Ratusan Perusahaan Asing Ramai-Ramai Relokasi Pabrik ke Indonesia

Ratusan Perusahaan Asing Ramai-Ramai Relokasi Pabrik ke Indonesia
info gambar utama

Kawan GNFI, pandemi Covid-19 dan perang dagang antara China dengan Amerika Serikat (AS) nyatanya berpotensi membawa berkah bagi investasi di Indonesia. Ratusan pabrik milik investor asing yang ada di China misalnya, menyatakan minatnya untuk merelokasi pabrik mereka ke Indonesia.

Salah satu perusahaan yang bergerak di bidang properti dan kawasan industri, PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS), mengkonfirmasi jika sudah ada lebih dari 140 perusahaan yang akan memindahkan bisnisnya ke Tanah Air. Sebagai catatan, pada akhir tahun lalu seperti dilaporkan DDTC, ada 59 investor asing yang merelokasi pabrik mereka dari China ke Jawa Tengah.

Berbagai perusahaan itu di antaranya bergerak di bidang otomotif dan turunannya, pergudangan atau logistik, serta pusat data. Untuk menangkap peluang itu, perusahaan telah menyiapkan lahan seluas 400 hektare di kawasan industri miliknya.

Faktor lain yang melatarbelakangi sejumlah investor itu berniat merelokasi pabriknya ke Indonesia, dikarenakan pasar Indonesia yang atraktif dan dinamis. Lain itu juga soal kemudahan berinvestasi yang disediakan pemerintah serta iklim investasi yang baik.

BKPM siap fasilitasi

Pemerintah melalui Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) siap untuk memfasilitasi sejumlah investor yang hendak merelokasi pabriknya dari luar negeri. Wakil Kepala BKPM, Ikmal Lukman, dalam Antara menyebut sekira ada 119 perusahaan asing yang berpotensi memindahkan pabriknya ke Indonesia.

“Dari 119 asing perusahaan yang berpotensi relokasi ke Indonesia, 59 di antaranya berasal dari Taiwan,” kata Ikmal.

Berdasarkan proyeksi BKPM, dari total 119 perusahaan tersebut, potensi nilai investasi yang dapat diterima Indonesia mencapai 41,39 miliar dolar AS atau sekitar Rp608 triliun. Dan dari jumlah tersebut potensi tenaga kerja yang bakal terserap mencapai 162.000 jiwa.

Khusus Taiwan, BKPM mencatat investasi negara tersebut ke Indonesia sepanjang periode April-Juni 2020 (Q2 2020) mencapai 77,3 juta dolar AS atau Rp1,3 triliun, naik dua kali lipat dari kuartal sebelumnya (Q1 2020) yang sebesar 34,3 juta dolar AS atau Rp 503,86 miliar. Peningkatan ini terjadi karena adanya pemindahan beberapa pabrik dari China ke Indonesia.

Selain itu, BKPM juga tengah bersiap mendukung investor dari Jerman dan negara Eropa lainnya yang berencana merelokasi pabrik-pabrik mereka dari berbagai negara ke Indonesia.

Sebelumnya, pada Juli lalu seperti dikabarkan CNBC Indonesia, BKPM menyebut ada tujuh perusahaan yang resmi merelokasi pabriknya ke Indonesia. Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia, mengatakan bahwa perusahaan tersebut sudah melakukan groundbreaking.

Berdasarkan catatan BKPM, tujuh petusahaan tersebut adalah;

  • Alpan Lighting (PT CDS Asia) dari Amerika Serikat, bidang usaha industri lampu dan tenaga surya,
  • Sagami Electric (PT. Sagami Indonesia) dari Jepang, bidang usaha industri komponen elektronika,
  • Denso (PT Denso Indonesia) dari Jepang, bidang usaha industri suku cadang kendaraan bermotor,
  • Panasonic (PT Panasonic Manufacturing Indonesia) dari Jepang, bidang usaha industri barang elektronika,
  • Meiloon (PT Meiloon Technology Indonesia) dari Taiwan, bidang usaha industri speaker, audio, dan video elektronik,
  • Kenda Fire (PT Kenda Rubber Indonesia) dari Taiwan, bidang usaha industri ban,
  • LG Electronics (PT LG Electronik Indonesia) dari Korea Selatan, bidang usaha industri perlengkapan elektronika.

Total nilai investasi dari ketujuh perusahaan itu seperti dicatat BKPM mencapai nilai 850 juta dolar AS atau sekitar Rp11,9 triliun. Dari relokasi pabrik-pabrik tersebut, tenaga kerja yang bisa terserap mencapai 30.000 orang.

Kawasan ekonomi sebagai titik tuju

Menurut BKPM, investor asing dapat memindahkan pabriknya ke sejumlah kawasan ekonomi yang telah disiapkan pemerintah, seperti;

  • Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang,
  • 15 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK),
  • 4 Free Trade Zone (FTZ),
  • 10 Bali Baru, dan
  • 118 kawasan industri skala besar.

Seperti kita tahu, salah satu KEK yang saat ini tengah digenjot pembangunannya adalah KEK Mandalika yang memiliki salah satu sirkuit balap paling indah di dunia. Kawasan ini direncanakan efektif beroperasi pada 2021.

Lain itu, beberapa kawasan yang dicanangkan sebagai 10 wisata Bali Baru juga tengah digenjot pembangunan serta infrastrukturnya. Salah satunya adalah Labuan Bajo di Manggarai Barat, NTT, yang direncanakan akan dibangun akses jalan tol.

Ikmal juga bilang, pemerintah juga telah menyiapkan pelbagai insentif dan kemudahan bagi para investor asing itu. Di antaranya; insentif pembebasan pajak (tax holiday), pengurangan pajak (tax allowance), bea masuk (import duty), dan lain sebagainya.

Peneliti Center of Reform on Economics (Core), Yusuf Rendy Manilet, menilai tren relokasi pabrik ini merupakan hal yang lumrah. Dia menyebut, faktor perang dagang China-AS yang telah terjadi sejak tahun lalu dan terus berlangsung menjadi alasan utama. Kemudian, terkini ada pandemi Covid-19 yang penyebarannya berasal dari China.

Ia menyebut bahwa para pelaku usaha global sadar akan perlunya menyesuaikan rantai pasok industri yang tidak bergantung pada China saja. Karena ketika aktivitas ekonomi di China terhenti, alur rantai pasok juga pasti terganggu.

Investor tentu akan memilih tempat yang dapat menawarkan potensi keuntungan ke depannya. Meski begitu, pemerintah perlu menjamin keberlangsungan usaha dari perusahaan yang merelokasi pabriknya. Lain itu yang tak kalah penting adalah memperbaiki kualitas dan upah buruh serta ongkos logistik yang efisien.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini