Kamomose, Tradisi Warga Buton Mencari Jodoh dan Sambung Silaturahmi

Kamomose, Tradisi Warga Buton Mencari Jodoh dan Sambung Silaturahmi
info gambar utama

Warga Kabupaten Buton Tengah, Sulawesi Tenggara (Sultra), punya tradisi unik untuk mencari jodoh. Tradisi yang dikhusukan bagi muda-mudi yang measih menjomblo itu dikenal dengan Kamomose.

Biasanya, ratusan wanita muda dengan menggunakan pakaian adat akan duduk memanjang hingga sepanjang seratus meter. Di depan wanita muda tersebut terdapat sebuah baskom besar yang di dalamnya terdapat lilin.

Lalu, ratusan lelaki baik tua maupun muda berjalan mengelilingi wanita muda tersebut, mereka harus memiliki kacang tanah yang biasanya dijual oleh warga di sekitar tempat pelaksanaan kegiatan. Ketika sudah memiliki kacang tanah yang dibungkus kantung plastik, para pemuda mengantri dan berkeliling sambil melempar kacang tanah tersebut ke dalam baskom.

Pada tradisi ini, apabila para pemuda itu tertarik dengan salah satu gadis tersebut, mereka akan melemparkan satu butir kacang goreng ke baskom yang dibawa oleh para wanita tersebut. Setelah itu, akan ada rundingan dengan wanita tersebut dan pihak keluarganya untuk meminta persetujuan. Apabila proses lamaran disetujui, perkenalan singkat itu bisa ditingkatkan ke hubungan yang lebih serius.

Kampung Tenun "Warna-Warni" Sulaa, Daerah Pengrajin Kain Khas Buton

"Kamomose ini sebagai ajang untuk mencari jodoh. Biasanya di dalam ajang ini kalau didapat seseorang wanita, maka si lelaki memberitahukan kepada orangtuanya telah menemukan wanita yang disukainya," kata Adam, tokoh masyarakat Kecamatan Lakudo, mengutip Kompas.

Asiruddin, salah seorang pemuda yang ikut serta dalam tradisi ini mengatakan, dirinya sengaja mengikuti kegiatan ini bersama teman-temannya untuk mencari jodoh.

"Kali aja ada gadis peserta Kamomose yang bisa menjadi jodoh," katanya.

Tradisi mencari jodoh tersebut telah ada sejak lama dan biasanya dilaksanakan usai Idulfitri dan Iduladha. Selain itu, kegiatan ini dilaksanakan biasanya ketika seseorang mempunyai hajat. Setelah tercapainya hajatnya, ia akan melaksanakan tradisi Kamomose.

Lokasi pelaksanaanya pun ditempatkan di tanah lapang atau di halaman rumah warga yang memiliki hajatan. Sayangnya, tahun ini acara cari jodoh ini ditiadakan karena pandemi Covid-19.

"Untuk tahun ini kayaknya tidak ada karena Corona," terang Usman, Camat Lakudo.

Usman mengatakan tradisi ini sengaja digelar usai lebaran karena saat itu banyak perantau yang mudik. Sehingga selain merayakan kemenangan dan bersilaturahmi, juga sekaligus diberikan kesempatan untuk mencari pasangan hidup.

Namun d isisi lain, Usman mengakui jika tradisi Kamomose yang terselenggara saat ini sudah mengalami pergeseran dari tradisi yang dilakukan orang tua terdahulu. Evan, salah satu warga melihat acara ini juga bisa meningkatkan gairah ekonomi warga sekitar, karena banyaknya pengunjung selama pelaksanaan Kamomose itu.

Dirinya berharap pandemi Covid-19 ini dapat segera berlalu, sehingga acara tahunan ini dapat segera terselenggara.

Tradisi Kamomose yang dijaga turun temurun

Tradisi Kamomose pada masyarakat Lakudo merupakan warisan leluhur mereka yang masih hidup dan terus dilaksanakan secara turun temurun hingga saat ini. Hal ini dimaksudkan agar nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan senantiasa di wariskan hingga turun temurun.

Kamomose yang diadakan malam hari termasuk permainan yang unik serta menarik di kalangan masyarakat. Karena melibatkan seluruh kalangan dalam masyarakat tersebut tanpa memandang kasta sosial. Komomose juga menjadi ajang untuk memperkenalkan kepada masyarakat akan kesiapan dari peserta dalam hal ini kesiapan untuk dipinang.

Kamomose berasal dari kata "Komomo" yang artinya bunga yang hampir mekar, dan kata "Poose-ose" yang artinya berjejer secara teratur. Sehingga Komomose diartikan sebuah tradisi untuk para gadis yang menginjak usia remaja duduk berjajar, yang kemudian dikenakan kepada para pemuda.

Siapa Sangka, Ternyata di Indonesia Terdapat Masyarakat Bermata Biru Di Pulau Ini

Tradisi ini awal mulanya hanya dilaksanakan di suatu tempat yang bernama Galampa atau tempat pertemuan. Tradisi ini dilaksanakan beriringan dengan acara pesta perayaan adat karya. Dalam tradisi ini, para pesertanya berasal dari gadis yang telah dipinggit atau kaombo yang disebut kamoose.

"Gadis-gadis yang sudah remaja itu akan dikenakan pakaian adat (pakaian Kamoose) kemudian mereka berjejer, biasanya bisa 20-30 orang. Selain itu para pemuda datang dan mencari-cari siapa yang menarik perhatiannya," jelas Usman.

Sebelumnya para pihak keluarga yang memiliki hajatan melakukan musyawarah. Musyawarah ini dilakukan untuk menentukan dan memutuskan siapa saja yang akan diajak dalam pelaksanaan tradisi tersebut. Pada umumnya, peserta Kamomose adalah para gadis yang berusia 7-15 tahun dan mereka didampingi oleh para gadis yang berusia 16-20 tahun.

"Ini dimaksudkan agar peserta kamomoose diundang tiga hari sebelum peaksanaanya, sehingga mereka bisa mempersiapkan diri. Dan anak-anak tersebut memilih siapa yang akan menjadi teman duduknya, dan pesertanya tergantung dari orang yang melaksanakan acara tersebut," paparnya.

Kegiatan Kamomose diawali dengan pemukulan gong sebagai syarat bahwa acara akan dimulai. Para pembesar negeri, tokoh masyarakat, adat, serta para undangan termasuk tuan rumah akan memasuki area permainan.

"Alat-alat yang perlu dipersiapkan oleh pihak penyelengara dalam kegiatan tradisi Kamomose adalah gendang, kacang, dan balok panjang, sebagai tempat duduk para peserta. Selain itu penyelenggara harus mengundang para penabuh gendang untuk mengiringi pelaksanaan tersebut, dikarenakan tanpa adanya musik kegiatan tersebut tidak dapat dilaksanakan," jelas Usman.

Selain kacang, biasanya pemuda juga dapat melemparkan uang, minuman dingin, atau benda berharga lainnya. Para peserta juga akan berjejer menghadap baskom yang diatasnya terdapat penerang seperti lilin yang disebut Sulutakhu. Warga percaya bahwa pemuda yang berhasil memadamkan lilin tersebut adalah jodohnya.

"Kalau sang pemuda telah menemukan gadis pujaannya dan ingin melanjutkannya ke tahap yang lebih serius, maka dia harus bertemu orang tua gadis itu dan mengutarakan tujuanya, Biasanya akan dilanjutkan dengan pertunangan atau perjodohan," tambahnya.

Nilai-nilai dalam tradisi kamomose

Masyarakat Lakudo juga menyakini bahwa tradisi kamomoose memiliki nilai-nilai Islam di dalam pelaksanaanya. Adapun nilai-nilai itu adalah Pande-pandeaow, Adati, Nokalambemo.

Pande-pandeaow dalam bahasa Lakudo berarti saling mengenal antara satu dengan yang lain. Dalam pelaksaan tradisi Kamomose biasanya dihadiri oleh peserta dari seluruh daerah Lakudo, baik yang menetap atau mereka yang melakukan mudik dari berbagai daerah Indonesia.

Perkenalan yang dilakukan oleh masyarakat Lakudo untuk memperat kembali tali persaudaraan di antara mereka yang terpisah lama. Perkenalan yang dibangun oleh beberapa keluarga untuk membangun kembali kebersamaan dan meningkatkan kembali persaudaraan diantara mereka.

Adati yang berarti etika, lazim dipahami sebagai suatu pengetahuan untuk menentukan apa yang baik dan yang buruk bagi prilaku manusia. Dalam tradisi ini mengajarkan kepada masyarakat bahwa manusia tidak dapat hidup sendirian.

Ternyata Ada Tempat di Indonesia yang Tidak Pernah Dijajah Belanda

Pelaksanaan tradisi mengisyaratkan agar setiap individu bisa hidup berdampingan dengan orang lain, yang pada intinya bisa membentuk tingkah laku yang baik dalam masyarakat. Juga bisa menjadi pembentuk kepribadian sopan santun, karena anak akan diawasi oleh orang dewasa sebagai pembimbing dan pelindung dalam pelaksanaan tradisi.

Nokalambemo dalam tradisi ini berarti gadis remaja yang sudah siap melakukan pernikahan. Saat tradisi itu mereka akan dikelilingi oleh para pemuda yang akan menaburkan kacang yang cukup banyak kepada para gadis.

Pihak keluarga nantinya akan memperhatikan gerak gerik para pemuda tersebut. Perkenalan pertama antara gadis dan pemuda yang dicintainya terjadi lewat pandangan pertama yang diwujudkan dengan menaburkan kacang ke tempat yang dimiiki oleh sang pujaan hati.

Mengandung kearifan lokal dan nilai-nilai, membuat Pemerintah Kabupaten Buton gencar mempromosikan Komomose untuk menggaet wisatawan. Selain itu langkah ini dilakukan juga untuk menggali kearifan lokal guna mengembangkan pariwisata budaya di kabupaten tersebut.

"Saat ini kami sedang mempromosikan tarian "Kamomose". Tradisi menacari jodoh bagi kaum muda mudi di Buton pada masa lampau," kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Buton Tengah, Lukman pada 2015 lalu.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini