Sejarah Hari Ini (19 Maret 1995) - Nike Ardila, Mojang Bandung Kaya Talenta

Sejarah Hari Ini (19 Maret 1995) - Nike Ardila, Mojang Bandung Kaya Talenta
info gambar utama

Nike Ardilla adalah penyanyi pop rock Indonesia yang lahir di Bandung, Jawa Barat, pada 27 Desember 1975. Ia lahir dengan nama Raden Rara Nike Ratnadilla Kusnadi dari pasangan R. Eddy Kusnadi dan Ining Nigsihrat.

Bakat Nike di dunia panggung sudah terlihat sejak kecil dengan menjuarai berbagai kontes tari hingga menyanyi. Namun di dunia tarik suaralah nama Nike mulai melejit. Pada 1986, ketika usianya belum genap 17 tahun, ia masuk ke dapur rekaman membawakan single berjudul "Lupa Diri" dan dimuat dalam album kompilasi Bandung Rock Power yang rilis 1987.

Memasuki awal tahun 1990-an, nama Nike kian menggebrak lewat album "Bintang Kehidupan". Album lagu yang direkam pada 1990 itu laris di pasar musik Indonesia dan Asia Tenggara dengan penjualan sebanyak 6 juta kopi.

Selain meraup untung dari penjualan, album "Bintang Kehidupan" juga mencatat prestasi penghargaan dari BASF Awards (sekarang Anugerah Musik Indonesia) 1990 sebagai The Best Selling Rock Album. Pada ajang Asian Song Festival 1991 di Shanghai China, Nike Ardilla juga berhasil meraih The Winner Of New Singers Contest dengan membawakan lagu dari judul album lagu tersebut tapi dengan versi Inggris, Star Of Life.

Diberkahi kecantikan membuat Nike juga mendapatkan tawaran bermain film. Beberapa judul film dibintangi olehnya, sebut saja salah satunya film Si Kabayan dan Anak Jin. Di film tersebut Nike memerankan Nyi Iteung, gadis Sunda gebetan Kabayan yang diperankan Didi Petet. Dari layar lebar ke layar kaca. Nike tampil pula di sejumlah sinetron yang mulai muncul di tv-tv swasta Indonesia yang sedang bertumbuh pada 90-an.

Sayangnya kisah manis mojang Bandung itu di dunia teramat singkat. Pada 19 Maret 1995, Nike meninggal dunia dalam kecelakaan tunggal saat mengendarai mobilnya di Jalan R.E. Martadinata, Bandung. Jasadnya dikebumikan di Ciamis, sekitar 120 kilometer dari Bandung kota kelahirannya.

Nama Nike tidak meredup meskipun ia sudah kembali ke pangkuan Ilahi. Fenomena kepopuleran Nike pasca kematiannya membuat akademisi Universitas Nasional Australia, George Quinn, menuliskan sebuah jurnal dengan judul Nike Ardilla: Instant Pop Saint. George menilai sang diva pop rock laksana "wali" karena setiap tanggal kelahiran dan kematiannya, makamnya selalu didatangi peziarah dan seringnya gelaran acara untuk mengenang kiprahnya di dunia seni.

---

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini