Raja Naga Basuki, Dewa Penyeimbang Alam Semesta Kepercayaan Orang Hindu Bali

Raja Naga Basuki, Dewa Penyeimbang Alam Semesta Kepercayaan Orang Hindu Bali
info gambar utama

Naga adalah sebutan umum untuk makhluk mitologi yang berwujud reptil berukuran raksasa. Makhluk ini muncul dalam berbagai kebudayaan, sering digambarkan seperti seekor ular besar atau kadal bersayap yang memiliki beberapa kepala dan dapat menghembuskan nafas api.

Kisah tentang naga, telah ada selama ribuan tahun. Dongeng tentangnya dikenal di banyak budaya. Ia muncul dalam mitologi di Amerika, Eropa, India, dan Tiongkok. Tak jelas kapan kisah ini pertama kali muncul. Laman Livescience menulis, paling tidak naga yang paling tua bisa dirunut sampai awal masa Yunani dan Sumeria Kuno

Kata Dragon dalam bahasa Inggris asalnya dari bahasa Yunani Kuno, draconta artinya “untuk mengawasi”. Maksudnya, binatang buas itu biasanya menjaga harta karun, gunungan koin atau emas. Pada masyarakat Eropa saat itu, keberadaan naga dianggap benar adanya.

"Kemungkinan besar orang Kristen pada saat itu percaya pada keberadaan Naga secara literal,” tulis laman Livescience.

Hal berbeda dengan kebudayaan naga dalam masyarakat Tiongkok. Sebagaimana disebut laman Livescience, naga disana disebut dengan Lóng, ia adalah makhluk yang hidup di lautan, danau, sungai, dan bahkan hujan.

Mereka dipuja sebagai simbol yang memberi kehidupan dari keberuntungan dan kesuburan, yang mampu melepaskan hujan di musim kemarau.

Belajar Menjaga Amanah Leluhur di Kampung Naga

"Mereka digambarkan sebagai hewan yang punya tubuh ular, sisik ikan, cakar elang, tanduk rusa, dan wajah Qilin--makhluk suci dalam legenda Tiongkok,” tulisnya.

Di Indonesia, kisah naga yang diwakili oleh Tradisi Hindu maupun Buddha lebih mengenal naga sebagai hewan mistis. Kata naga yang dipakai di Indonesia asalnya dari bahasa Sanskerta, arti harfiahnya ular.

Khususnya di Jawa, naga lebih merujuk pada dewa ular. Dalam budaya Jawa Kuno, naga pun sering dihubungkan dengan air dan kesuburan.

"Di Borobudur, mereka digambarkan dalam bentuk manusia, namun di tempat lain mereka akan muncul dalam bentuk asli sebagai hewan," tulis John Miksic dalam ''Borobudur: Golden Tales of the Buddhas'' yang dikutip dari Historia.

Di Jawa ada banyak kisah tentang naga. Yang muncul dalam pahatan di candi misalnya, biasanya dihubungkan dengan air amrta atau air kehidupan dalam kisah Samudramanthana. Salah satunya adalah legenda raja Naga Vasuki atau Basuki

Raja Naga Basuki, ular Dewa Siwa sebagai penyangga Bumi

Dalam beberapa mitologi, naga juga dianggap memiliki kekuatan setengah dewa, sebagai penyangga bumi. Misalnya ular-naga Anantabhoga, ular Sesa, ular Basuki.

Pada arsitektur Jawa Kuno, naga ditemukan pada era kerajaan-kerajaan Jawa Timur, dari abad ke-10 sampai 16. Yang tertua ada di petirtaan Jalatunda di lereng Gunung Penanggungan. Tampak seekor naga melilit di bagian bawah lingga-lingga semu yang ada di kolam pusa.

Menurut Hariani Santiko dalam "Ragam Hias Ular-Naga di Tempat Sakral Periode Jawa Timur", yang terbit di Jurnal Amerta, itu adalah penggambaran adegan pengadukan Lautan Susu. Naga digambarkan seperti Naga Basuki yang melilitkan tubuhnya pada Gunung Mandara.

Naga Basuki adalah raja ular dalam mitologi Hindu. Dia digambarkan memiliki permata bernama Nagamani di kepalanya. Basuki adalah ular milik Dewa Siwa yang dikalungkan di lehernya. Di India, Basuki digambarkan sebagai ular kobra yang kepalanya mengembang seperti siap menyerang.

Kampung Naga di Dasar Lembah, Ada Naganya?

Ia dikenal juga dalam mitologi Cina dan Jepang sebagai salah satu dari “delapan Raja Naga Agung” di antara Nanda (Nagaraja), Upananda, Sagara (Shakara), Takshaka , Balavan, Anavatapta dan Utpala. Di beberapa negara, Naga Raja disebut Bada Longwang China dan Hachidai Ryu di Jepang.

Di Bali, Naga Basuki merupakan tokoh Mitologi kepercayaan Hindu dalam kisah asal usul Selat Bali. Dikisahkan Naga Basuki yang berdiam di Gunung Agung menolong seorang pendeta bernama Begawan Sidhi Mantri.

Konon dalam sebuah cerita ketika Pulau Bali dan Pulau Jawa masih bersatu, hiduplah seorang Maharsi yang bernama Bagawan Sidhi Mantra. Beliau memiliki seorang anak yang gemar berjudi bernama Manik Angkeran. Karena gemar berjudi, Manik Angkeran terlilit oleh hutang yang banyak.

Sang pendeta pun merasa kasihan kepada anaknya. Tapi apa lacur, setelah di tolong, bukannya kapok Manik Angkeran makin menjadi jadi. Ia bertaruh dengan taruhan yang besar dan ia kembali kalah. Ayahnya, Begawan Sidhi Mantra pun enggan menolongnya lagi.

Diam–diam Manik Angkeran mengambil Genta (lonceng) sakti milik Begawan Sidhi Mantra, dan dipakai untuk memanggil Naga Basuki di Gunung Agung. Sampai di sana, setelah berhasil memanggilnya keluar dari tempat bersemayamnya, Naga Basuki pun memberikan apa yang diinginkan Manik Angkeran.

Karena sifatnya yang serakah, Manik Angkeran memotong ujung ekor Naga Basuki yang berhiaskan berlian serta batu-batu mulia.

Murka, Naga Basuki membakar Manir Angkeran hingga mati. Begawan Sidhi Mantra merasa sedih dan memohon kepada Naga Basuki untuk menghidupkan kembali anaknya dengan imbalan, sang begawan akan membantu Naga Basuki menyatukan kembali ekornya.

Setelah Manik Angkeran hidup kembali, Begawan Sidhi Mantra pun meninggalkan anaknya di daerah Bali dan memotong akses ke Jawa dengan cara menenggelamkan sebagian area antara Jawa dan Bali.

Orang-orang kemudian menyebut selat itu sebagai Selat Bali. Tempat Naga Basuki menurut kepercayaan masyarakat Bali terletak di Pura Goa Raja, Kompleks Pura Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali.

Pura Goa Raja tempat Naga Basuki seimbangkan alam

Pura Goa Raja yang berada di areal kawasan suci Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem, konon menjadi tempatnya bertemunya Mpu Bekung atau Dang Hyang Sidhi Mantra dengan Sanghyang Naga Raja atau Naga Basuki.

Lokasi pura Goa Raja berada sebelah selatan Pura Ulun Kulkul. Di pura ini terdapat sebuah sungai dan pada tebingnya ada sebuah goa besar, tetapi sekarang goa tersebut sudah tertimbun runtuhan tanah longsor saat Gunung Agung meletus.

Dalam ceritea tentang perjalanan Dang hyang Sidhi Mantra ke Besakih, disebutkan di dalam goa inilah beliau setiap hari-hari tertentu mempersembahkan haturan kepada Hyang Naga Basuki berupa empahan (susu), madu, dan telur.

Di sini juga dikisahkan terjadi peristiwa pemotongan ekor naga Basuki oleh putra Mpu Bekung, yakni Dang Hyang Bang Manik Angkeran.

Seperti dituturkan pangempon yang juga pemangku Pura Goa Raja, Gusti Mangku Varuna Kubayan Manik Mantra, Goa Raja telah ada sejak lama. Menurutnya, orang pada masa lampau menyebut lokasi goa itu sangat angker, wingit, dan tak satupun yang berani turun ke area sekitar.

Menurut cerita rakyat, dahulu kala goa itu tembus sampai ke Goa Lawah Klungkung. Itu diyakini saat ada upacara tabuh rah 'sabung ayam' di Goa Lawah. Dimana salah seekor ayam sabungan itu lari masuk ke Goa Lawah kemudian dikejar terus oleh pemiliknya dan akhirnya ia keluar di Pura Goa Raja Besakih

Selain itu, dipercaya Goa Raja terhubung sampai kepunden Gunung Agung. Hal itu pernah dibuktikan Gusti Mangku Varuna saat erupsi 2017 lalu. Saat itu, salah satu celah di sebelah kiri mulut goa mengeluarkan asap, meski asapnya tidak terlalu besar

Dongeng Rakyat: Asal Usul Selat Bali

Di dalam goa juga ada tiga arca naga, sebagai Sang Hyang Naga Ananta Boga, Sang Hyang Naga Basuki, dan Sang Hyang Naga Taksaka. Ketiga naga ini dianggap sebagai penjaga kestabilan alam semesta. Ketiganya memiliki fungsi menjaga tiga unsur, seperti inti bumi, air dan udara.

Pembangunan kompleks Pura Besakih memang disesuaikan dengan arah mata angin yang merupakan simbol keseimbangan alam. Pura yang berdiri di keempat arah mata angin itu disebut sebagai mandala, sementara satu mandala berada di tengah yang berfungsi sebagai poros yang disebut sebagai dewa penguasa atau Dewa Catur Lokapala. Jadi kelima mandala melambangkan Panca Dewat

Selain menjadi tempat pemujaan Ida Bhatara Naga Basuki, bagian utama dari area suci ini juga dipercaya bisa menjadi tempat memohon obat untuk melebur mala bahaya dan meminta keturunan

"Yang percaya sudah banyak, ada tamu dari Korea dan Tiongkok pernah datang ke Goa Raja. Mereka bahkan percaya di negaranya ada naga suci. Mereka sebut naga emas. Mereka mengakui kepercayaan mereka sama. Makannya pernah melakukan pemujaan, menyerahkan sarana berupa susu murni juga," beber Gusti Mangku Varuna.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini