Sejarah 5 Kuliner Legendaris Betawi yang Masih Eksis dan Patut Dicoba

Sejarah 5 Kuliner Legendaris Betawi yang Masih Eksis dan Patut Dicoba
info gambar utama

Secara sejarah, kuliner Betawi memang telah melalui proses panjang akulturasi banyak budaya. Pasalnya kawasan Batavia yang dikenal sebagai pusat kebudayaan pada masa lampau merupakan pusat perekonomian di Nusantara.

Budayawan Betawi Yahya Andi Saputra menuturkan, Batavia dengan pelabuhan Sunda Kelapa-nya saat itu jadi pusat perdagangan. Banyak pedagang yang berdatangan ke Batavia dari banyak daerah di Nusantara. Mereka yang datang pun berasal dari berbagai suku.

Mereka bisa berasal dari suku Sunda, Jawa, Bugis, Melayu dan masih banyak lagi. Hal ini juga termasuk mereka yang datang dari Asia hingga Eropa. Akulturasi budaya dari suku bangsa asing itu memengaruhi penggunaan bahan tertentu dan teknik memasak.

Sayur Babanci, Kuliner Khas Betawi yang Langka Namun Kaya Rasa

Hal ini membuat, Jakarta, kota yang menjadi ibu kota negara ini memiliki kekayaan masakan/kuliner yang begitu mengesankan. Terdapat banyak sekali kuliner khas Betawi yang memiliki cita rasa berkelas.

Tapi sebagai kota metropolitan, Jakarta selalu memperbarui referensi menu yang masuk akibat cepatnya informasi. Hal ini membuat ada beberapa kuliner tradisional yang sulit ditemui bahkan disebut telah punah.

Namun, masih banyak makanan kuliner khas Betawi yang masih bertahan tapi kurang disoroti masyarakat. Berikut beberapa kuliner kebanggaan masyarakat Betawi.

1. Kerak Telor

Kerak telor merupakan makanan khas Betawi yang sering juga disebut sebagai omelete-nya orang Betawi. Kerak telor biasanya dijajakan oleh pedagang yang ada di pinggir jalan saat ada perayaan di Jakarta.

Sejatinya, kerak telor sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Pasalnya, makanan ini diciptakan secara tak sengaja oleh sekawanan orang Betawi yang tinggal di Menteng, Jakarta Pusat.

Kala itu, masyarakat Betawi mencoba membuat beragam makanan dengan mencampurkan beberapa bahan, salah satunya adalah buah kelapa. Ternyata, percobaan tersebut justru menghasilkan kudapan lezat, yakni kerak telor.

Selain itu, makanan ini juga lahir karena adanya ketersediaan kelapa yang begitu melimpah di Jakarta pada masa lalu. Di masa lampau kawasan Menteng merupakan salah satu daerah dengan ketersediaan kelapa yang cukup banyak.

Sehingga kalangan masyarakat di sana dengan sengaja memanfaatkan kelapa sebagai bahan campuran untuk membuat makanan, salah satunya adalah kerak telor.

Pada 1970-an, kerak telor mulai dijajakan di kawasan Tugu Monas. Tak disangka, makanan itu ternyata menarik perhatian banyak orang. Cita rasanya yang legit dan lezat membuatnya wisatawan berdatangan ke Kota Jakarta. Bahkan, kudapan tersebut telah menjadi makanan untuk kaum elite.

Kerak telor merupakan makanan yang terbuat dari beras ketan dan telur yang kemudian disajikan bersama serundeng juga topping lainnya. Kerak telor umumnya dimasak menggunakan wajan dan dinikmati saat masih hangat agar rasa gurihnya semakin menggugah selera.

2. Asinan Betawi

Asinan adalah sejenis makanan yang dibuat dengan cara peng-acar-an (pengasinan dengan garam atau pengasaman dengan cuka). Bahan yang diacarkan biasanya berbagai jenis sayuran dan buah-buahan.

Istilah asin dalam nama asinan Betawi juga mengacu pada proses pengolahan sayuran dalam larutan air, garam, dan cuka. Asinan khas Betawi aslinya hanya menggunakan bahan berupa sayur mayur, bukan buah seperti asinan Bogor.

Racikan pada asinan ini merupakan kulturasi budaya lokal Betawi dengan China. Isinya sangat komplet ada timun, kol, wortel, sawi asin, tauge, lobak, timun, lokio, dan potongan tahu segar.

Diberi kuah kacang plus sedikit kucuran gula merah. Sebagai pelengkap kerupuk mi kuning plus kacang goreng yang menggoda selera.

Kudapan basah ini masih dijajakan secara keliling menggunakan gerobak dorong antara siang hingga sore hari di beberapa wilayah komunitas Betawi dan sekitarnya, hanya saja sayuran yang digunakan tidak selengkap resep ‘pakem’nya.

Selain itu jenis makanan ini selalu hadir pada perayaan ulang tahun Jakarta. Rasanya gurih, segar dan pedas. Isinya terdiri dari aneka sayuran segar yang menyehatkan. Kuah sambal kacang, dan potongan kerupuk mi kuning membuatnya makin asyik disantap.

3. Gabus Pucung

Gabus pucung atau gabung pucung adalah masakan khas Betawi yang diolah dari bahan baku ikan gabus dengan kuah warna hitam. Nama gabus pucung diambil dari dua bahan utama pembuatnya, ikan gabus dan pucung.

Gabus yang berasal dari ikan gabus dan pucung yang merupakan buah kluwak banyak digemari oleh masyarakat Betawi. Pada zaman dahulu, Jakarta memang didominasi oleh rawa-rawa, empang dan sungai yang menjadi tempat hidup dari ikan gabus.

Menurut sejarahnya, Gabus Pucung berawal dari ketidakmampuan masyarakat Betawi di zaman kolonial Belanda untuk mengkonsumsi ikan mas, mujair atau bandeng yang dirasa mahal bagi rakyat jelata. Untuk itu, dimasaklah ikan gabus yang berkembang biak secara liar hingga menjadi masakan lezat.

Keberadaan rawa di sana, akhirnya dimanfaatkan tumbuhan dan binatang untuk bertahan hidup. Seperti halnya ikan gabus yang hidup subur di sana. Ribuan ekor ikan gabus hidup bebas di rawa itu. Masyarakat Betawi yang melihat potensi pangan, kemudian memanfaatkan situasi ini untuk mengolah ikan gabus menjadi makanan.

Geblek dan Deretan Kudapan Tradisional Nusantara yang Mulai Langka

Layaknya sop, gabus pucung ini memang disajikan dengan kuah dan beberapa sayuran seperti wortel, daun bawang, dan kembang kol. Untuk menciptakan aroma khas, irisan daun bawang pun ditambahkan di atasnya.

Penggunaan pucung atau yang dikenal sebagai kluwek ini menyebabkan kuahnya berwarna kehitaman. Sebagai makanan asli Betawi turun temurun, gabus pucung yang berwarna hitam legam ini perlahan makin 'menghitam' dan menghilang perlahan-lahan.

Tak banyak orang di Jakarta yang tahu tentang makanan yang satu ini karena di tak juga banyak penjualnya. Hanya segelintir kalangan yang mengetahui persis keberadaan dari makanan yang satu ini. Beberapa hanya tahu tanpa pernah mencicipinya.

4. Gado-gado

Gado-gado merupakan makanan khas Betawi yang sudah mendunia, dan hampir dengan mudah ditemui di manapun. Sekilas gado-gado memang mirip dengan hidangan asal luar negeri, yaitu salad.

Selain itu, gado-gado juga sering disamakan dengan lotek atau pecel. Ini karena semua makanan tersebut sama-sama menggunakan sayuran yang dibalur bumbu kacang.

Konon katanya, asal mula nama gado-gado berasal dari kata ‘digado’, yang dalam arti bahasa Betawi-nya adalah dimakan langsung tanpa nasi. Hal ini selaras dengan cara memakan kuliner yang satu ini biasanya dimakan langsung tanpa menggunakan nasi, tapi dengan lontong.

Sebenarnya, tidak asal-usul yang jelas tentang makanan ini. Ada yang mengatakan bahwa gado-gado memang makanan khas Betawi. Namun, juga ada yang bilang bahwa makanan ini merupakan modifikasi dari bentuk pecel dari Jawa yang bercampur dengan budaya Tionghoa.

Gado-gado sendiri sudah populer di kalangan masyarakat Betawi sejak 1950-an dan hingga saat ini masih tetap populer tidak tergerus oleh zaman. Meskipun asal-usul cerita makan belum jelas, tetap saja makanan favorit semua kalangan ini memiliki segudang nutrisi.

Bila sekedar ingin menikmati gado-godo, banyak warung pinggir jalan dan penjaja keliling dengan gerobak yang mudah ditemui di jalan-jalan Kota Jakarta. Semakin modern, gado-gado pun bisa ditemui diberbagai restoran bintang lima.

5. Ketoprak

Kuliner ketoprak terbuat dari aneka bahan-bahan campuran seperti ketupat, bihun rebus, tauge rebus, dan tahu goreng yang disiram dengan saus kacang kental. Kuliner ini biasa dijajakan oleh pedagang kaki lima dengan menggunakan gerobak pada saat malam/pagi hari.

Sebagian orang meyakini ketoprak menjadi salah satu makanan khas Betawi, suku mayoritas warga Jakarta. Namun ada juga yang menyebut makanan ketoprak berasal dari daerah Cirebon.

Pendapat lain mengatakan, ketoprak justru berasal dari Jawa Tengah. Hingga saat ini belum ada bukti yang pasti dari daerah mana ketoprak ini berasal.

Icip Berbagai Kuliner Tradisional Berbahan Dasar Jagung

Ada yang menyebutkan bahwa nama ketoprak merupakan singkatan dari ketupat toge dan digeprak. Selain itu ada yang menyebut nama ketoprak diambil dari bunyi yang dikeluarkan saat piring makanan terjatuh.

Selain namanya yang unik, ketoprak juga memiliki bentuk gerobak seperti model perahu. Tak hanya model gerobaknya yang sama antar penjual, tapi penggunaan dan penyusunan segala perkakas di atas gerobak juga sama.

Salah satu yang pasti ada di gerobak ketoprak adalah panci stainless, kemudian penggorengan di bagian ujung gerobak, kaleng biskuit bekas untuk kerupuk dan cobek kayu.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini