Berbagi Kisah Diaspora Indonesia di Dunia Melalui ‘’Surat Dunia’’

Berbagi Kisah Diaspora Indonesia di Dunia Melalui ‘’Surat Dunia’’
info gambar utama

Tidak pernah dibayangkan dan direncanakan sebelumnya bagi ibu dua orang anak asal Garut-Ciamis ini bahwa dia dan keluarganya harus segera pindah ke Prancis, tepatnya ke kota Montpellier. Suaminya yang warga negara Prancis harus segera pindah ke kampung halamannya.

Dini K. Massabuau benar-benar tidak ada persiapan untuk pindah ke Prancis, negara yang dikenal memiliki bahasa tersulit di dunia itu. Dini tak pernah menyangka bahwa dia akan menjadi diaspora Indonesia, bukan hanya sebatas perantau tapi dia harus menjadi perwakilan Indonesia. Anaknya yang sulung pun terpaksa harus memilki dua kewarganegaraan—Prancis dan Indonesia—sampai usianya 20 tahun.

Namun Dini bersyukur karena penilaian terhadap diaspora Indonesia tidak seperti dulu yang hanya diidentikan untuk orang-orang ekspatriat atau orang-orang kaya saja.

‘’Sekarang ini diaspora Indonesia cukup baik ikatannya karena perkembangan dari generasi ke generasi dan kesempatan untuk saling berbagi. Adanya organisasi dan kesempatan untuk berkembang di bidang ekonomi, informasi, budaya, jadi ada tempat dan fasilitasnya,’’ ungkap Dini pada acara bincang-bincang bersama Membumi Lestari bertajuk Diaspora Series: Puitis Menulis di Negeri Romantis pada Selasa (20/10/2020).

Tiga Tantangan Terbesar Hidup di Prancis

Tak biasa bagi Dini untuk menjadi orang asing di negeri orang. Apalagi kala itu kesulitan sudah dimulai datang dari keluarga suami yang mualaf. Bagi Dini dan keluarga, istiqomah memegang teguh keyakinan dan kewajiban menjadi seorang muslim sangat tidak mudah.

‘’Tantangan pertama datang dari orang tua suami. Bagaimana membuktikan kami keluarga muslim itu tidak seperti yang mereka lihat dan bayangkan. Dan itu butuh waktu bertahun-tahun sampai akhirnya mereka menyadari bahwa Islam itu agama damai,’’ kisah Dini.

Tidak sampai disitu, tantangan terberat lainnya adalah persoalan bahasa. Karena pada awalnya tidak ada rencana yang matang untuk pindah ke Prancis, Dini pun datang ke Negeri Romantis ini tanpa memahami sedikit pun bahasa Prancis.

‘’Pada saat saya datang saya merasa sehat, badan saya sehat, tapi [dalam waktu bersamaan] saya merasa cacat. Saya tidak mengerti orang ngomong apa. Akhirnya saya merasa paranoid seperti semua orang ngomongin saya. Padahal kan mungkin nggak juga.’’

Meski suami Dini adalah warga negara Prancis, Dini mengaku dalam keseharian dia dan suami, bahkan kepada anak-anak kerap berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia. Diakui Dini, suaminya sangat fasih berbahasa Indonesia. Tentu saja dibandingkan belajar bahasa Prancis, bahasa Indonesia jauh lebih mudah untuk dipelajari.

Pada akhirnya Dini memutuskan untuk mengambil kuliah lagi. Kuliah untuk mempelajari bahasa yang dikhususkan bagi guru warga asing yang ingin belajar bahasa Prancis.

‘’Saya anggap itu penting. Sulit sekali untuk komunikasinya nanti [kalau tidak bisa bahasa Prancis]. Bagaimana saya mengenal budaya orang Prancis, bagaimana orang Prancis mau mengenal budaya saya kalau tidak ada komunikasi,’’ papar Dini.

Butuh waktu yang cukup lama bagi Dini untuk bisa memahami dan fasih berbahasa Prancis. ‘’Butuh waktu tiga tahun karena itu bahasa paling sulit di dunia. Hehe,’’ gelak Dini.

Tantangan ketiga adalah mencari kerja. Dini tidak menyinggung soal sulitnya mencari kerja karena Dini seorang muslim, melainkan beberapa bidang dan diploma yang didapatkan Dini di Indonesia ternyata tidak diakui di Prancis.

‘’Dari pada saya nggak karuan cari kerja, akhirnya saya melanjutkan bidang yang saya ketahui yaitu sebagai koresponden dan kontributor untuk media di Indonesia. Alhamdulillah untuk hal itu tidak ada masalah,’’ ungkapnya.

Hingga hari ini Dini memang dikenal menjadi kontributor dan koresponden media-media televisi nasional serta media-media cetak di Indonesia. Hingga pada akhirnya, dia menyadari sebagai diaspora Indonesia, dia harus punya kontribusi untuk negeri yang lebih dari soal pekerjaan.

Dari kesenangannya menulis, tercetuslah ide untuk membuat Surat Dunia.

Kisah Diaspora Indonesia Melalui SuratDunia.com

Selama 20 tahun hidup di Prancis, bertahun-tahun meliput segala sesuatu yang terjadi di Prancis untuk Indonesia, Dini merasa tergerak untuk berbuat lebih.

‘’Setiap kali saya liputan ada banyak sisi lain yang bisa disampaikan tapi tidak bisa dimasukkan dalam berita. Itu sesuatu yang sangat disayangkan. Akhirnya saya mulai berpikir harus membuat berita khusus diaspora Indonesia. Mengenai siapa saja dan apa yang dilakukan diaspora Indonesia yang ada di luar negeri,’’ tutur Dini.

Akhirnya kanal SuratDunia.com pun dibangun oleh Dini. Bukan hal yang mudah. Apalagi Dini mengaku sebagai orang yang gaptek (gagap teknologi). Dengan bantuan suami, gagasan dan ide itu akhirnya terlaksana.

‘’Tapi ternyata tidak mudah ya mengajak orang untuk menulis,’’ lanjut Dini.

Di akhir 2017, Dini mencoba untuk menghidupkan kanal ini. Dini menilai bahwa ternyata orang Indonesia cenderung malu-malu untuk bisa menulis dan tidak semua orang Indonesia juga terbiasa untuk menulis. Hambatan mental itu yang menjadi upaya keras awal Dini. Berbeda bagi Dini yang terbiasa menulis untuk menjadi koresponden dan kontributor media.

‘’Akhirnya saya kontak perwakilan Indonesia yang ada di luar negeri. Itu nggak gampang untuk memperkenalkan diri. Jadi saya terpaksa pakai nama media [tempat kontributor saya]. Mari kita kerja sama untuk membuat berita apa saja yang dilakukan oleh perwakilan dan diaspora Indonesia. Alhamdulillah responnya baik,’’ tutur Dini.

Kanal SuratDunia.com
info gambar

Banyak diaspora Indonesia yang pada akhirnya mengisi kanal tersebut hingga pada Desember 2019 baru Dini bilang itu adalah waktu pertama kali rilis. Iklan mulai berdatangan, orang semakin yakin, Dini bersyukur akhirnya Dini bisa secara total memberikan sumbangsih kecil ini untuk Indonesia.

Sampai pada akhirnya gagasan baru muncul. Oktober 2020, buku berjudul Enak Sih, Tapi… : Cerita Perempuan Indonesia di Tanah Rantau terbit. Buku ini merupakan kontribusi para diaspora Indonesia yang keuntungannya total diberikan kepada Komunitas Petani Cerdas.

‘’Ada 20 cerita berbeda, 20 penulis, dari 20 negara berbeda. Jadi menarik sekali. Masing-masing menceritakan memoarnya biar banyak orang yang tahu apa yang terjadi. Terutama bagi para muslima berhijab yang ternyata memiliki cerita tertentu dan berbeda setiap orang,’’ tutur Dini.

Buku Antologi ''Enak Sih, Tapi...
Buku antologi dari 20 diaspora perempuan Indonesia, di 20 negara, dengan 20 cerita masing-masing.
Sumber Foto: SuratDunia.com

Tapi Dini tidak mau berhenti sampai disitu. Memang masih ada banyak kelemahan dan kekurangan, namun Dini melalui kanal SuratDunia.com ingin menjadikan ini sebagai ajang berbagi bagi siapapun diaspora Indonesia untuk berbagi kisah dan saling ngobrol satu sama lain.

Tentu saja hal ini tidak terbatas untuk orang Indonesia yang sedang tinggal di luar negeri.

‘’Diaspora itu kan bisa juga orang Indonesia yang tinggal di Indonesia. Jadi sebenarnya siapa saja bisa menulis. Orang luar juga butuh tahu keadaan dan kisah di mana kamu berada.’’

Bagi Kawan GNFI yang ingin bersilaturahmi dengan diaspora Indonesia dan berbagi cerita, kawan bisa mengirimkan tulisan dan ceritamu ke kanal SuratDunia.com. Oh ya, yang ingin menceritakan tentang beasiswa-beasiswa luar negeri juga bisa banget dibagikan ke kanal tersebut.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini