Sejarah Hari Ini (26 Januari 1983) - Maestro Sepak Bola Socrates Beraksi di Senayan

Sejarah Hari Ini (26 Januari 1983) - Maestro Sepak Bola Socrates Beraksi di Senayan
info gambar utama

Klub papan atas Liga Brasil, Corinthians, melakoni laga eksibisi di Jakarta pada awal tahun 1983.

Kala itu juara Campeonato Paulista musim 1982 itu sedang tenar-tenarnya karena diperkuat bintang timnas Brasil, Socrates.

Socrates memang menjadi daya tarik tersendiri bagi pecinta sepak bola internasional.

Ia adalah pesepak bola bergelar dokter dan juga aktivis yang vokal menyuarakan demokrasi penuh di Brasil.

Namun, rencana mendatangkan Socrates ke Indonesia tidak semulus bayangan.

Ditakutkan kehadiran dirinya sanggup memancing publik melakukan perlawanan terhadap pemerintah Orde Baru yang dipimpin Presiden Suharto.

Setelah ada lobi panjang dari PSSI, Socrates akhirnya bisa diterbangkan ke Indonesia dengan syarat ia tak bicara banyak soal politik.

Laga eksibisi Corinthians pun digelar di Stadion Utama Senayan (sekarang Gelora Utama Bung Karno), Jakarta, pada 26 Januari 1983.

Tim asal Jakarta yang menjadi favorit juara kompetisi Galatama, Tunas Inti, dipilih menjadi lawannya.

Sebelumnya klub berjulukan Timão (Klub Besar) ini sudah menjajal perlawanan klub sepak bola di Jepang dan Hong Kong.

Dikutip GNFI dari artikel harian Kompas berjudul "Socrates Lumayan Menawan dan Menang", meskipun didera keletihan karena mesti tur di dua negara lain, Corinthians-nya Socrates tetap mampu bermain penuh semangat.

Socrates yang dikenal suka pamer aksi beberapa kali memperagakan teknik berkualitas, mulai dari salto, gocekan tipuan, hingga shooting jarak jauh. Bahkan pada menit ke-16, ia mencetak gol kedua bagi Corinthians.

Sayangnya Socrates terbilang kurang aksi. Kompas mencatat Ia melakukan sebanyak 28 kali sentuhan dan hanya 7 kali menggiring bola sembari melewati hadangan lawan.

Tunas Inti bukan tanpa perlawanan. Menjelang turun minum, Rully Nere mencetak gol ke gawang Corinthians ketika mereka sudah tertinggal 0-3.

Bermain di hadapan sekitar 40 ribu penonton membuat Tunas Inti dituntut mampu memberikan perlawanan.

Pada babak kedua permainan Tunas Inti pun membaik. Mereka mampu sebiji gol lagi lewat pemain belakang Riono Asnan.

Meskipun akhirnya kalah 2-3, Tunas Inti dianggap cukup hebat karena mampu mengimbangi penampilan Corinthians yang tampil sangat atraktif.

---

Referensi: Kompas

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini