawan tempuh dengan kendaraan bermotor.

Air terjun Suhom memiliki tiga tingkatan, yakni 3 meter, 5 meter, dan 10 meter. Sayangnya, pengunjung hanya boleh berada di air terjun 3 meter. Alasannya, di dua tingkat lain terdapat pembangkit listrik tenaga mikro-hidro yang mampu menghasilkan listrik sebesar 23 kilowatt per jam.

Selain berenang dan bermain air, pemandangan di air terjun Suhom cukup indah dan alami, udaranya pun jangan ditanya, sejuk. Jika kawan mengamati sekitarnya, maka akan melihat banyak sekali pohon durian yang tumbuh. Jika sedang musimnya, kawan bakal menemui banyak pedagang durian di sekitar air terjun ini. Jika betah dan ingin menginap, kawan bisa berkemah di lokasi seputar air terjun.

Gunung Seulawah Agam

Gunung Seulawah Agam
info gambar

Jika ingin merasakan serunya mendaki gunung, kawan GNFI bisa menuju Gunung Seulawah Agam. Gunung dengan tinggi 1.726 mdpl ini juga memiliki beberapa sebutan, yakni Solawa Agam, Solawaik Agam, Selawadjanten, dan Goldberg.

Sementara sebuah kawah di Seulawah Agam dikenal juga sebagai Kawah Heutsz. Ada juga yang menyebutnya sebagai Tanah Simpago.

Secara geografis, gunung ini terletak di Kecamatan Seulimeum, yang memiliki luas sekitar 1,4 juta hektare. Luasan itu meliputi wilayah Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Jaya, Aceh Besar, Pidie, Bireun, dan Aceh Tengah. Dengan wilayah yang luas, maka gunung ini dapat dilihat dari berbagai lokasi di sekitarnya.

Jika sudah terpesona, untuk mendaki Seulawah Agam nyatanya tak terlalu sulit. Tingkat kemiringan yang paling menantang adalah 70 derajat dengan jarak 500 meter. Namun perlu waspada kawan, karena jalur pendakian terkadang dilintasi juga oleh beragam fauna, seperti beruang, aneka burung, rusa, ular, landak, gajah, kancil, dan tentunya babi hutan.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini