Bali Bergiat, Hasilkan Produk Cokelat dari Kakao Jembrana

Bali Bergiat, Hasilkan Produk Cokelat dari Kakao Jembrana
info gambar utama

Kabar baik dari Bali yang juga sedang dilanda pandemi. Kendati demikian, terdapat kabar baik yang datang dari Kadewatan, Gianyar, Bali. Mason Chocolate, tetap membeli biji kakao terbaik dari petani, meskipun pandemi. Hal itu merupakan sebuah komitmen yang tidak mudah. Sebagai penyedia wisata alam Bali sejak 30 tahun lalu, Mason Adventures setelah sukses dengan Mason Elephant Park & Lodge rupanya memiliki misi lain.

“Pihak manajemen ingin memberikan sesuatu terhadap petani Bali,” kata Ida Ayu Pratiwisari Pidada alias Chef Tiwi, sosok di balik Mason Chocolate.

“Tetapi, kami ingin merambah pasar ekspor dengan brand Bali,” tambahnya.

Produk ini sangat dikenal di dunia Barat dan Jepang. Sementara Indonesia sendiri juga menjadi salah satu penghasil kakao andalan di dunia. Mengapa tidak membuat cokelat Indonesia, dengan kakao Indonesia?

Berbagai Cokelat Produksi Mason
info gambar

“Kami hanya menerima biji terfermentasi, dan dengan standar kualitas yang tinggi. Rupanya, sikap tidak main-main ini terlihat ketika kami melihat pabriknya. Semua peralatan berbahan stainless steel, standar operasi makanan yang sangat higienis, dari mesin roasting, winnowing, conching sampai pencetakan, semua terlihat kinclong kelas satu. Luar biasa! Padahal, produknya sampai tahun 2020 hanya ada di Bali," tutur Chef Tiwi

Lebih lanjut, Tiwi menjelaskan ingin memperkuat dapur dahulu, sebelum merambah keluar Bali. Ketika ditanya mengenai tantangan terbesar dalam mengembangkan Mason Chocolate, Tiwi menjawab bahwa biji kakao terfermentasi 100% dari Indonesia, dan itu menjadi kekuatan sekaligus tantangan.

Kekuatannya ialah karena rasa yang unik dan belum banyak dikenal di dunia. Banyak cokelat coinnosseur kelas dunia heran, bahkan mengira bijinya dari Madagaskar. Tantangannya ialah karena memperoleh kakao terfermentasi membutuhkan ketekunan dan keuletan dari pihak petani.

Siapa yang pantang menyerah dan selalu berusaha memperbaiki setiap celah demi mendapatkan biji kakao sempurna, dia yang akan menang. Maka, terpilihlah kakao Jembrana.

Dengan mengutamakan keselarasan alam dan budaya Bali, membuat kakao Jembrana terus menanjak pamornya. Bahkan, tembus sebagai salah satu sampel terbaik di kompetisi Salon du Chocolat Perancis tahun 2017.

“Bali tidak boleh 100% tergantung pada kedatangan wisatawan, tetapi harus punya industri sendiri yang menggunakan brand Bali untuk kemudian diekspor ke seluruh dunia,” tegas Chef Tiwi.

Meskipun dalam kondisi pandemi, jalur inilah yang paling tepat untuk memperkuat keandalan ekonomi Pulau Dewata di masa depan. Semangat Bali, siapkan cokelat!*

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini