Sejarah Taman Lalu-lintas Bandung, Tempat Pembelajaran Lalu-lintas Tertua di Indonesia

Sejarah Taman Lalu-lintas Bandung, Tempat Pembelajaran Lalu-lintas Tertua di Indonesia
info gambar utama

Kota Bandung adalah daerah yang sejuk untuk bersantai bagi banyak orang. Kondisi geografisnya bagus untuk segala tanaman sehingga membuat banyak taman cantik berdiri di Ibu Kota Provinsi Jawa Barat ini. Menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS) Pemerintah Kota Bandung tahun 2018, ada 633 taman kota tematik yang bisa dikunjungi.

Namun, di luar taman tematik itu, juga ada taman rekreasi yang difavoritkan sebagai tujuan wisata di Kota Bandung. Taman Lalu-lintas, itulah namanya. Tidak seperti taman publik, taman yang terletak di Jalan Belitung Nomor 1 ini mesti bayar untuk masuk. Hanya saja tak perlu khawatir, karena tarifnya tidak sampai membuat kantong jebol. Dengan tarif yang murah, pengunjung anak-anak bisa mendapatkan manfaat belajar ilmu lalu lintas sekaligus berekreasi dengan ragam transportasi yang tersedia.

Taman Pasupati atau Taman Jomblo di pusat Kota Bandung.
info gambar

Taman Lalu-lintas merupakan salah satu taman rekreasi tertua di Bandung, atau malahan mungkin di Indonesia dan Asia Tenggara. Ada misi mulia mewujudkan taman ini, yaitu agar tidak ada generasi muda menjadi korban di lalu lintas Kota Bandung yang semakin padat akan kendaraan pada 50-an.

Pertama di Asia Tenggara, Dibangun demi Generasi Muda

Taman Lalu-lintas didirikan oleh H. Nazaruddin SH, Kepala Polisi Lalu Lintas dan Ketua Badan Keamanan Lalu Lintas (BKLL) cabang Bandung era 50-an. Idenya terinspirasi dari taman bertemakan sama yang sudah banyak berdiri di kota-kota Eropa dan Amerika Utara.

Potret Ajun Komisaris Polisi Nazaruddin, sosok penggagas Taman Lalu-lintas BandungSumber: Star Weekly, 1 Maret 1958
info gambar

Her Suganda dalam bukunya yang berjudul Jendela Bandung menuliskan Taman Lalu-lintas awalnya adalah lahan terbuka bernama Insulindepark yang dijadikan tempat baris-berbaris prajurit KNIL Belanda. Seusai mereka mendapatkan lahan baru untuk berlatih yang kini berdiri Stadion Siliwangi, Insulindepark pun ditinggalkan.

Lahan yang kosong akhirnya diubah menjadi taman bernama Taman Nusantara. Dinamakan Nusantara karena letaknya bersinggungan dengan jalan yang memakai nama-nama daerah di Indonesia.

Sebuah upacara digelar kesatuan wanita KNIL di Insulindepark pada 1958.Sumber: Nationaal Archief
info gambar

Pembangunan Taman Lalu-lintas di Bandung dipicu kurangnya edukasi ilmu perlalulintasan pada anak-anak di Bandung zaman itu. Butanya anak-anak – bahkan yang mengenyam bangku sekolah – tentang ilmu lalu lintas menimbulkan sejumlah tragedi di jalan-jalan kota.

Algemeen Indisch Dagblad: De Preangerbode pada September 1955 mengabarkan, dalam enam bulan pertama tahun tersebut anak-anak sekolah di Kota Bandung terlibat kecelakaan lalu lintas. Hitungannya ada 6 korban jiwa, 31 luka serius, dan 119 menderita luka ringan.

"Jika rencana berjalan lancar, hal ini sangat penting bagi kota kita untuk mewujudkannya. Bandung akan menjadi kota pertama di Asia Tenggara yang memiliki apa yang disebut 'Taman Lalu-lintas', sebuah taman lalu-lintas di mana kaum muda akan diberi kesempatan untuk mengenal peraturan lalu lintas dengan cara yang menyenangkan," tulis De Preangerbode.

Area Taman Nusantara yang memiliki luas 45.000 m2 siap digarap menjadi taman yang baru pada 1955. Agar proses pembangunan bisa cepat, pihak penyelenggara membuka pintu bagi mereka yang ingin menyumbangkan dana dengan menyetor uang ke Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang ditujukan pada BKLL.

Dilansir pula dari artikel berjudul "Verkeers-tuin in Bandung (Taman Lalu-lintas Bandung)" di surat kabar De Nieuwsgier tahun 1956, Taman Lalu-lintas direncanakan diisi beragam jenis transportasi darat.

"Taman lalu-lintas ini akan menjadi yang pertama di Indonesia, taman akan berisi miniatur alat transportasi seperti sedan, jeep, truk, bus dan kereta api yang dapat dikendalikan oleh anak-anak. Mereka bisa bermain di sana sesuka hati, sembari melatih dan mendidik diri sendiri untuk menjadi pengguna jalan yang baik," lapor De Nieuwsgier.

Taman dilengkapi jalan-jalan beraspal sehingga membentuk sebuah miniatur kota. Selain jalanan beraspal, juga dipasang rel beserta rangkaian kereta api yang disumbang oleh jawatan KA di Bandung. Menurut Inspektur R.K. Hidajat dari Humas Polres Jakarta Raya, total anggaran pembangunan taman ini mencapai Rp550 ribu.

Berbagai Bantuan Sukseskan Pembangunan

Acara peletakan batu pertama Taman Lalu-lintas dilakukan bersamaan dengan ulang tahun ketiga BKLL pada 23 Maret 1956. Sejumlah orang penting pemerintahan dan jawatan setempat turut hadir, termasuk Gubernur Jawa Barat, Sanusi Hardjadinata.

Bukanya taman rekreasi Taman Lalu-lintas menjadi ladang peruntungan bagi para pencari kerja. Sumber: Algemeen Indisch Dagblad: De Preangerbode, 10 Oktober 1957
info gambar

Meskipun sudah beroperasi pada 1957, Taman Lalu-lintas baru diresmikan pemerintah setahun berikutnya. Pada 1 Maret 1958, peresmian dilakukan Nazaruddin disusul pengguntingan pita oleh istri Gubernur Jawa Barat Ipik Gandamana, Nyi Raden Endeh Soekarsih Natanegara.

Barisan Keamanan Lalu Lintas (BKLL) berfoto di depan pintu gerbang Taman Lalu-lintas seusai acara peresmian.Sumber: Tamanlalulintasbandung.com
info gambar

Menurut Star Weekly edisi 1 Maret 1958, karena ada bantuan datang dari berbagai pihak total dana yang dikeluarkan membangun Taman Lalu-lintas mencapai Rp800 ribu. Salah satu yang ikut menyumbang ialah Kementerian Pendidikan Pengadjaran dan Kebudajaan (PPK, sekarang Kementerian Pendidikan dan kebudayaan/Kemdikbud ) yang menyumbang Rp100 ribu.

Sumbangan tidak hanya berbentuk uang. Sebelumnya turut disinggung, jawatan KA turut memberikan uluran tangan. Ada dua lokomotif yang disumbangkan oleh mereka di mana pembuatannya dilakukan di bengkel KA Yogyakarta pimpinan Ir. Soesilo.

Skuter dan jeep ukuran anak-anak tersedia di Taman Lalu-lintas.Sumber: Star Weekly, 1 Maret 1958
info gambar

Sejalan dengan jawatan KA, perkumpulan penerbangan nasional yang berbasis di Bandung, Aeroclub Aviantara, juga ikut menyumbang berupa airport mini. Begitu pula jawatan Pos Telegraf dan Telepon (PTT) yang menyediakan bangunan kantor pos dan telepon dengan ukuran yang sama.

Tahun demi tahun, masa demi masa, Taman Lalu-lintas terus bertransformasi menambah wahana di sana-sini. Namanya turut berganti, dengan menambahkan nama putri Jenderal A.H. Nasution, "Ade Irma Suryani Nasution" di belakang “Taman Lalu-lintas”. Pemilihan nama itu merupakan sebuah bentuk penghormatan untuk Ade Irma yang menjadi korban G30S pada 1965.

Rangkaian kereta dari jawatan Kereta Api Indonesia yang beroperasi di Taman Lalu-lintas Bandung pada 1998Sumber: Tamanlalulintasbandung.com
info gambar

Taman Lalu-lintas Ade Irma Suryani Nasution masih eksis hingga abad ke-21. Untuk mayoritas warga yang lahir dan besar di Kota Bandung, taman ini menjadi salah satu fragmen kenangan semasa kecil mereka. Salah satu yang merasakannya ialah Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil.

''Saya anak Bandung yang dekat dengan Taman Lalu-lintas. Saya menduga tidak ada orang dewasa di Bandung yang tidak pernah ke taman lalu-lintas," ujar Emil pada 2017 ketika menjabat Wali Kota Bandung, dikutip dari Ayo Bandung.

Wisatawan lokal Taman Lalu-lintas pada 2016.
info gambar

Seperti yang disebutkan sebelumnya, tiket masuknya murah. Menurut Travels Promo, tiket masuknya dibanderol Rp6.000 untuk hari biasa dan Rp7000 saat akhir pekan.

---

Referensi: De Preangerbode | Star Weekly | Tamanlalulintasbandung.com | AyoBandung.com |

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini