Ketupat dengan Nama Unik Ini Kerap Diperebutkan Anak-anak Jelang Lebaran

Ketupat dengan Nama Unik Ini Kerap Diperebutkan Anak-anak Jelang Lebaran
info gambar utama

Pada perayaan syawalan--perayaan di bulan Syawal menurut kalender Islam, sejumlah daerah memiliki beberapa tradisi berbagi makanan, salah satunya adalah ketupat. Memang perayaan syawalan ini dikenal juga dengan nama lebaran ketupat (kupat dalam bahasa Jawa). Hal yang unik, di Semarang terdapat sebuah tradisi syawalan yang disebut tradisi Kupat ini.

Meski namanya terkesan vulgar, namun yang satu ini jauh dari kesan porno, bahkan anak-anak Kampung Jaten Cilik dan Pedurungan sangat menantinya. Kupat ini hadir biasanya untuk memeriahkan syawalan. Diawali dengan pesta petasan sejak selepas salat subuh, bocah-bocah kampung biasanya langsung keluar rumah dan berebut ketupat berisi sayuran ini.

Menurut Alim, salah satu bocah, ketupat jenis ini berbeda dengan ketupat lebaran. Rasanya lebih enak karena sudah diberi bumbu saat memasak.

"Enggak usah pakai kuah, krecek, opor. Ini kan udah ada sayuranya," kata Alim, bocah 9 tahun dalam Liputan6.

Mengutip buku Kuliner Semarangan Menikmati Rasa di Sepanjang Pesisir Utara Jawa, Mencecap Lezatnya Kekayaan Cita Rasanya, karya Murdijiati Gardjito, Murulia Nur Utami, dan Chairunisa Chayatinufus, kupat ini merupakan ketupat yang dimasak dengan aneka sayuran sehingga permukaannya tidak halus seperti ketupat atau kupat pada umumnya.

"Kupat ini dibuat selama bulan puasa, dalam periode tertentu orang kehabisan barang untuk merayakan lebaran, tapi biar tidak kelewatan perayaan maka ada ide untuk makan ketupat, ada ide untuk makanan sederhana. Mereka menambahkan taoge rebus, kubis rebus, dan parutan kelapa yang diparut dan diberi bumbu dan dikukus," ungkap Murdijati Gardjito, pemerhati kuliner Indonesia, pada CNN Indonesia.

Lebaran Ketupat, Tradisi Syawalan dan Mitos Hidangan untuk Anak yang Meninggal

"Kupat ini dibuat dari bungkus daun kelapa muda (janur) atau di Semarang itu dari daun bambu muda. Ketupat kan bentuknya segi empat lalu dibelah diagonal tapi enggak putus. Lalu di dalamnya disisipkan taoge dimasukkan ke situ jadi tampilannya seperti organ kelamin perempuan," tambah sosok yang juga Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada.

Awalnya, isi dari ketupat hanyalah taoge, karena saat awal tradisi ini dimulai warga hanya punya taoge untuk jadi isi ketupat. Dalam perkembangannya kubis (kol) dan sambal kelapa pun ditambahkan. Karena di dalamnya sudah ada sayur dan bumbu, kupat ini ini sudah terasa lezat meski tak ditambahkan opor ayam atau sayur bersantan lainnya.

Ketupat ini tambah nikmat bila disantap dengan lalapan sayuran atau urap. Sampai saat ini, antusiasme warga yang melestarikan tradisi syawalan itu masih tinggi. Bahkan, sebelum virus Covid-19 melanda, acara ini dilakukan dengan cara berebut dan pesta petasan setelah subuh.

"Karena pandemi ini kami sesuaikan dengan membagikan ke anak-anak, setiap rumah yang tidak membuat kupat ini akan didatangi bergiliran," ucap Ketua RW 1 Kelurahan Pedurungan Tengah, Wasi Darono, yang dikutip dari Tribun Jateng.

Dirinya menjelaskan, tradisi itu memang dilakukan orang dewasa dan diperuntukan untuk anak-anak sebagai simbol meneruskan tradisi ke generasi yang lebih muda. Selain mendapatkan kupat ini, anak-anak ini juga menerima uang fitrah dari mulai Rp80-100 ribu.

Rupanya tradisi kupat ini tidak hanya dilakukan oleh Kampung Pedurungan Tengah saja, masyarakat di sejumlah titik di Kampung Jaten Cilik juga menggelar kegiatan serupa. Namun, karena Kampung Jaten Cilik lebih religius, sehingga sebutan kupat taoge lebih digunakan daripada kupat ini yang terdengar vulgar.

Makanan yang lahir dari kesederhanaan

Salah seorang sesepuh kampung, Juwiarti (79), menjelaskan betapa panjang sejarah kupat ini di kampungnya. Dia adalah generasi paling lama di kampung tersebut dan tidak ada lagi kawan seangkatan yang tersisa.

"Tradisi ini sudah ada sejak saya kecil," ujar wanita yang tinggal di Kelurahan Pedurungan Tengah ini, melansir Ayosemarang (20/3/2021).

Menurut Ketua Takmir Masjid Rudhotul Muttaqiin, Masroni, tradisi syawalan kupat ini telah berlangsung sejak sekitar tahun 1950-an.

"Tradisi ini merupakan simbol kesederhanaan karena dilakukan saat warga usai perang, ingin memperingati lebaran dengan bahan makanan sederhana ketupat diisi taoge sebagai bentuk keprihatinan," katanya, menukili Gatra.

"Orang-orang menyebutnya begitu karena bentuknya memang seperti rambut," tambahnya.

Selain itu, ada versi lain yang mengatakan kuliner ini dicetuskan oleh Nyai Sutimah dan Kiai Samin yang merupakan warga asli Demak. Mereka adalah satu dari lima keluarga pertama yang menduduki kampung Jaten Cilik. Kedatangan mereka ke wilayah itu untuk mengungsi karena serangan sekutu.

Baru! Ziarah Syawalan Hadir Sebagai Wisata Religi di Semarang

Saat itu, masyarakat hidup dalam kesederhanaan. Namun, tetap ingin mengungkapkan rasa syukur setelah melewati bulan Ramadan, maka digelar syukuran sepekan setelah Idul Fitri atau syawalan dengan membagikan kupat tauge tanpa opor.

"Jadi tradisi ini simbol kesederhanaan. Adanya cuma taoge, kelapa, dan lombok, tidak ada opor ayam. Istilahnya lebaran cilik atau syawalan ini tidak harus dengan opor ayam," terang Munawir, tokoh masyarakat Kampung Jaten Cilik.

Dalam perkembanganya, ada Tunjangan Hari Raya (THR) untuk anak-anak yang diselipkan ke dalam ketupat ini. Ketupat ini pun dibagikan ke anak-anak dan mereka akan berebut untuk mendapatkannya. Tradisi menyisipkan uang dalam kupat ini ini dimulai sejak tahun 2000.

Tradisi tersebut memang dilakukan orang dewasa dan diperuntukan untuk anak-anak, sehingga orang dewasa menyiapkan ketupat untuk dibagikan kepada generasi yang lebih muda atau anak-anak.

"Dulu orang tua hanya berpesan jangan tinggalkan ketupat ini sebagai tradisi," ungkap Juwiarti.

Sulitnya mencari generasi penerus

Warga Pedurungan saat syawalan membawa ketupat ini ke musala dan masjid. Warga berdoa bersama dengan harapan kesehatan dan keselamatan bagi masyarakat di Pedurungan.

"Saya tahu tradisi itu 1948. Saya lahir tahun 1942. Sampai sekarang masih bisa bertahan dan harapan semoga tradisi ini terus berjalan," harap Juwiarti.

Memang pada sisi lain, dirinya khawatir tradisi membuat ketupat ini hilang. Pasalnya generasi tua banyak yang sudah meninggal. Kini di wilayahnya hanya ada tiga orang yang bisa membuat ketupat ini.

"Generasi sekarang sering nggampangke. Mereka bilang nanti gampang bisa ganti uang. Saya pesan jangan tinggalkan tradisi ini," katanya.

Intip Kota-Kota Bersejarah di Indonesia, Opsi Wisata Terbaik (Bagian 1)

Ia mengaku sampai saat ini belum ada generasi penerus yang dapat meneruskan keahliannya membuat ketupat ini. Bahkan anak dan cucunya belum ada yang berminat meneruskan keahlian tersebut.

Juwarti masih ingat betul pesan orang tua terdahulu yang berpesan jangan meninggalkan tradisi tersebut. Karena menurutnya, ketupat ini tak hanya sekedar makanan namun juga tradisi yang mempunyai makna mendalam.

"Artinya itu perjuangan siap saling memaafkan dan juga silaturahmi. Itulah arti yang ada di ketupat ini dengan harapan warga Pedurungan bisa sehat dan aman semua," imbuhnya.

Untuk perayaan tahun ini, dia hanya membuat 80 ketupat ini. Hal itu disebabkan karena dia sudah tidak sanggup untuk memproduksi dengan jumlah yang lebih banyak lagi. Padahal biasanya dia juga sempat mendapat pesanan. Namun belakangan dikarenakan pandemi, belum ada lagi yang meminta.

"Semoga masih ada yang mau belajar dan meneruskan," pungkasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
DA
MI
AH
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini