Mengembangkan Kultur Jaringan Secara Mandiri di Rumah Sendiri

Mengembangkan Kultur Jaringan Secara Mandiri di Rumah Sendiri
info gambar utama

"Sebelum jadi mahasiswa sudah kagum dengan bioteknologi. Setelah ketemu tanaman di dalam botol itu spektakuler sekali, saya harus bisa (menerapkannya). Kemudian di IPB ada kultur jaringan saya kejar dosennya walaupun dikenal sulit," ucap Dosen Fakultas Kehutanan IPB University, Edhi Sandra, mengenai ketertarikannya dengan teknik konservasi tanam via kultur jaringan yang disampaikan di webinar bertajuk Teknik Kultur Jaringan Skala Rumahan yang digelar MembumiLestari dan GoodNews From Indonesia (GNFI) pada Selasa (17/11/2020). Pendiri Esha Flora tersebut, bergerak aktif dalam budi daya tanam dengan cara sederhana, yakni membuka 'laboratorium' tanaman di rumah.

Kultur jaringan bisa dilakukan secara mandiri di rumah. Namun, apakah definisi kultur jaringan itu? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kultur jaringan adalah rekayasa untuk mempercepat pertumbuhan jaringan lewat media tumbuh yang diatur kondisinya.

Pengertian lebih lengkapnya, mengutip dari Kultur Jaringan Tanaman karya Rindang Dwiyani, kultur jaringan tanaman adalah suatu teknik untuk menumbuhkan sel, jaringan ataupun irisan organ tanaman di laboratorium pada suatu media buatan. Dalam media tersebut terkandung nutrisi yang aseptik (steril) agar tanaman tumbuh secara utuh.

Metode kultur jaringan merupakan cara alternatif untuk menghasilkan bibit dalam jumlah banyak dan waktu yang relatif singkat. Teknik pengembangbiakan tanaman dengan metode kultur jaringan dapat dilakukan sepanjang waktu, tidak dipengaruhi oleh musim. Salah satu tahapan dalam metode ini menggunakan in vitro.

Teknik in vitro sendiri adalah kultur organ atau sel pada medium pertumbuhan yang mengandung nutrisi di dalam suatu wadah terbuat dari kaca/gelas (erlenmeyer, botol kaca). Teknik ini bertujuan agar dapat mengontrol kondisi lingkungan. Teknik pengembangbiakan dengan kultur jaringan berasal dari eksplan saru induk. Kondisi ini membuat keturunannya memiliki sifat yang sama dengan induknya.

Esha Flora, Bantuan Ilmu Pengetahuan dari Profesional untuk Khalayak

Tanaman rumah salah satunya kaktus yang menjadi dekorasi indah dan pas di rumah. Sigit Adhi Wibowo
info gambar

Sempat disinggung di awal artikel mengenai Esha Flora yang didirikan Edhi Sandra, lalu apakah itu? Esha Flora adalah lembaga informal yang berusaha mentransfer ilmu pengetahuan dan bioteknologi kepada masyarakat luas.

Lembaga yang berdiri pada 1992 ini hadir untuk membantu kebutuhan keluarga khususnya kultur jaringan (Plant and Tissue Culture). Dengan menerapkan kultur jaringan yang sederhana diharapkan masyarakat luas bisa melakukannya serta memberikan dampak positif bagi pertumbuhan agribisnis di Indonesia sehingga mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan di tempat tinggal masing-masing.

Dengan didirikannya Esha Flora, Edhi berharap masyarakat yang tidak mempunyai laboratorium tanaman bisa terus berkarya. "Kita maklum tidak semua pihak mempunyai lab. Tidak bisa punya lab, bisa numpang ke kita," jelasnya. "Esha Flora bukan milik pribadi, tetapi bersama."

Menerapkan Kultur Jaringan Murah

Kultur jaringan dipandang sebagai teknik tanam yang mahal, canggih, dan hanya dapat dilakukan di laboratorium dengan peralatan yang serba lengkap. Persepsi lainnya, masyarakat Indonesia kebanyakan memandang teknik kultur jaringan adalah sesuatu yang asing, sulit dilakukan. Selain itu juga ada pandangan teknik kultur jaringan adalah sesuatu yang menuntut ilmu yang tinggi, hanya sarjana kultur jaringan saja yang dapat melakukan kultur jaringan.

Namun, sebenarnya tidak sesulit itu. Kultur jaringan bisa diterapkan dalam skala rumah tangga atau di laboratorium sederhana di sekolah-sekolah pedesaan.

"Beberapa peserta (Esha Flora) datang dari litbang, perguruan tinggi, staf kedinasan. Dari mereka ada tanggapan kultur jaringan itu susah, mahal, sehingga tidak masuk dalam perencanaan. Namun ketika ke Esha Flora, 'oh cuma begini aja Pak Edhi?'. Bayangkan dari kapasitas 10 ribu biayanya cuma 80 juta (rupiah). Mereka bayangkannya ratusan juta bahkan miliar," kata Edhi. "Tidak susah. Harus kerja sama. Berikan tugas (kultur jaringan) ke kita."

Untuk mengetahui lebih lengkap dan lanjut teknik kultur jaringan yang diterapkan di Esha Flora, Kawan GNFI bisa kepo di laman Facebook Esha Flora Plant Tissue Culture.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini