Sejarah Hari Ini (24 Desember 1899) - Gereja Batak Karo Protestan Pertama di Buluh Awar

Sejarah Hari Ini (24 Desember 1899) - Gereja Batak Karo Protestan Pertama di Buluh Awar
info gambar utama

Suku Karo adalah suku bangsa di Sumatra Utara yang mendiami dataran tinggi Tanah Karo meliputi wilayah Kabupaten Karo, Deli Serdang, Langkat, Binjai, dan beberapa wilayah Aceh.

Kerap kali dipanggil "Batak Karo", meskipun banyak dari mereka menentang penyematan itu karena keduanya merupakan suku yang berbeda, baik dalam budaya dan bahasa.

Mayoritas penduduk Karo memeluk agama Kristen sekitar 70 persen di mana mayoritas Protestan 90 persen, 10 persen Katolik, dan sisanya Islam dan kepercayaan lama yang disebut Pemena.

Penyebaran Protestan pada orang-orang karo terjadi pada abad ke-19.

Saat itu antara tahun 1890-1906, gereja Protestan di dataran tinggi Karo hanya dua yakni di Buluh Awar dan Tanjung Beringin.

Buluh Awar sendiri disebut menjadi desa yang pertama tempat berdirinya Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) yang dibangun seorang pendeta yang bernama H. C. Kruyt .

Di Buluh Awar yang kini termasuk dalam salah satu desa di Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, GBKP dibangun secara swadaya oleh masyarakat setempat dengan tujuan menambah kenyamanan dalam beribadah dan penyebaran Injil.

Peresmian atau penahbisan gereja pertama di dataran tinggi Karo dilakukan pada 24 Desember 1899.

Saat itu ritual gerjawi berupa kebaktian digelar dengan dipimpin Pendeta Meint Joustra.

Mengutip penelitian Ray Brema Ginting dengan judul Kristen di Dataran Tinggi Karo Tahun 1890-1906, anggota jemaat saat itu berjumlah 56 orang yang 25 orang di antaranya sudah bersedia dibaptis.

Pada saat yang sama di dalam suasana perayaan Natal, diadakan pula kebaktian hari raya dengan bahasa Karo untuk pertama kalinya di gereja tersebut.

Selain berpredikat sebagai gereja pertama untuk suku Karo, GBKP di Buluh Awar disebut-sebut merupakan salah satu gereja pertama yang dibangun di wilayah Sumatera Utara.

Gereja Batak Karo Protestan sekitar tahun 2018.
info gambar

Kini Buluh Awar berkat gereja tuanya dikenal sebagai desa destinasi wisata rohani khususnya untuk umat Protestan.

Perjalanan ke lokasi Desa Buluh Awar dapat ditempuh dengan perjalanan berkelok dan mendaki kira-kira 10 km dari jalan lintas Medan-Berastagi. Dari Medan menuju ke lokasi ini sekitar kurang lebih 2 jam.

Selama perjalanan menuju lokasi ini, Kawan GNFI akan disuguhkan dengan pemandangan hutan yang merupakan Taman Keragaman Hayati Kabupaten Deli Serdang.

GBKP Buluh Awar kini sudah menjadi museum yang memiliki koleksi sejumlah foto dan biografi singkat tentang pendeta yang pernah mengabdi dan foto beberapa tokoh adat setempat.

---

Referensi: Disporabudpar.deliserdangkab.go.id | Gbkp.or.id | Ray Brema Ginting, "Kristen di Dataran Tinggi Karo Tahun 1890-1906" | Benny Hutahayan, "Peran Kepemimpinan Spiritual dan Media Sosial pada Rohani Pemuda di Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) Cililitan"

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini