Kisah Bandara Frans Kaisiepo Papua yang Punya Penerbangan Langsung ke Hawaii

Kisah Bandara Frans Kaisiepo Papua yang Punya Penerbangan Langsung ke Hawaii
info gambar utama

Kalau menyebut sosok pahlawan bernama Frans Kaisiepo, maka Papua akan selalu disandingkan dengan namanya. Frans Kaisiepo sendiri adalah pahlawan nasional kelahiran Wardo, Biak Barat. Dia pernah menjadi gubernur Papua pada periode 1964-1973. Dan merupakan wakil Papua pada Konferensi 1946 saat pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS).

Frans Kaisiepo adalah sosok yang pertama kali mengusulkan penggunaan nama ‘Irian’ sebagai pengganti ‘Papua’. Untuk diketahui nama ‘Irian’ merupakan akronim dari ‘’Ikut Republik Indonesia Anti Nederland’’. Namun pada era Presiden Aburrahman Wahin, tempat surga tersembunyi Indonesia itu kembali ke nama semula, yaitu Papua.

Baca selengkapnya: Frans Kaisiepo, Pemersatu Bumi Cendrawasih ke Pangkuan NKRI

Sosoknya memang meninggalkan banyak kisah perjuangan bagi Papua khususnya. Sehingga tak heran namanya akan terus diabadikan sebagai nama salah satu bandara berstatus internasional yang terletak di Biak, Kabupaten Biak Numfor, Papua.

Di balik kisah nama Bandara Frans Kaisiepo, ternyata bandara ini memiliki kisah yang menarik untuk dibahas.

Awalnya Didirikan oleh Jepang

Bandara Perang Dunia II di Papua
info gambar

Tercatat pada tahun 1943 adalah awal berdirinya bandara ini. Kala itu bandara ini diirikan Jepang untuk memenuhi ambisi mengobarkan perang di Pasifik pada Perang Dunia II. Posisi Pulau Biak yang dekat dengan Samudra Pasifik membuat pulau karang itu menjadi salah satu basis penting oleh Jepang.

Jepang tak hanya membangun lapangan terbang, tapi juga membangun sejumlah fasilitas militer lainnya. Meski begitu pembangunan bandara ini sempat menyalahi aturan adat di Papua. Dibangun di tepi Pantai Ambroben, lapangan terbang ini masuk dalam wilayah adat Swapodibo.

Kala itu Jepang tidak meminta izin kepada enam marga pemilih tanah ulayat atau tanah hak adat Swapodibo, yaitu Rumaropen, Wakum, Ronsumre, Rumbiak, Simopieref, dan Yarangga.

Tak berselang lama, ternyata pangkalan udara militer Jepang ini harus jatuh kepada pasukan Sekutu. Di bawah pimpinan Letnan Jenderal L. Eichelburger pada penyerangan 15-27 Juni 1944, Sekutu berhasil mengusir Jepang dari Biak.

Dan sejak saat itu nama lapangan terbang ini dikenal sebagai Bandara Ambroben, yang masih menjadi salah satu pangkalan terbang terpenting untuk memenangkan perang di Pasifik. Dan selama masa perang itu, Bandara Ambroben juga menjadi Pangkalan Royal Australian Air Force.

Pihak Sekutu pun akhirnya membangun lapangan terbang baru untuk memperluas pangkalan udara. Lagi-lagi mengambil wilayah adat milik Sorido dan Burokum. Masyarakat adat yang berada di Kampung Kinmom, Bariasba, dan Sasuf digusur oleh tentara Sekutu.

Perang Berakhir, Namanya Berubah Menjadi Bandara Mokmer

Ketika perang berakhir dan seiring dengan kedatangan Belanda, akhirnya semua fasilitas militer di Bandara Ambroben diambil oleh Belanda, tepatnya pada tahun 1947. Sejak digunakan oleh Belanda, lapangan terbang ini lebih dikenal sebagai Bandara Mokmer. Bukan sebagai basis militer, tapi Bandara Mokmer sudah mulai difungsikan sebagai keperluan penerbangan komersial oleh Belanda.

Tepatnya pada tahun 1952, Bureu Luchtvaart Irian Barat atau Kantor Urusan Penerbangan yang dibuat oleh Belanda mulai menyiapkan fasilitas komersil. Bahkan Belanda kala itu menjadikan Biak sebagai rute penerbangan internasional keliling dunia. Untuk mendukung Biak sebagai bagian dari rute penerbangan internasional, Belanda juga membangun hotel yang dinamai RIF Hotel.

Hingga tahun 1959, Bandara Mokmer sudah membuka rute penerbangan Biak-Tokyo-Amsterdam. Namun, hal itu tidak berlangsung lama karena pada tahun 1962, penguasaan Bandara Mokmer diserahkan ke United Nations Temporary Executive Administration (UNTEA), badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengurus Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) Irian Barat.

Baru setelah penyerahan kedaulatan Irian Barat ke Indonesia pada 1 Mei 1953, UNTEA menyerahkan penguasaan Bandara Mokmer kepada Indonesia pada tahun 1969.

Berubah Nama dan Punya Rute Penerbangan Langsung ke Hawaii

Bandara Frans Kaisiepo Punya Rute Langsung Hawaii
info gambar

Sebenarnya baru pada tahun 1984, Bandara Mokmer berubah nama menjadi Bandara Frans Kaisiepo. Meski begitu setelah penguasaan Bandara diberikan kepada Indonesia oleh UNTEA, Bandara Frans Kaisiepo tetap menjadi bandara yang sangat strategis untuk penerbangan internasional.

Itu karena posisinya yang berada dekat Samudra Pasifik dan berkolasi di ekuator. Terhitung sejak tahun 1996 maskapai Garuda Indonesia sudah memasukkan Biak dalam penerbangan internasional ke Amerika Serikat. Pada periode 1996-1998, Garuda Indonesia membuat rute Jakarta-Denpasar-Biak-Honolulu-Los Angeles. Itu artinya perjalanan dari Biak langsung bisa mendarat ke Honolulu-Hawaii.

Selain itu, Bandara Frans Kaisiepo juga pernah punya rute penerbangan internasional lainnya yaitu Jakarta-Denpasar-Biak-Seattle.

Dengan luas bandara sekitar 206 hektar, memiliki landasan pacu 3.570 meter, dengan lebar landasan 45 meter, pesawat-pesawat besar bisa mendarat di Bandara Frans Kaisiepo. Saat ada rute langsung ke Hawaii, pesawat Garuda Indonesia berbadan lebar MD-11 bisa mendarat di sini. Bahkan pesawat besar Boeing 747 seri 400 juga masih bisa mendarat di sini.

Namun sayang, hantaman krisis ekonomi pada tahun 1998 membuat rute internasional yang melintasi Samudra Pasifik ini terpaksa harus terhenti. Hingga kini belum ada lagi rute penerbangan internasional dari Bandara Frans Kaisiepo. Padahal bandara ini masih berstatus bandara internasional dan termasuk bandara yang sangat kokoh.

Tak heran jika dulu Jepang memilih Biak sebagai basis militer udaranya karena ternyata Bandara Frans Kaisiepo dibangun di atas litologi batu gamping atau limestones atau batu karang yang sangat keras dan kokoh.

--

Sumber: Papua.go.id | FransKaisiepo-Airport.co.id | Skyscanner.co.id | CNNIndonesia.com | Antaranews.com | AirSpace-Review.com | Kebudayaan.Kemdikbud.go.id | Republika.co.id

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini