Menggali Sejarah Perumusan Naskah Proklamasi di Rumah Laksamana Maeda

Menggali Sejarah Perumusan Naskah Proklamasi di Rumah Laksamana Maeda
info gambar utama

Penulis: Rifdah Khalisha

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang terjadi pada 17 Agustus 1945 tentu telah melalui proses yang begitu sulit. Peristiwa ini tak terlepas pula dari jasa sosok di baliknya, termasuk Laksamana Tadashi Maeda, seorang Kepala Kantor Perhubungan Angkatan Laut dan Angkatan Darat Jepang. Ia mengizinkan para tokoh nasionalis untuk menggunakan rumahnya sebagai tempat persiapan kemerdekaan Indonesia.

Bangunan yang berdiri sekitar tahun 1920-an ini memiliki peran penting. Di rumah Laksamana Maeda, tersimpan sejarah kisah perjuangan meraih kemerdekaan. Bukan tanpa alasan memilihnya sebagai tempat perumusan naskah proklamasi, ini karena rumah Laksamana Maeda menjadi wilayah Angkatan Laut Jepang, sehingga Kempetai (Satuan Polisi Militer) Jepang tak bisa sembarangan memasukinya.

Rumah Laksamana Maeda terletak di Meiji Dori No. 1 yang kini berubah menjadi Jalan Imam Bonjol Nomor 1, Jakarta Pusat. Malam sebelum pembacaan proklamasi, Soekarno, Hatta, dan Soebardjo duduk di ruang makan selama dua jam untuk merumuskan naskah proklamasi sebanyak dua alinea. Lalu, Sayuti Melik didampingi BM Diah mengetik naskah tersebut.

Museum Perumusan Naskah Proklamasi © Indonesiakaya.com
info gambar

Pada tahun 1984, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Dr. Nugroho Notosusanto menginstruksikan Direktorat Permuseuman agar merealisasikan gedung bersejarah ini menjadi museum peninggalan sejarah. Kemudian, Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 24 November 1992 menetapkan alih fungsi bangunan ini menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi (Munasprok).

Saat pertama kali Kawan memasuki gedung ini, benar-benar akan terasa kesan tua. Munasprok menyajikan kisah seputar detik-detik proklamasi kemerdekaan. Bangunan ini terdiri dari dua lantai, lantai pertama sebagai ruang bersejarah dan lantai kedua sebagai ruang pameran.

Bangunan seluas 1.138 meter persegi ini memiliki beberapa ruang pameran, di antaranya ada ruang pertemuan, ruang perumusan, ruang pengesahan, serta ruang pengetikan naskah proklamasi. Saat Kawan memasuki museum, Kawan akan disuguhi ruangan utama nan besar. Dahulu, ini menjadi ruang diplomasi antara Indonesia dengan Belanda pasca kemerdekaan RI.

Di sisi kiri lantai pertama, ada ruangan pertemuan, tempat Laksamana Maeda menerima Ir. Soekarno, Drs. Moh Hatta, dan Mr. Ahmad Soebadjo di rumahnya. Laksamana Maeda menerima ketiga tamunya pada tanggal 16 Agustus 1945, setelah mereka kembali dari Rengasdengklok. Di ruangan ini, ada meja bundar dengan empat kursi tanpa diorama.

Ruang pertemuan terhubung dengan ruang perumusan naskah proklamasi, hanya tersekat tembok tanpa pintu. Di ruang perumusan naskah, ada 12 kursi tersusun rapih mengitari meja panjang. Sejarah bangsa mempersiapkan perumusan naskah proklamasi terukir di ruangan ini.

Tepat di ujung meja, Kawan bisa melihat replika sosok Soekarno memegang pulpen dan secarik kertas. Tak hanya Soekarno, Kawan juga bisa melihat Hatta dan Soebadjo. Diorama tersebut merupakan gambaran suasana saat ketiga sosok nasional ini merancang konsep naskah proklamasi.

Naskah proklamasi tulisan tangan Soekarno © Indonesiakaya.com
info gambar

Lalu, ada ruang pengetikan di bawah tangga. Di ruangan kecil ini, Sayuti Melik didampingi BM Diah mengetik naskah proklamasi yang sebelumnya telah ditulis tangan oleh Soekarno. Kawan dapat melihat sebuah meja, kursi, dan mesin ketik lengkap dengan diorama replika Sayuti Melik mengetik dan BM Diah berdiri di sampingnya.

Terakhir, di sisi kanan pintu masuk, Kawan akan menemukan ruang pengesahan dan penandatanganan naskah proklamasi. Di ruangan yang paling besar ini terdapat diorama peristiwa sejarah yang terlihat nyata. Terdapat replikasi Soekarno, Hatta, dan Ahmad Soebardjo sedang menandatangani naskah proklamasi yang telah disetujui.

Saat Kawan menaiki tangga dan tiba di lantai dua, akan terlihat benda bersejarah seputar masa pergerakan. Benda-benda itu tersimpan rapi di dalam etalase, ada pakaian Laksamana Maeda, poster bergambar Soekarno, jam tangan dan kacamata milik Soekarno, serta buku-buku sejarah. Sementara itu, dinding ruangannya berhias kutipan sejarah masa pergerakan sampai detik-detik menjelang proklamasi kemerdekaan.

Buat Kawan yang tertarik menikmati wisata edukasi sejarah seputar perumusan naskah proklamasi, Kawan bisa berkunjung ke museum ini. Jadi, Kawan bisa lebih mengenal sejarah bangsa dan membangkitkan semangat nasionalisme.

Referensi: Munasprok | Indonesia Kaya | Republika | BBC

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini