Lezatnya Bubur Gunting dan Chai Kue, Jajanan Unik Khas Singkawang

Lezatnya Bubur Gunting dan Chai Kue, Jajanan Unik Khas Singkawang
info gambar utama

Kota Singkawang di Kalimantan Barat selama ini dikenal sebagai Kota Seribu Kuil dan jadi salah satu tujuan wisata saat Festival Cap Go Meh, perayaan hari ke-15 pasca Imlek. Kota yang terletak sekitar 145 km di sebelah utara Pontianak ini penduduknya mayoritas Melayu, Tionghoa, dan Dayak.

Tak hanya terkenal dengan berbagai objek wisata, budaya, dan kerukunan antar umat beragamanya, Singkawang juga merupakan surga kuliner lezat. Di sana, banyak ditemukan kuliner bernuansa oriental dengan perpaduan citarasa lokal.

Di antaranya ada bubur gunting dan chai kue yang jadi jajanan primadona. Seperti apa dua hidangan ini? Berikut penjelasannya:

Bubur gunting

Berbeda jauh dari bubur ayam, bubur Manado, atau bubur sumsum, di Singkawang ada makanan bernama bubur gunting. Hidangan ini terbilang unik karena tak seperti bubur pada umumnya. Bubur gunting terdiri dari potongan cakwe yang disajikan dalam mangkuk kecil dan disiriam dengan kuah kental berisi kacang hijau.

Bubur gunting merupakan makanan yang sudah turun-temurun dari warga keturunan Tionghoa yang bermukim di Singkawang. Namanya juga sering disebut liuk theu san, yang artinya bubur kacang hijau serasa intan.

Kuah bubur gunting yang khas berasal dari rendaman biji kedelai atau kacang hijau yang kulitnya telah dikupas, dicampur dengan tepung kanji, air, daun pandan, dan gula. Setelah diolah, kuah menjadi kental dan berwarna bening. Saat disajikan, cakwe biasanya dipotong kecil-kecil dengan gunting. Rasanya manis dan ada sedikit asin dari cakwe, hidangan ini lebih nikmat disantap saat hangat.

Tak sulit menemukan makanan ini di Singkawang. Sebab, banyak penjual bubur gunting di gerobak-gerobak ditemukan di seluruh penjuru kota. Harga makanan ini pun terbilang murah-meriah lho, seporsinya hanya berkisar Rp5 ribuan. Salah satu penjual bubur gunting yang terkenal di Singkawang ialah Bubur Gunting Asun yang berlokasi di Jalan P. Antasari No.56, Pasiran.

Garang Asem, Hidangan Ayam Asam Pedas dari Grobogan

Chai kue

Chai kue | @Puspa Mawarni168 Shutterstock
info gambar

Biasanya kue lebih identik dengan makanan manis, seperti bolu, pukis, putu mayang, kue lapis, kue lumpur, atau kue pancong. Namun, di Singkawang, Kalimantan Barat, justru ada kue asin yang isiannya adalah sayuran.

Namanya chai kue atau biasa juga disebut choi pan. Kata chai kue sendiri berasal dari bahasa Tiongkok, yang artinya kue sayuran.

Bila dilihat dari tampilannya, chai kue agak mirip dengan pastel ukuran mini dengan tekstur serupa dumpling. Pada dasarnya, chai kue adalah kue asin kukus yang kulitnya terbuat dari tepung beras dan diisi sayur, kemudian diberi taburan bawang goreng renyah di bagian atas.

Untuk membuat chai kue, adonan tepung beras dibentuk bulat-bulat lalu dipipihkan. Kemudian diisi dengan irisan kucai, bengkuang, talas rebung, dan daun bawang. Setelah itu, kulit adonan dilipat dua setengah lingkaran, seperti membuat pastel. Untuk memasaknya, tinggal ditata di atas kukusan dan dikukus hingga matang.

Selain sayur, sebenarnya chai kue bisa diisi sesuai selera, bisa daging sapi, ayam, udang, dan ebi. Malah, ada juga chai kue yang tidak dikukus, melainkan dipanggang atau digoreng.

Kupat Jembut, Kuliner Khas Semarang yang Diperebutkan Anak-anak

Setelah matang, adonan chai kue tampak bening dan kenyal, bagian isinya cukup renyah dan rasanya gurih. Paling enak makan chai kue dengan cocolan saus sambal yang rasanya asam-pedas. Karena ukurannya kecil, makan chai kue tak cukup hanya satu. Biasanya seporsi chai kue dijual per 10 buah dengan harga satuan sekitar Rp1-2 ribu saja.

Umumnya, chai kue dibuat dadakan saat ada yang membeli agar masih hangat saat disantap. Ini karena bahannya sederhana dan membuatnya pun mudah. Namun, banyak juga chai kue yang sudah matang dan bisa langsung disantap.

Di Singkawang, ada satu tempat makan chai kue yang terkenal, yaitu Rumah Marga Tjia yang didirikan oleh Thjia Hiap Seng pada tahun 1902. Rumah yang jadi cagar budaya kota Singkawang ini menerima kunjungan tamu yang ingin mencoba kelezatan chai kue buatan keluarga Tjhia.

Nama Rumah Marga Tjia pun makin tersohor setelah jadi salah satu lokasi syuting film bertema kuliner “Aruna dan Lidahnya.”

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini